Ikhlas Dalam Keterpaksaan, Diterima kah?

1
395
ikhlas
Oleh : Rina Perangin-Angin

Ada pernyataan menarik yang sering beredar di masyarakat, yakni “lebih baik berinfaq seribu rupiah asalkan ikhlas daripada berinfaq sejuta tetapi dalam hati tak ikhlas.” Kata-kata tersebut memang benar. Sebab, syarat diterimanya suatu amalan adalah niatnya ikhlas dan caranya benar. Niat ikhlas menjadi poin penting yang bila tak terpenuhi, maka amalannya bisa tertolak.

Lalu, bagaimana bila seseorang yang dalam beramal itu ikhlasnya terpaksa. Diterimakah atau tidak?

Dengarkanlah sejenak kisah pada masa Rasulullah SAW. Di tengah perang Ahzab, saat malam mencekam kedua belah pasukan, Rasulullah SAW sedang beristirahat bersama para sahabat. Beliau mengumpulkan para sahabat untuk menyampaikan sesuatu. “Siapa yang akan pergi ke perkemahan Abu Sufyan dan teman-temannya, dan kembali untuk mengabarkan keadaan mereka kepadaku?” tanya beliau SAW kepada para sahabatnya.

Saat itu, kedinginan, kelelahan dan kelaparan membuat para sahabat enggan menjadi orang yang dimaksud Rasulullah SAW. Bayangkan saja, dalam kondisi dingin dan lapar, mereka harus mengendap-endap masuk ke perkemahan lawan, menguping pembicaraan mereka lalu kembali mengabarkan kepada Rasulullah SAW dalam keadaan selamat. Itu tentu sulit.

Karena tak ada yang bersedia, lantas Rasulullah SAW memanggil Hudzaifah dan menyuruhnya ke perkemahan. Hudzaifah yang sebenarnya juga “berat” melakukannya mau tidak mau mengiyakan perintah Rasulullah. Dalam kondisi dingin mencekam, lapar melilit, Huzaifah “terpaksa” pergi. Lihatlah, Huzaifah seolah mengajarkan kita bahwa ikhlas tidak harus selalu rela. Bahkan ikhlas dengan keterpaksaan bisa membuahkan hasil yang lebih baik. Artinya, pada awalnya boleh kita terpaksa, namun dalam proses keterpaksaan itu, tumbuhkan keikhlasan karena taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka insya Allah keterpaksaan akan berubah menjadi keikhlasan.

Apa sulitnya berinfaq sejuta untuk orang yang berpenghasilan sepuluh juta sebulan, tetapi tentu akan sulit bila untuk orang yang hanya berpenghasilan dua juta. Namun ingatlah, ketika dia memaksakan dirinya untuk tetap berinfaq dengan berusaha menghadirkan keikhlasan, maka pahala yang ia dapat akan lebih besar. Insya Allah.

Jika beribadah dalam keterpaksaan itu dilarang, maka tidak akan ada yang berjihad. Siapa yang rela ikut berperang? Siapa yang menyukai darah berceceran, tangan yang terputus, kuda-kuda mati, wanita menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim? Tidak ada yang rela, tidak ada yang suka, tetapi apakah jika tidak rela akhirnya kaum muslimin enggan berjihad?!

Nyatanya, jihad salah satu perintah Allah dan Rasul-Nya yang dijanjikan balasan surga bagi pelakunya. Berat memang, tetapi jika seorang muslim tetap melawan rasa keterpaksaan itu, niscaya pahala baginya. Demikian pula amalan ibadah lain yang terasa berat, pada awalnya penuh keterpaksaan dalam mengerjakannya, namun apabila dibiasakan, maka keterpaksaan itu akan berubah menjadi keikhlasan dengan pahala yang besar.

Ikhlas dalam keterpaksaan seringkali menjadi nilai plus. Insya Allah.