Karena Mati Tak Pernah Permisi

1
285
ustadz meninggal
Karena Mati Tak Pernah Permisi

Oleh : Pipit Era Martina

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, sebagai satu fitnah (ujian) dan hanya kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya : 35)

Kematian adalah waktu yang tak bisa terelakkan, datang tanpa permisi dan tak pasti kapan ia akan menghampiri. Hari inikah, esok atau lusa? Wallahu a’lam.

Kematian tidak selamanya menjadi suatu hal yang menakutkan, namun bisa saja suatu hal yang menggembirakan untuk menyongsong bahagia yang lebih indah di alam yang berbeda.

Apakah kalian tahu?

Kematian merupakan batas terakhir bagi setan untuk menyesatkan manusia dan kematian pula adalah kesempatan terakhir bagi kita untuk bertaubat. Tiada lagi daya upaya yang mampu kita perbuat dikala daun sudah jatuh berguguran. Allah sudah memerintahkan para malaikat untuk menjemput dan membawa kembali manusia ke alam yang kedua.

Kesempatan terakhir, mendengarnya saja membuat merinding bulu roma. Entah bagaimana sesungguhnya rasa ketika jumpa dengan kesempatan terakhir. Akankah menangis? Atau bahkan air matapun tak lagi miliki kesempatan untuk mengalir meski hanya sekedar menetes?

Ketika mati menghampiri, maka tidak ada satupun hal yang mampu kita lakukan, kecuali kerabat dan orang-orang terkasih yang masih mampu memberi kita sedikit guyuran doa, membimbing lidah ini mengucapkan kalimat syahadat, membaca istighfar dan kalimat thayyibah lainnya. Semoga kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk sekedar mengucap kalimat syahadat di akhir hayat, di kala bibir mulai kelu, mata mulai meraba dan tubuh tak lagi berdaya, pertolongan Allah masih ada di ujung senja.

Jangan biarkan setan mempengaruhi dan ikut campur ketika kematian sudah berada di depan mata. Ingatlah, setan akan terus memburu kita meski malaikat telah datang menghampiri, karena bagaimanapun juga, visi misi setan adalah mencari teman untuk menghuni neraka sebagai tempat abadinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Talkin (tuntun)-lah orang yang hendak meninggal dengan laa ilaaha illallaah, dan berilah kabar gembira dengan surga. Sesungguhnya orang yang mulia, dari kaum laki-laki dan wanita kebingungan dalam menghadapi kematian dan diuji. Sesungguhnya setan paling dekat dengan manusia pada saat kematian. Sedangkan melihat malaikat maut lebih berat daripada seribu kali tebasan pedang.” (HR. Abu Nu’aim)

Berdasarkan hadits tersebut, jelas sekali bahwa setan tidak akan berhenti menggoda manusia sebelum nyawa benar-benar berpisah dengan raga. Apa yang mampu kita perbuat, wahai umat? Beristighfarlah sebanyak kita mampu, di manapun dan kapanpun kala teringat sepintas khilaf dan dosa yang terlupa. Semoga usaha kecil mampu sedikit demi sedikit mengikis dosa yang kian hari kian meninggi.

Bayangkan! Melihat malaikat maut dengan sosok yang sungguh menakjubkan atau mungkin begitu mengerikan, sehingga ia disamakan dengan beratnya tebasan pedang yang beribu kali. Jangankan ribuan, satu kalipun tak pernah kita merasakan tajamnya sebuah pedang mendarat ke tubuh. Kalaupun iya, mungkin nyawa takkan lagi sanggup bersarang diam di dalam raga.

Allahu Akbar. Kami berlindung kepada-Mu dari segala hal yang memicu timbulnya dosa yang menghantarkan kami kepada api neraka. Sungguh tiada mampu kami membayangkan panasnya api neraka beserta siksaan yang bertubi-tubi mengarah ke diri ini.

Sungguh, di penghujung kematian tiada kata yang mampu terucap. Hanya satu pinta yang terus menggema, semoga Allah SWT meridhai kematian ini benar-benar berada dalam keadaan husnul khatimah, karena itulah sebaik-baik kematian.

Imam Ghazali berkata, “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri!”

Terkadang, ketika sanak saudara atau kerabat berpulang, bukan doa yang kita semaikan, melainkan tangisan berderu-deru. Satu dua orang yang datang, menyaksikan kesedihan tersebut turut larut dan ikut dalam buaian tangisan. Mungkinkah itu suatu budaya? Sering kali ketika melihat ada yang meninggal, justru tangisan yang menjadi pusat perhatian. Tangisan mengalahkan semangatnya berdoa.

Sejenak merenung, siapapun yang meninggal tidak harus dihantar dengan tangisan, tetapi iringilah perjalanan mereka dengan sejuta untaian doa, agar Allah SWT senantiasa melindungi dan memberikan ampunan kepadanya. Juga renungilah diri ini, sudahkan kita memperbaiki diri? Sudahkan kita memeriksa dosa yang pernah kita torehkan?

Ingat! Mati datang tak pernah permisi. Kapanpun dan di manapun ia akan menghampiri tanpa peduli siap atau tidak siap. Kematian tak pernah memperdulikan kehidupan duniawi. Oleh karena itu, mari segerakan segala urusan apapun itu, siapkan diri untuk menyongsong kematian yang entah kapan akan datang.

Semoga bermanfaat.

Lampung, 15 Rabiulakhir / 26 Januari 2016