Keajaiban Yang Datang Melalui Doa Anak Yatim

1
8252
ugd

Oleh : Rina Perangin-Angin 
(True Story)

Ramadhan 2009

Saat itu usiaku baru 12 tahun, kelas 1 SMP. Di hari pertama menjalani puasa Ramadhan, tidak seperti kebanyakan masyarakat yang senang menyambut datangnya Ramadhan, tetapi  keluargaku justru tertimpa musibah. Bang Sajdah, abang pertama ku mengalami kecelakaan. Salah seorang temannya mengabari kerumah. Aku dan Ibuku yang kebetulan hanya berdua di rumah langsung ke rumah sakit.  Selama perjalanan, ku lihat mulut Ibuku tak henti membacakan doa. Ada genangan air di ujung matanya. Setengah jam kemudian, kami telah sampai di rumah sakit. Berjalan cepat menuju ruang UGD. Untung bertemu dengan Bang Irvan, temannya Bang Sajdah yang memberi kami kabar tadi. Bang irvan bilang, Abangku masih ditangani. Lalu dia menceritakan kronologis kejadian. Menurut keterangan saksi mata, Bang Sajdah membawa motor lalu dari arah berlawanan ditabrak dengan motor lain. Bang Sajdah jatuh ke tengah pasar lalu kemudian ada mobil pick up yang datang dan menyeretnya hingga beberapa puluh meter. Kondisi motornya sendiri nyaris tak berbentuk lagi. Bagian depannya habis, bannya juga lepas. Mendengar penjelasan itu, Ibu terus beristighfar dan sesaat kemudian pingsan. Mungkin Ibu tak mampu membayangkan bagaimana parahnya kondisi Bang Sajdah.

Sejam kemudian, dokter yang menangani Bang Sajdah keluar. Buru-buru ku tanya bagaimana kondisi Bang Sajdah. Raut wajah dokter sangat tak bersahaja. Seketika pikiran buruk langsung datang. Bayangan kematian muncul tanpa diundang. Semua kenangan manis bersama Bang Sajdah juga hadir. Aku ingat bagaimana Bang Sajdah begitu menyayangiku. Dia seperti Sosok Ayah bagiku. Mungkin karena perbedaan usia kami yang terpaut 10 tahun, jadi dia bersikap sangat dewasa. Semua yang kubutuhkan selalu disediakan. Aku juga ingat saat pertama masuk sekolah, dia mengantarkan dan menungguku hingga pulang. Membantuku mengerjakan pr, menemaniku bermain. Semua tentangnya. Aku tak ingin terjadi apa-apa padanya. Tapi raut wajah dokter itu… aku takut. Sungguh takut. Ditambah lagi Ibuku pun belum sadar pasca pingsan sejam yang lalu.

Dengan sisa-sisa keberanian yang ku punya, ku tanyakan sekali lagi kepada dokter. Dalam hati terus berdoa semoga Allah memberi yang terbaik. Dokter bilang wajah Abangku rusak., gusinya terbelah dua, kakinya patah, dan ada benda tajam yang mengenai matanya. Sampai detik itu dokter belum bisa memberi  kepastian bagaimana kondisi Bang Sajdah. Astaghfirullah. Dunia seakan runtuh tepat diatasa kepalaku. Bagaimana ini terjadi.? Bagaimana aku bisa memberi tahukan ini pada Ibu? Dan bagaimana Ibu bisa menerimanya? Aku terdiam beberapa saat sampai Bang Irvan datang menghiburku. Kata bang Irvan aku harus kuat, aku tak boleh menangis. Sebab bila aku menangis , Ibu akan semakin terpukul.

Kutarik napas dalam-dalam. Aku izin kemesjid buat sholat pada Bang Irvan. Saat itu aku nggak ingat jam brapa, dan entah solat apa yang ku lakukan. Aku hanya ingin solat, mengadukan semuanya pada Allah. Sesampai dimushola, aku solat, dua rakaat  lalu salam, solat lagi, lalu salam, solat lagi dan begitu seterusnya sampai lututku terasa mau lepas. Sampai aku seperti kehilangan kekuatanku untuk berdiri. Setelah itu , baru aku berdoa. Sesungguhnya aku pun tak tau apa yang ingin ku katakana pada Allah. Semua terasa mengumpul dikepala, campur aduk, sampai tak bisa kulampiaskan. Akhirnya, aku hanya mampu bilang “ Sembuhkan Bang Sajdah. Sembuhkan Bang Sajdah. Aku nggak siap kehilangannya sekarang. Dan ku tau Ibu pun tak siap. Ku mohon ya Rabb, berikan keajaibanmu, sembuhkan Abangku”, hanya kalimat-kalimat itu yang terus ku ulangi . entah berapa kali hingga ada suara azan dan orang-orang mulai datang. Selesai solat subuh, aku berdoa lagi. Kalimatnya masih sama.

Kira-kira sejam aku solat. Aku merasa lebih baik. Kulangkahkan kakiku menuju UGD. Ku lihat ibu telah duduk di depan ruangan tempat Bang Sajdah dirawat. Wajah Ibu sangat pucat. Ibu masih membaca doa-doa dengan khusuk, tanganya terus memegang tasbih.

