Jangan Pernah Letih Menjadi Orang Baik, Sekalipun Kau Dicap Manusia Bodoh

1
1359
baik
Oleh : Newisha Alifa

 

Sekitar tahun 2012-an di tempat kerja yang lama, ada seorang senior yang terkenal baik dan sabar. Saking sabarnya, beliau sampai jadi korban penipuan via telepon.

Kami para admin sangat senang bisa se-tim dengan beliau, sebut saja namanya Pak Iman. Beliau sangat koperatif, hingga suatu ketika entah saya atau teman admin lainnya berujar, “Pak Iman itu emang baik banget, yah.”

Eh, tiba-tiba teman senior lainnya nyeletuk, “Baik apa? Dia bodoh! Hahahaha ….”

Saya pun segera mengingatkan, “Hush, Mba. Nggak boleh gitu looo ….”

Walaupun dalam hati memang sempat terlintas Pak Iman ini lugu sekali, sampai terkena tipu jutaan rupiah. Tapi tak pantas rasanya sampai berucap demikian. Terlebih selama bekerja sama, beliau selalu bersikap baik di mata kami semua.

#

Kebaikan atau keburukan sekecil apapun di mata kita, boleh jadi adalah suatu yang besar dan berbekas di hati orang lain. Alhamdulillah, saat ini saya dianugerahi supervisor yang menurut saya dan rekan-rekan kerja lainnya adalah orang yang baik sekali.

ALLAH menguji beliau dan istri. Salah satu dari dua putri kembarnya terkena penyakit jantung. Saya tidak mengerti istilah medisnya, tapi yang pasti setiap malam SPV saya ini selalu membersihkan daerah sekitar dada putri kecilnya yang keluar cairan dari jantungnya yang bocor. Beberapa kali beliau cuti mendadak, dikarenakan penyakit putrinya tadi kambuh tiba-tiba.

Anak buahnya, termasuk saya, rekan kerja yang selevel dengannya, sampai atasan beliau, -termasuk para pimpinan ekspatriat- di kantor, mengakui kebaikan dan integritas yang dimilikinya. Beliau selalu perhatian terhadap kondisi orang lain. Bahkan terhadap orang yang terang-terangan memusuhinya pun, tetap berusaha berbuat baik. Masyaa Allah.

Kemarin pagi, ada satu percakapan dengan beliau yang sukses membuat saya menahan air mata. “Saya ditawarin kerjaan di Cengkareng, gajinya besar,” ucap beliau.

“Besarnya berapa, Pak?” Saya memancing.

“Yah, dua kali lipat dari di sini lah,” jawabnya singkat.

“Wahh, mesti buat jadi manager ya, Pak?” tebak saya.

Beliau mengangguk. “Tapi saya kayaknya tetap akan balik ke Solo. Saya memilih untuk melanjutkan usaha keluarga di sana.”

“Udah yakin tuh, Pak?” sahut saya lagi.

“Neng, bapakku kan sudah sepuh. Ibuku juga sudah sering sakit-sakitan. Kalau aku tinggal di sana, enak bisa ngurus orang tua. Mertua juga bisa diperhatikan.” Pak Budi menjelaskan dengan aksen Jawa-nya yang khas.

Kalimat terakhirnya hingga detik ini sangat berbekas di hati saya. Masyaa Allah. Mulia sekali manusia di hadapan kami ini. Beliau begitu memikirkan nasib orang tuanya, bahkan mertuanya pun tak luput dari perhatiannya.

Sesampainya di meja kerja, teman saya yang tadi ikut mendengarkan cerita SPV kami, berujar, “Aku nggak kebayang kalo Pak Budi resign dari sini. Ya Allah, dimana lagi kita dapet atasan baik banget kaya dia, Fa?”

“Iya ya, Mba. Aku baru nemuin atasan yang nggak cuma pinter, tapi peduli banget sama anak buahnya itu yaa di sini. Makanya seberat apapun kerjaan, selama masih ada dia, kita tenang.”

“Iyalah. Orang dia mah nge-back up anak buah banget!”

Dan begitu banyak kebaikan beliau lainnya yang terlalu membekas di hati kami. Tak hanya membekas, tapi juga menginspirasi.

#

Tahun 2007-2008 pun di tempat kerja yang pertama, saya menemukan sosok ‘orang baik’ yang kebaikannya selalu dikenang orang banyak, bahkan hingga kepergiannya. Ahli agama? Saya rasa bukan. Bahkan beliau mengaku dulu pernah konsumsi narkoba, dan Alhamdulillah bisa taubat untuk berhenti mengkonsumsi barang terlarang tersebut. Beliau adalah orang berwawasan luas yang tetap humble. Sebut saja namanya Mas Kus.

