Jadilah Dirimu Sendiri

0
1096
jadi diri sendiri
Oleh : Afdalil Zikri

“Be your self”. Kata-kata ini mungkin sering kita dengar. Kata-kata ini menekankan kepada kita semua bahwa kita harus hidup dengan gaya kita sendiri. Menjadi diri sendiri adalah suatu kebanggaan bagi  kita selain bentuk rasa syukur kita terhadap Allah SWT. Karena secara fitrahnya manusia adalah makhluk hanif (cenderung kepada kebenaran). Dengan menjadi diri sendiri merupakan suatu bentuk pengakuan kita terhadap kebesaran Allah SWT sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Lail ayat 4 yang artinya:
“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda”

Allah SWT menciptakan manusia memiliki kelebihan, potensi dan bakat masing-masing. Masing-masing manusia memang memmiliki keahlian. Begitu juga Rasulullah Saw yang mampu menempatkan setiap sahabatnya sesuai dengan kemampuannya masing-masing, contohnya Ali yang ditempatkan di bagian kehakiman, Ubay di tempatkan pada posisi Al Qur’an dan Khalid bin Walid yang ahli dalam memimpin peperangan.

Menjadi diri sendiri merupakan persoalan klasik yang telah ada pada zaman dahulunya, mengutip kata-kata dari Dr. James Gordon Gilkey yang mengatakan “Permasalahan ingin menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang sudah tua setua sejarah dan sangat umum sekali seperti kehidupan manusia. Seperti halnya permasalahan ingin tidak menjadi diri sendiri, ini juga menjadi sumber yang banyak menimbulkan permasalahan psikologis”. Memang menjadi diri sendiri adalah sebuah proses jangka panjang yang dilalui oleh manusia sampai menemukan jati diri. Tapi tidak sedikit kita melihat bahwa banyak orang yang hidup bukan menjadi dirinya sendiri dalam artian menjadi diri orang lain. Hidup menjadi orang lain bukan saja merugikan diri sendiri tetapi juga suatu bentuk rasa ingkar terhadap apa yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT jika berpedoman kepada surat Al Lail ayat 4.

Di zaman dengan peradaban yang serba maju ini tidak sedikit kita menjumpai banyak orang yang hidup bukan dengan dirinya, agamanya, budayanya ataupun bangsanya. Sifat mudah menerima tanpa menyaring setiap informasi yang masuk membuat seseorang taklid buta terhadap seorang tokoh, budaya, teknologi dan lain-lain. Rasa kagum terhadap sesuatu dan menganggap bahwa yang ada pada kita itu tidak cukup, membuat seseorang melupakan kodrat penciptaannya, contoh nyata yang dapat kita jumpai adalah budaya pakaian remaja Muslim yang telah tidak sesuai dengan syariat Islam.

Pakaian serba minim dan membentuk lekuk tubuh dianggap sebagai trend, akan dianggap kolot atau ketinggalan mode jika tidak mengikutinya. Pola pikir sebagian umat Islam yang telah dimasuki oleh pola pikir sekuler, sosialis dan materialis. Sehingga dia mengaku muslim tapi pola pikirnya tidak lagi sesuai dengan syariat Islam. Taklid buta dan terlalu melebur kedalam kepribadian orang lain merupakan penguburan hidup-hidup terhadap bakat yang Allah berikan, pembunuhan terhadap kemauan dan penghancuran system terhadap karakter penciptaan manusia itu sendiri. Setiap orang memiliki sifat, watak serta potensinya sendiri.

Maka dari itu seseorang tidak boleh hidup dengan kepribadian orang lain. Karena penciptaan manusia adalah sesuatu yang unik yang tidak menyerupai seorang pun dan orang lain pun tidak akan sama dengan diri kita. Karena Allah telah membedakan masing-masing diantara makhlukNya. Kita diciptakan dengan bakat tertentu dan memang ditakdirkan untuk melakukan sesuatu maka kita disuruh untuk memahami diri kita dan melakukan sesuatu sesuai dengan yang telah ditakdirkan oleh Allah.

Angelo Battero yang telah menulis banyak buku dan artikel pernah mengatakan “Tidak ada orang yang paling menderita melebihi orang yang tumbuh tidak menjadi dirinya sendiri, tumbuh tidak menjadi jasadnya sendiri dan tidak menjadi pikirannya sendiri”. Kita hidup di dunia ini menurut ukuran yang telah ditentukan oleh Allah, Allah berfirman:
“Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya”. (Q.S. Ar Ra’d:17).

Sesuai dengan penjelasan diatas bahwa menjadi diri sendiri memang melalui suatu proses yang panjang dan tidak dapat kita lalui dengan cara yang instan. Lalu dengan cara apakah kita bisa mengenali diri agar tidak hidup menjadi diri orang lain. Pertama, menerima dengan penuh kerelaan (ikhlas) pemberian yang telah diberikan oleh Allah SWT bahwa semua yang ada ini adalah karunia. Karunia yang baik memang harus dikembangkan, ditumbuhkan untuk nantinya bisa menerima manfaatnya. Semua yang ada pada diri kita ini adalah karunia terbesar yang Allah berikan dan Allah menganggap kita mampu untuk memikulnya, firman Allah:
“Allah, tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya” (Q.S. Al Baqarah:286)

Di sinilah letaknya betapa berperannya keikhlasan dalam mangarungi hidup didunia ini. Rasa ikhlas mengantarkan kita kepada derajat yang lebih baik.
“Dan, Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan meninggikan sebahagian atas sebahagian yang lain beberapa derajat”.

Kedua, berusaha menemukan potensi diri yang telah dianugerahkan oleh Allah. Kekuatan yang ada dalam diri manusia adalah sesuatu yang baru dalam alam ini. dan tidak ada yang tau berapa besar kemampuannya sampai ia menemukan dan mencobanya. Teruslah berusaha melakukan yang terbaik sampai pada suatu ketika Allah menghargai atas usaha kita dengan balasan yang berlipat ganda. Allah berfirman:
“Dan, katakanlah:”Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu” (Q.S. At Taubah:105)

Akhirnya, dengan menjadi diri sendiri akan membuka peluang kita menjadi pribadi yang bersyukur dan mampu mengenali diri. “Siapa yang mengenal Tuhannya, maka akan mengenal dirinya”. Jadi sebagai pribadi yang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hendaknya kita hidup menjadi diri kita sendiri.