“Bang Sajdah kritis dek” kata Ibu begitu melihat kejhadiranku. Mungkin Ibu berpikir Aku belum tau kondisi Bang Sajdah. Aku mengangguk, memberi Ibu kesempatan untuk berbicara. Dalam kondisi seperti ini, Ibu harus banyak berbicara agar sakit dihatinya bisa berkurang. Air mata Ibu tmulai mengalir lagi. Aku paham. Bila aku saja sesedih ini, lalu kesedihan yang bagaimana lagi yang dirasakan Ibu, wanita yang menghabiskan separuh hidupnya hanya untuk merawat kami. Pasti sangat sakit. Wajar jika Ibu seperti kehilangan semangat hidupnya

Tak lama kemudian, dokter memberi kabar lagi. Katanya hasil ronsen telah keluar dan ada beberapa retakan ditulang punggung Bang Sajdah yang menyebabkan terjepitnya saraf yang terhubung langsung ke saraf mata. Harus dilakukan operasi siang ini juga jika tidak, Bang Sajdah bisa mengalami kebutaan. Astaghfirulah. Begitu berat cobaanmu Bang. Sakit seperti apa yang engkau rasakan sekarang? Tanyaku sambil terus beristighfar

Hari itu, tepat sehari Bang Sajdah dirawat. Bang Tanta, Abang keduaku akhirnya datang dari perantauannya. Aku tak menyangka dia akan pulang secepat ini dan dengan cara yang menyakitkan. Aku ingat, sebelum Bang Tanta memutuskan untuk pergi sekolah keluar kota, dia bilang dia akan pulang membawa toga wisuda. Itu janjinya. Tapi takdir berkata lain. Dia harus pulang karena kondisi yang seperti ini.

Begitu Bang Tanta sampai, dia memeluk Ibu.

“ Kita harus sabar. Ini cobaan. Tapi bisa juga teguran Bu. Mungkin Allah ingin kita lebih dekat padaNya. Allah ingin kita menangis dihadapanNya. Bersabarlah Bu. Semua akan baik-baik saja.mungkin kita kurang sedekah ke panti. Ibu pasti ingat bahwa sedekah apalagi ke anak yatim sangatlah penting. Bahkan 2,5% dari penghasilan kita adalah miliki fakir miskin. Dan selama ini, dengan alasan butuh biaya banyak buat sekolah, kita tak mengeluarkan itu Bu. Wajar bila Allah akhirnya mengingatkan kita dengan cara seperti ini” Kata Bang Tanta menghibur Ibu

Aku mencoba mencerna ucapan Bang Tanta. Ada benarnya, selama ini kami kurang bersedakah, kurang bersilahturahmi dengan anak yatim juga. Padahal disekitar rumah kami ada beberapa panti asuhan.

Dengan uang yang tersisa lalu ditambah tabungan Bang Tanta yang selama ini kuliah sambil bekerja, kami sepakat untuk memberi makan anak yatim lalu membawa mereka ke rumah sakit untuk mendoakan kesembuhan Bang Sajdah. Walau hanya dapat izin diteras, Alhamdulillah setidaknya tak dilarang pihak rumah sakit. Sekitar 40an anak yatim datang. Lalu mulai membaca ayat alquran. Ibu juga ikut.sedangkan Bang Tanta berdiri mondar mandir di depan ruang operasi.

Sejam berlalu, anak yatim telah selesai membaca Al-quran  lalu disambung dengan doa yang begitu panjang yang dipimpin seorang ustad pengasuh panti tersebut. Aku tak tau apa yang sedaang terjadi pada Bang Sajdah, apakah operasinya lancar, atau a… astaghfirullah. Ku usir semua pikiran negative. “ Bismillah, Allah sesuai parasangka hambanya. Allah nggak akan mengecawakan hambanya” ucapku dalam  hati.

Sepuluh menit berlalu, doa nya tampak hampir selesai. Tapi aku tak mau doa itu selesai. Aku ingat, guru agamaku pernah bilang bahwa semakin banyak yang berdoa akan semakin cepat dikabulkan. Apalagi bila yang mendoakan adalah anak yatim. In sya allah akan langsung menembus langit. Karena itu aku tak rela bila ustadz tersebut menyudahi doanya. Kusatukan kedua tanganku dan kutaruh tepat di depan ddaguku. Ku memohon untuk terus berdoa, setidaknya sampai operasi itu selesai. Dan alhamdulillah ustadnya mengiyakan. Mereka tetap berdoa.Beberapa orang yang lewat terlihat sinis bahkan ada yang menertawakanku. Tapi aku tak peduli. Asal Bang Sajdah selamat, akan ku lakukan mesti harus terlihat seperti orang stress.

Dari arah kejauhan kulihat Bang Tanta berjalan bersama seorang dokter. Dokternya berbeda dengan dokter yang kutemui semalam. Tapi, tak penting itu siapa. Yang penting kabar yang dibawanya.
“ Siapa keluarga dari Sajdah” tanya dokter itu
“ Kami” jawab ustad yang memimpin doa tadi. Aku senang, itu artinya ustad tersebut juga peduli.

“ Alhamdulillah, sebenarnya sulit di percaya tapi mungkin ini mukjizat, operasinya sukses, walau tadi sempat mengalami kesulitan karena kekurangan darah tapi salah seorang perawat yang magang menawarkan diri untuk jadi pendonor. Pasien sudah melewati masa kritisnya”

“ Alhamdulillah” ucapku bersamaan dengan anak-anak yatim yang ikut bersyukur.

Terkadang hal kecil sering kita abaikan. Padahal kita tak tau amalan yang mana yang kelak menolong kita. Seperti sedekah terlebih kepada anak yatim. Kita lupa bahwa salah satu doa yang langsung menembus langit adalah doa  tulus dari anak yatim. Dan ingatlah, bahwa dalam alquran juga allah telah bahas keutamaan menolong anak yatim. Seperti dalam surah Al-Maun, dimana orang yang tergolong mendustakan agama yaitu salah satunya yang menghardik anak yatim. Dan allah janjikan azab yang perih bagi yang melakukannya. Astaghfirullah. Semoga kitta tak termasuk didalamnya.