Hei laki-laki, Jaga Auratmu

2
320
jaga aurot

Oleh : FARAH RIZA

Adzan Maghrib berkumandang hingga terdengar di arena permainan futsall pada suatu petang.

“Hey, ayo bubar … bubar! Sholat … sholat!” seru Rahman mengingatkan teman-temannya yang masih asyik bermain. Segera saja para pemuda di sana bergegas menuju masjid terdekat.

Para pemuda tadi selain suka berolahraga, juga taat dalam menjalankan kewajiban mereka sebagai muslim. Namun ada sebuah hal terlarang yang belum dipahami oleh mereka. Aurat pria. Bagian tubuh pria yang harus ditutupi dan haram untuk diperlihatkan baik dalam salat maupun di luar salat. Mereka yang hobi berolahraga futsall ataupun olahraga lain yang memakai celana di atas lutut sering tak menyadarinya bahwa paha adalah bagian tubuh yang jadi aurat pria. Mungkin sering terdengar hal tentang batas aurat pria, namun mengapa gaungnya tidak sekeras pembahasan hijab sebagai penutup aurat pada perempuan? Meski masih ada perselisihan dalam hal masukkah lutut dan pusar pria sebagai bagian aurat, namun paha telah disepakati oleh jumhur fuqaha sebagai aurat pria.

Inilah yang seharusnya menjadi ‘PR’ bagi kita semua untuk menyampaikan pentingnya kewajiban ini. Sebenarnya bila mau menengok kisah belasan tahun silam tentang hukum hijab, ada yang bisa dijadikan pelajaran penting. Masih teringat di benak saya, bagaimana saat tahun 90-an, hijab masih teramat langka. Banyak sekali perempuan yang taat dalam beribadah seperti sholat lima waktu, puasa, bahkan ibadah sunah lainnya, namun mereka tidak sadar kewajiban berhijab. Entah di mana letak kesalahan penyampaian dakwah tentang hijab. Yang pasti masalah hijab seakan bukan kewajiban. Firman-firman Allah tentang hijab pun jarang terdengar di bahas di pengajian-pengajian umum. Alhamdulillah, sekarang hijab sudah menunjukkan kemajuan dalam jumlah pemakainya meski sebagian belum syar’i. Semakin ke sini, penyempurnaan berhijab yang baik kian keras disuarakan. Bahkan sekolah-sekolah yang tidak berbasis agama Islam pun-seperti sekolah umum-sudah hal lumrah siswinya berhijab.

Sekarang yang harusnya juga sering ditegaskan di tiap kesempatan dakwah, bahwa pria pun punya batasan aurat. Penjelasan batasan aurat pria meski tidak sejelas aurat perempuan dalam Al-Qur’an, namun banyak hadist-hadist yang menjelaskannya.

Di antaranya adalah hadist Bukhari, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Paha termasuk bagian dari aurat.” (HR. Bukhari)

Juga kisah tentang Rasul saat di halaman sebuah masjid dan melihat seseorang bernama Ma’mar yang ujung pahanya tersingkap.
Dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tutuplah pahamu wahai Ma’mar, karena sesungguhnya paha itu adalah termasuk aurat.” (HR. Ahmad)

Tentang aurat bagi orang yang sudah mati pun dijelaskan pula.
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah kau buka pahamu, dan janganlah kau melihatnya baik orang yang sudah mati ataupun yang masih hidup.” (HR. Abu Daud)

Meskipun batasan aurat pria hanyalah antara pusar dan lutut. Namun bilamana bagian tubuh yang bukan aurat dijadikan kebanggaan dengan niat pamer-misal tubuh yang berotot-tentu yang hukum asalnya mubah terlihat bisa menjadi wajib untuk ditutupi juga. Sebagaimana firman Allah,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nuur: 30)

Dan firman Allah yang sama pula bagi perempuan,
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (An-Nuur: 31)

Maka dari peringatan agar menundukan pandangan itu, kita pun tidak boleh memamerkan hal yang dapat menimbulkan fitnah.
Besar harapan kita, batasan aurat pria akan kian banyak disampaikan dan dijalankan bagi pria-pria muslim tanpa kelalaian yang akan menjerumuskan pada dosa tanpa menyadarinya.  Aamiin.

Kediri, 14 Rabiul Akhir 143