Inilah Karakter Penghafal Al-Qur’an

1
3437
menghafal

Oleh : Alya Adzkya

“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia. Mereka adalah Ahlul Qur’an, Keluarga Allah dan orang-orang yang dikhususkan-Nya” ( H.R. Abu Dawud)

Penghafal Al-Qur’an. Adalah sebuah label yang amat prestisius di kalangan masyarakat kita saat ini. Anggapan masyarakat bahwa penghafal Qur’an itu pasti hebat, akhlaknya terjaga, lisannya terjaga dan seabrek titel lainnya.
Namun terkadang kita lupa bahkan para penghafal Qur’an juga manusia. Tempatnya khilaf dan salah Tak ada manusia yang sempurna, bukan? Begitu pula dengan para penghafal Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an  Allah telah menjelaskan beberapa karakter penghafal Al-Qur’an.
Yang pertama ; Dzholimun linafsihi. Yang artinya mendzolimi diri sendiri. Ini adalah karakter penghafal Al-Qur’an yang ingin serba instan. Inginnya cepat menghafal tanpa memedulikan muraja’ah, atau pengulangan hafalan. Akibatnya, hafalan-hafalan yang sudah ia hafal terbengkalai begitu saja.  Sehingga terkesan menzhalimi dirinya sendiri. Padahal Al-Qur’an itu bukanlah seperti buku-buku pelajaran yang bisa seenaknya ditinggalkan setelah selesai ujian. Al-Qur’an itu pecemburu. Dan selalu ingin diutamakan dari hal yang lainnya.

Karakter penghafal Al-Qur’an yang kedua : Muqtashid. Atau pertengahan. Inilah karakter penghafal
Al-Qur’an yang biasa-biasa saja. Bila ia berada di lingkungan pesantren yang kondusif dan mendukung dia untuk rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an. Maka ia akan semangat untuk menghafal, dan mengulang hafalannya. Karakter penghafal Qur’an yang satu ini, biasanya belum timbul rasa tanggung jawab untuk menjaga hafalannya sendiri. Padahal Al-Qur’an adalah amanah yang harus dijaga seumur hidup. Sampai helaan nafas terhenti.

Karakter penghafal Al-Qur’an yang ketiga ; Sabiqun Bil Khairaaat. Atau berlomba-lomba menuju kebaikan. Inilah karakter penghafal Qur’an yang sesungguhnya. Saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Terus menguang hafalannya. Tanpa harus dipantau guru atau suasana sekitarnya. Ia benar-benar merasa bahwa Al-Qur’an adalah amanat besar yang harus ia pertanggung jawabkan kelak.

Sehingga muncul kesadaran untuk terus melisankan ayat-ayat suci setiap waktu. Lalu setiap anggota badannya membenarkan hati dan lisannya. Jadilah seluruh karakter dan kepribadiannya serupa Al-Qur’an berjalan.

Maka berada di posisi manakah kita saat ini? Masih mendzolimi diri sendiri? Masih stuck di pertengahan? Atau sudah sempurna berlomba-lomba dalam kebaikan?

Ada baiknya kita terus memperbaiki niat. Bila niat awal kita karena ingin membuktikan bahwa kita bisa. Atau hanya sekedar menaati kemauan guru dan orang tua. Tak apa, kita masih bisa meluruskan niat. Luruskan niat kita karena Allah ta’ala. Bukan karena penghargaan di mata manusia. Allah telah menjanjikan berbagai kemudahan bagi orang-orang yang mau menghafal ayat-ayat suci-Nya.

Para penghafal Al-Qur’an adalah orang-orang yang terpilih. Karena ayat-ayat Allah yang mulia takkan sembarangan bisa dijaga oleh hati-hati yang berdosa. Maka kita harus terus bermuhasabah. Mengoreksi diri sendiri. Sembari terus berusaha menjadi golongan penghafal Al-Qur’an yang istiqomah, termasuk keluarga Allah juga Ahli Syurga.

Dalam hadits qudsi Rasulullah menyampaikan. “Pada hari kiamat kelak Allah akan berkata pada para penghafal Al-Qur’an. “Bacalah!” Lalu naikklah derajat para penghafal Al-Qur’an itu. “Karena sesungguhnya kedudukanmu sampai pada ayat terakhir yang engkau baca.”