Mas Kus inilah yang pertama kali mengenalkan saya dengan sosok Dr. Zakir Naik lewat VCD yang dipinjamkannya. Video tersebut berisi debat perbandingan agama oleh Dr. Zakir menghadapi Dr. Campbell yang diadakan beberapa tahun silam.

Beliau sering melontarkan kalimat-kalimat yang membuat saya berpikir dan merenung.

“Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan, Fa!”

“Fa, menurut kamu Islam itu agama yang baik atau yang paling baik?”

“Kamu cari kerjaan di tempat lain aja, Fa. Di sini susah pengangkatan karyawannya. Kasihan kamu, nanti tua umur doang kalo dikontrak terus di sini. You’re deserved to get a better destiny,” ujarnya menyemangati.

Anak-anak kontrak yayasan yang lain pun, nyaman jika berdiskusi dengan beliau. Sosok yang sangat friendly kepada siapapun. Tak peduli orang itu jabatannya apa. Pun beliau tak sungkan menyelisihi orang lain yang lebih tinggi jabatannya, jika memang melakukan sesuatu yang dianggapnya salah.

Hingga sekitar tahun 2012-an, kabar duka pun datang dari seorang teman yang masih bekerja di sana. Mas Kus yang biasa saya panggil, ‘Capt’ atau ‘Captain’ karena pernah mengirimkan sms selamat lebaran dianalogikan dengan kru pesawat itu, mengembuskan nafas terakhir akibat penyakit yang dideritanya. Apa beliau pernah mengeluhkan penyakitnya di sosmed? Seingat saya, TIDAK PERNAH.

Dunia terkadang terasa begitu sempit. Desember lalu dalam perjalanan rihlah ke ponpes, Kak Anto, salah satu pengurus di pengajian kami yang mengendarai mobil, ternyata bekerja di perusahaan tempat pertama saya bekerja. Kak Anto adalah suami dari teman pengajian kami, Kak Sinta, yang turut serta dalam perjalanan pekan lalu.

Kami membahas keadaan perusahaan itu sekarang. Sampai topik pembicaraan beralih pada beberapa karyawan di sana yang sudah meninggal dunia. “Kak, kenal Mas Kus gak?” tanya saya tiba-tiba.

“Iya, kenal. Udah meninggal dia, Fa.”

Akhirnya kami pun larut membicarakan kebaikan Almarhum Mas Kus. Padahal lokasi gedung pabrik dengan office itu berbeda. Saya dan Mas Kus ada di departemen Manufacturing, sedangkan Kak Anto di bagian IT, di gedung seberang. Tapi toh kebaikan Mas Kus bisa dirasakan oleh siapapun yang mengenalnya. Salah satu buktinya, ternyata Kak Anto ini juga pernah dipinjamkan video Dr. Zakir Naik oleh ayah dari dua orang anak itu.

Begitulah Mas Kus. Beliau tutup usia di angka yang terbilang muda, belum 40 tahun. Tapi di usianya yang relatif singkat, beliau sukses meninggalkan kesan baik yang berbekas dan selalu terkenang, bahkan menginspirasi orang-orang di sekitarnya, termasuk saya. Hingga waktu takziyah, disertai rasa kehilangan yang teramat sangat, hati saya seolah berteriak, “Ya Allah, hamba bersaksi bahwa beliau ini orang baik!”

#

Kelak jika kita mati, orang lain akan mengenang kita sebagai sosok yang seperti apa yaa? Manusia yang gemar menebar kebaikan kah, atau justru sifat-sifat lain yang mengandung keburukan? Kelak jika kita mati, akankah banyak orang yang merasa kehilangan atau justru merasa terbebas dari fikiran, kata-kata dan sikap kita yang gemar menciderai hati sesamanya?

Saudaraku…
Tak peduli, sekalipun kita dianggap bodoh, tetaplah berbuat baik. Tetaplah menginspirasi orang lain lewat kebaikanmu.

Menurut saya, jalan hidayah ALLAH itu ada dua. Satu lewat otak. Satu lagi lewat hati. Nabi Ibrahim AS, meraih hidayah lewat akal dan pikirannya dalam perjalanan menemukan Tuhan yang sebenarnya. Sementara sahabat Umar bin Khaththab masuk Islam karena hatinya sukses tersentuh usai mendengar adiknya membaca ayat suci Al-Qur’an.

Satu hal yang perlu selalu kita ingat …
Pastikan kita ini TIDAK SEKADAR BAIK. Tapi KEBENARAN-lah yang menjadi dasar dari setiap kebaikan yang kita tebar.

#

Note : Ini real story, namun nama yang digunakan bukan nama sebenarnya.

Bekasi, penghujung tahun 2015.