Indahnya Berhijrah

1
960
indahnya berhijrah

Oleh: Aannisah Fauzaania

“Mbak, jilbabnya kok panjang lebar gitu? Isis ya?”

“Bukan, hanya sedang belajar taat.”

“Tidak usah terlalu fanatik lah mbak, kan yang penting tertutup. Sok suci banget. Mau jadi ustadzah, ya?”

Astaghfirullah. Sahabat, tak jarang kita menemukan perkataan-perkataan tak baik dalam proses berhijrah. Setiap yang akan memulai untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik pasti akan merasakan situasi seperti di atas. Tidak semua sih, tapi dari kebanyakan akhwat yang pernah menceritakan pengalamannya kepada saya mengatakan mereka pun melewati kesulitan-kesulitan itu.

Terkadang kita merasa lelah, takut, gengsi, dan bermacam-macam perasaan muncul bergantian ketika banyak orang yang kontra dengan perubahan dalam diri kita. Namun satu yang harus tetap kita ingat, betapapun sulitnya, Allah pasti akan siap sedia membantu. Jadi hamba Allah yang taat itu memang sulit kok. Siapa yang bilang mudah? Karena memang balasannya surga di akhirat kelak. Kalau berhijrah itu mudah, imbalannya pasti cuma permen kojek.

Merujuk dari perkataan-perkataan yang kurang mengenakkan hati, jangan lantas pula kita mengutuk mereka di dalam sanubari. Berdoalah, semoga mereka pun segera mendapat nikmat hidayah dari Allah SWT. Jangan berhenti di tengah jalan hanya karena malu akan perkataan orang. Bersabarlah dan tanamkan dalam hati kalimat “Innallaha ma ana” Allah bersamaku. Allah lah yang akan selalu ada untukku. Bersabar melalui semuanya, nikmati saja prosesnya. Dalam sebuah hadist pun disebutkan, “Man shabara zhafira.” Siapa yang bersabar maka ia akan beruntung.

Kalau ada yang mengejek, “Jilbabnya kok lebar banget, ISIS ya?” Tanggapi saja dengan senyum.

“Mau jadi ustadzah ya?” Jawab saja dengan mengaminkan perkataannya. Jadi ustadzah kan bukan posisi yang hina, malah mulia karena bisa mengajarkan kebaikan untuk sesama. Mengapa harus malu?

“Nggak usah fanatik lah, sok suci.” Tak apalah dibilang sok suci, insya Allah kita akan menjadi hamba yang demikian disebutnya. Lebih baik dibilang sok suci kan daripada dicap sok kafir. Percayalah, mereka akan mengerti seiring dengan berjalannya waktu.

Dulu saya pun pernah mengalami ketika awal-awal ingin merubah diri. Ketika saya melaksanakan shalat dhuha setiap hari, teman-teman mengatakan, “Nis, rajin amat. Mau masuk surga duluan, ya?”

Saya tanggapi saja dengan senyuman. Dan ternyata dalam beberapa bulan setelahnya, mereka akhirnya bisa menerima, bahkan menjadi yang paling sering mengingatkan jika saya terlambat shalat. “Nis, sudah jam segini, kok belum shalat?”

Sahabat, ketika seseorang telah memutuskan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik, maka secara otomatis bagaimana cara ia bersikap juga akan menjadi lebih istimewa. Diantaranya Allah pasti akan lebih memudahkan semua urusannya, membuat seorang tersebut menjadi lebih bijak dalam menghadapi masalah, membuat seorang tersebut menjadi lebih istimewa dalam pandangan hamba lain, membuat seorang tersebut menjadi lebih kuat menghadapi setiap jalan terjal kehidupan dan memberikannya seorang yang terbaik sebagai pendamping hidup kelak.

Mengapa prosesnya berjalan demikian? Tentu saja, karena kita telah berusaha taat kepada Allah, maka Allah pun dengan senang hati akan memudahkan setiap urusan kita, melancarkan doa-doa yang dipinta, bahkan memberikan lebih banyak lagi tanpa kita sadari.

Sahabat sekalian, jika kita menyelami makna hijrah lebih dalam lagi. Kata tersebut tak hanya terbatas pada perubahan cepat menjadi akhwat berkhimar panjang seperti yang saya sebutkan di atas.

Raqib al-Isfahani, pakar leksiografi Al-Quran berpendapat bahwa sebagai istilah kata hijrah biasanya mengacu kepada tiga pengertian, yaitu :
1. Meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim, seperti hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.

2. Meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk dan dosa-dosa menuju kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.

3. Mujahadah an-nafs atau menundukkan hawa nafsu untuk mencapai kemanusiaan yang hakiki.

Berdasarkan perspekif yang kedua, kata hijrah sendiri memiliki arti perubahan menuju yang lebih baik. Maka setiap perubahan kecil yang terjadi dalam diri kita pun jika mengarah pada kebaikan telah disebut berhijrah. Misalnya jika yang sebelumnya mabuk-mabukan, kini berubah tak pernah lagi menyentuh arak karena tahu minuman tersebut haram. Berarti ia telah satu tahap melaksanakan hijrah. Kemudian yang dulunya belum memakai kerudung, kini telah memakai meskipun belum lebar.

Dari seorang yang tadinya berpacaran kemudian putus, dan akhirnya memutuskan untuk menjaga diri dari hal yang mendekati zina. Dari seorang akhwat yang tadinya selalu memakai celana ketat, kemudian kini telah membiasakan memakai rok. Dari seorang ikhwan yang tadinya jarang shalat, kini selalu berusaha melaksanakan solat lima waktu. Itu semua pun telah disebut berhijrah dalam tahap-tahapnya, yang tentu saja akan tetap berpahala jika kita niatkan sepenuh hati karena mengharap ridha illahi.

Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setiap perubahan pasti melalui proses, dan proses tentu harus dimulai agar ia terbiasa berjalan. Mulailah dari saat ini, sahabat. Sebelum waktu di dunia akhirnya mengatakan terlambat. Percayalah, kau akan segera merasakan indahnya berhijrah.
Semoga kita semua senantiasa menjadi hamba yang diridhai-Nya. Aamiin.