Ilmu Itsar yang Menakjubkan

0
204
ilmu itsar
Oleh : Sri Bandiyah

Dahulu ketika masih menjadi pengurus organisasi dakwah kampus, saya pernah memberi undangan permohonan pembicara kepada salah seorang ustadz di kota Solo. Percakapan yang terjadi antara saya dan ustadz tersebut sungguh masih membekas hingga kini.

“Bagaimana, Ustadz bisa mengisi kajian di kampus kami?” tanyaku.

“Saya belum tahu, pada hari yang sama saya juga telah mendapat undangan yang sebagai pembicara di kampus lain.” Ucap Ustadz kala itu.

“Kalau boleh tahu, undangan yang lain dari mana ya Ustadz?”

“Dari kampus ****.” Ustadz menyebut nama salah satu kampus di wilayah Solo.

“Wah, kalau kampus itu, bukankah sudah sering mendatangkan Ustadz? Dan bukankah kami lebih membutuhkan Ustadz daripada mereka?” Argumen itu aku sampaikan, berharap ustadz memilih kampus kami sebagai tempat ceramah.

“Alhamdulillah saya sudah putuskan akan memenuhi undangan kampus **** dan mohon maaf tidak bisa memenuhi undangan di kampus antum.” Jawab ustadz tampak tegas.

“Loh, kenapa Ustadz?” tanyaku tidak mengerti.

“Antum tidak itsar, itu kelemahan antum dalam berjamaah.”

Allahu Akbar! Itsar… Betapa malunya kami saat itu. Itsar…. Puncak tertinggi dari ukhuwah.

******

Itsar secara bahasa bermakna melebihkan orang lain atas dirinya sendiri. Itsar ini dalam tingkatan ukhuwah menempati urutan terakhir setelah berbaik sangka dan kesamarataan. Dalam kasus dialog saya dengan ustadz, saat itu saya merasa bahwa kampus sayalah yang lebih punya hak untuk dihadiri ustadz tersebut, karena kampus saya masih jarang mengadakan kegiatan kajian besar. Saya lupa bahwa merasa lebih berhak itu sama artinya dengan egois. Iya, egois!

Egois inilah yang kemudian menutup mata dan hati kita untuk melihat bahwa di luar kita, ternyata mereka juga mempunyai hak yang sama. Mereka mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan ilmu.

Egois ini juga yang akan membuat prasangka. Saya berprasangka bahwa kampus itu telah sering didatangi ustadz dan pastilah mahasiswa kampus itu tidak dalam keadaan sangat butuh untuk mendengar ceramah ustadz. Dan prasangka inilah yang ustadz katakan sebagai kelemahan saya dalam berjamaah. Berprasangka! Padahal tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah berbaik sangka. Jika dalam barisan dakwah antara penghuninya saling berprasangka, bisa dipastikan bangunan dakwah akan rapuh dan tinggal menghitung waktu bangunan itu akan roboh.

Rasulullah SAW sangat memahami pentingnya itsar dalam tubuh kaum muslimin. Oleh karenanya, saat hijrah ke Madinah, rasul mempersaudarakan kaum Anshar (penduduk Madinah) dan kaum Muhajirin (penduduk Makkah yang melakukan hijrah) sebagai saudara dalam akidah. Saudara yang harus dibela karena agama yang sama yaitu Islam.

Saudaraku….

Masihkah ingatkah kisah persaudaraan Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Rabi’ saat hari pertama Nabi SAW hijrah? Abdurrahman bin Auf adalah saudagar kaya dari Makkah. Namun, karena hijrah, ia tinggalkan semua kekayaannya. Saad bin Rabi’ adalah saudagar kaya dari Madinah. Inilah dialog kedua saudara yang baru pertaman dipertemukan.

“Saudara, ketahuilah bahwa saya adalah seorang Anshar yang banyak harta, dan kiranya saudara sudi ambillah separuh dan kekayaan saya itu. Saya juga mempunyai dua orang isteri dan kiranya Saudara sudi memilih satu diantaranya, saya bersedia mencaraikannya supaya saudara bisa menikahinya.” Ucap Saad kepada saudara barunya.

Mendengarkan perkataan sahabatnya itu, Abdurrahman Bin Auf menjawab, “Saudaraku, semoga Allah memberikan berkah kepada keluarga dan harta bendamu. Tidak perlu engkau mencemaskanku, yang penting bagiku aalah kiranya engkau bersedia menunjukkan kepadaku jalan menuju pasar.”

Subhanallah….

Indahnya persaudaraan dalam Islam. Bahkan Abdurrahman dan Saad baru pertama kali bertemu. Islam dan itsarlah yang diajarkan Nabi. Satu orang menunjukkan itsarnya, dan yang lain menunjukkan kemuliaannya untuk tidak merepotkan.

Jika saja masyarakat Islam mengamalkan itsar dalam kehidupan masyarakat, tentulah tidak ada lagi prasangka yang akan menghancurkan keindahan persaudaraan dalam Islam.Si kaya yang itsar memberi kelebihan hartanya kepada si miskin. Penguasa yang itsar menggunakan wewenangnya untuk membantu kebutuhan masyarakat. Si pandai yang dengan sabar memberi waktu belajarnya untuk itsar menjelaskan kepada si kurang pandai.

Saudaraku….

Mulailah itsar pada hal-hal kecil yang ada di sekitarmu. Apakah kau termasuk pekerja yang sering menggunakan jasa bis untuk mencapai tujuan? Jika iya, itsarlah pada ibu-ibu yang menggendong anak jika suatu saat kau mendapatkan tempat duduk, sementara ibu tadi tidak.

Atau kau adalah mahasiswa pandai yang kaya? Dan karena kepandaianmu kau mendapatkan beasiswa prestasi? Jika iya, itsarlah pada teman mahasiswamu yang kepandaiannya di bawahmu tetapi ia termasuk orang yang kurang mampu. Berikanlah jatah beasiswamu kepadanya. Dan katakan kepadanya, ini itsar, rasul yang mengajarkan.

Saudaraku….

Namun, kau harus ingat! Kau tidak boleh itsar dalam hal ibadah. Apalagi ibadah wajib. Jangan kau katakan, “Shalatku nanti saja karena mukenaku dipinjam teman.” Kau salah! Jika itu tentang ibadah, maka kau harus melakukannya yang pertama. Atau kau akan katakan, “Karena itsar aku mundur ke shaf belakang, biarlah sahabatku yang ada di shaf terdepan.” Salah! Itu salah! Kau harusnya tetap di depan karena kau berangkat lebih awal. Dan bukankah shaf terdepan itu yang paling istimewa? Apakah kau tidak ingin mendapat pahala yang lebih utama daripada unta merah?

Saudaraku….

Sekiranya ada perkataanku yang menyinggungmu, aku mohon maaf. Mudah-mudahan kau dan aku sama-sama belajar itsar. Belajar dan kemudian melakukan.
Salam cinta dari saudara seimanmu. Ana Ukhibuki fillah….