Kapan Dibolehkan Debat?

1
659
larangan berdebat

Oleh : Newishalifa

~

Debat menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah :
Pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai sesuatu hal, dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Debat menurut SALAH SATU Hadist Rasulullah Saw :
“Aku akan menjamin sebuah rumah di tepi surga, bagi yang meninggalkan debat sekalipun ia benar. Juga sebuah rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan kebohongan, sekalipun ia bercanda. Serta sebuah rumah di puncak surga, bagi siapa saja yang berakhlak mulia.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

#

Betapa pentingnya kita mencerna sesuatu, apalagi jika erat kaitannya dengan hukum Islam. Yang sering terjadi sekarang adalah, dari ribuan dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadist, kita yang lagi getol-getolnya belajar ilmu ini, cuma stuck di dalil yang itu-itu aja. Malas mempelajari dalil atau sumber lainnya. Padahal di luar sana, musuh-musuh Islam nggak pernah bosan loh mempelajari dua sumber hukum Islam tersebut. Ada yang akhirnya dapet hidayah, ada juga yang merasa nemuin kekurangan dalam Qur’an juga Hadist.

Well … balik lagi ke topik kita kali ini : debat.

Segitu bahayanya kah debat sampai harus ditinggalkan?
Dan segitu mulianya kah meninggalkan debat sampai Rasulullah Saw menjamin sebuah rumah di tepian surga, untuk mereka yang meninggalkan debat sekalipun ia benar?

Terus itu Dr. Zakir Naik yang sukses mengIslamkan banyak orang, apa kabar? Beliau bukan sekadar ulama’ loh, tapi terang-terang mendeklarasikan diri sebagai seorang Pendebat, dengan melayangkan berbagai undangan debat terbuka kepada tokoh-tokoh penting di luar Islam, tingkat dunia.

Sosok sekaliber Dr. Zakir Naik, yang hapal Al-Qur’an, Bible, Wedha, Tripitaka, Hadist dan lain-lain, masa sih gak tahu hadist perihal debat yang tercantum di atas? Kayanya rada gak mungkin deh.

#

Menurut saya, kita harus jeli sekali dalam membedakan, kapan sesuatu itu bernilai diskusi, debat atau sudah berubah menjadi perang argumen?

Diskusi, rapat atau istilah musyawarah, yang dilakukan untuk mencapai satu kesepakatan atau mufakat, setahu saya justru sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan Rasulullah Saw pun melakukan diskusi bersama para sahabat RA, ketika hendak memutuskan : dengan cara, atau alat apakah yang tepat digunakan untuk memanggil orang sholat? Hingga adzan lah yang menjadi kesepakatannya.

Debat menjadi sesuatu yang patut dihindari, mana kala kita TIDAK MEMILIKI ILMU sama sekali tentang suatu hal yang didebatkan. Bodoh sekali saya, jika berani berdebat tentang teknik memasak rendang sama Uni-uni Padang yang tiap hari kerjaannya emang bikin rendang. Sementara jangankan rendang, bikin mie instan aja saya masih suka lodoh kalo ditinggal maen HP. *eh, ketahuan deh*

Debat menjadi sangat dianjurkan, mana kala yang kita hadapi, adalah orang-orang yang memang sedang mencari kebenaran. Bayangkan kalau Dr. Zakir Naik hanya menjadi seorang penceramah, yang berdiri di depan orang Islam saja, berapa banyak orang non muslim yang tidak ‘terjemput’ niatnya untuk memeluk Islam?

Allah Swt berfirman :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ  وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ  ؕ  اِنَّ  رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
[QS. An-Nahl: Ayat 125]

#

Kapan debat mesti ditinggalkan?
Pernah denger atau baca kalimat : “Udah, yang waras yang ngalah.”

Dalam diskusi yang berubah menjadi perdebatan, pasti ada aja salah satu pihak yang bakalan terpancing emosinya dan naik pitam. Bahkan itu juga terjadi dalam debat lewat tulisan di berbagai media sosial.

Ketika suasana perlahan memanas karena adu argumen yang mulai nyerempet kemana-mana bahkan OOT (keluar tema), di sinilah yang mundur lebih awal bisa dinilai sebagai orang yang waras. Orang yang memilih mundur itu, mungkin kelihatan pecundang, kalah debat, K.O padahal belum tentu. Bisa jadi dia lah pemenang sebenarnya.

Dia yang sebenarnya mampu untuk melanjutkan perdebatan, tapi keburu sadar, bahwa debatnya udah mulai gak manfaat dan gak bakalan ketemu ujungnya. Dia yang lebih suka menjaga ukhuwwah, ketimbang egoisme sesaat. Orang-orang seperti inilah, yang In Syaa Allah, termasuk dalam golongan yang dijanjikan rumah di tepian surga oleh Rasulullah Saw dalam hadist di atas. ^_^

#

Berhentilah berdebat, ketika kita sadar bahwa lawan bicara kita memang dari awal sudah punya background ilmu, pengalaman traumatis, atau pandangan yang berbeda dengan kita.

Dia begitu, kita begini. Gak bakalan bisa dipaksain. Juga biasakan sebelum belajar atau diskusi itu dimulai dengan do’a :

“Ya Allah, mudahkanlah hamba dalam menerima kebenaran yang berasal dari-Mu. Lapangkan dan lunakkanlah hati hamba agar mudah menerima kebenaran yang bermuara pada Ridho-Mu.”

Tsahhh …
In Syaa Allah, abis berdoa kita bakalan lebih tenang. Yakin deh, kalo bukan kita yang menemukan kebenaran, yaa … pasti si teman diskusi kita itu yang mendapatkannya.

Kalo setiap kita mau nerapin hal-hal di atas, saya sih yakin banget, gak bakalan dah tuh pada ngeributin ini itu, ampe slek satu sama lain.

Semoga gak ada yang berujung duel di dunia nyata yach? Duel ngupas sama makan kwaci mungkin?

Salam Ukhuwwah.
Semoga bermanfaat.