Hak dan Kewajiban Istri Terhadap Suami Menurut Islam

2
1480
suami istri

Oleh : Ova Yanti

Pada pertemuan majelis ilmu hari ini, temanya sungguh menyedot perhatian para hadirin. Apalagi saat murabbinya bertanya, “Apa jawaban ibu-ibu selaku seorang muslimah sejati. Jika saya bertanya, Siapakah  yang berkewajiban memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu  dan tugas-tugas rumah tangga lainnya menurut syariat islam? Istri atau suami?”

Dan ada yang menjawab “istri” ada yang menjawab “suami”

“Siapa yang menjawab istri coba anggat tangan?”  hampir rata-rata anggat tangan, hanya beberapa lagi saja yang tidak.

Murabbinya tersenyum dan berkata, “Mohon maaf ibu-ibu, jawaban kalian salah. Dalam agama islam, kewajiban seorang istri terhadap suaminya hanya dua, yaitu kewajiban melayani suami secara biologis dan kewajiban taat pada suaminya dalam segala hal selain maksiat”

Dalam suatu hadist, diriwayatkan  Abdurahman bin Auf menjelaskan bahwa Rasulullah Sallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

“Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu sang istri tidak mendatanginya, hingga dia ( suaminya –ed) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Diantara tanda-tanda dari wanita yang shalihah itu ialah ketaannya kepada suaminya. Taat kepada suami mempunyai tempat yang kedua setelah taat atau patuh terhadap perintah dan larangan Allah diukur sejauh mana dia dapat menyelesaikan kewajibannya terhadap suaminya.

Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya seorang isteri belum dapat dikatakan telah menunaikan kewajibannya terhadap suaminya seluruhnya. Dan jika suaminya memerlukannya, sedangkan pada waktu itu dia sedang berada di atas kendaraan, maka tidak boleh dia menolaknya.” (HR.Thabrani)

Dalam Hadits yang lain pula diterangkan, bahwa siapa saja istri yang dengan penuh keikhlasan dalam melaksanakan tugasnya sebagai istri, serta beriman kepada Allah, maka ia berhak memperoleh balasan syurga.

Rasulullah SAW bersabda :

“Jika seorang istri itu telah menuanaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya dari pada mengerjakan perbuatan haram dan dia taat kepada suaminya, maka akan dipersilakanlah ia masuk ke syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki” (HR.Ahmad dan Thabrani )

“Nah ibu-ibu apa ada pertanyaan?” Diam beberapa menit

“Afwan, saya mau bertanya “

“Silakan,bu.”

“ Jika semua pekerjaan rumah tangga bukan istri yang mengerjakan, berarti apakah semua itu adalah suami yang mengerjakannya atau pembantu? “

“ Suami. Dilihat dari segi makanan, pakaian, dan tempat tinggal merupakan sesuatu yang secara umum dipandang terlebih dahulu dalam persoalan nafkah suami. Masih banyak orang yang berfikir bahwa nafkah makanan tersebut berupa bahan mentah, akan tetapi sebenarnya nafkah yang berupa makanan tersebut adalah makanan yang sudah siap dikonsumsi. Adapun proses dalam menjadikannya siap untuk dikonsumsi adalah tugas suami. Maka pekerjaan-pekerjaan seperti memasak, menyapu, membersihkan rumah adalah kewajiban seorang suami!”

Pada sebuah riwayat, Said bin Amir, seorang Gubernur hims, sahabat yang mulia selalu melaksanakan tugasnya dalam mengurus rumah, sehinnga banyak penduduk yang komplain akibat keterlambatannya dalam berkhitmat pada masyarakat.

Empat imam madzhab  utama dan ulama lainnya, secara umum juga berpendapat bahwa tugas memasak, mencuci dan membereskan rumah bukanlah istri, akan tetapi tugas suami.
Jika melihat pada fiqih kontemporer, Syekh Dr. Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa tugas suami membereskan rumah terseburt diserahkan pada istri, sebagai timbal balik atas nafkah yang diberikan suami. Tapi hendaknya memberi gaji atau upah pada istrinya atas kelelahan istrinya diluar nafkah kebutuhan keluarga.

“Tapi bu, di tempat kita sekarang ini, bahkan di negara Indonesia. Pekerjaan rumah tangga itu istri yang mengerjakan. Itu bagaimana bu, soalnya saya juga melakukan hal yang sama. Walau terkadang rasa capek, kesel, letih nggak bisa dibilang lagi. Mau minta bantuan suami, kasian juga suami capek pulang bekerja”

“Jika kita melihat sirah para shahabiyah, pernah diceritakan bahwa Fatimah radhiyallahu  anha, putri Rasulullah SAW. Mengadu pada baginda Nabi, karena tangannya yang sakit dan lecet saat menggiling gandum. Ia meminta pembantu pada Rasulullah SAW, namun Rasul tidak memberinya.

Hal ini menunjukkan bahwa Fatimah r.a bersusah payah membantu suaminya dalam hal nafkah makanan. Lalu bagaimana seharusnya sikap perempuan Indonesia yang berbudaya  timur yang mempunyai adat mengurus rumah tangga dalam masyarakat? Adat merupakan kebudayaan yang mencerminkan kepribadian masyakatnya.

Jika adat tersebut memberi manfaat dan tidak bertentangan dengan syariat islam, serta lazim dilakukan oleh seorang istri dalam masyarakat, maka tidak masalah bagi sang istri melakukannya apabila mampu dan tentunya tanpa dipaksa. Hal itu merupakan nilai tambahan sebagai wujud dari kecintaan istri kepada suami yang kelelahan mencari nafkah di siang hari dan insyaa Allah pahala yang melimpah akan mengalir kepada istri jika keridhaan Allah ta’ala dan suami menjadi puncak niatnya.”

Jadi, untukmu para istri,,,janganlah mengeluh dengan banyaknya pekerjaan rumah yang menumpuk. Tetaplah bersabar dan selalu menyenangkan hati suami. Istri yang sholehah itu tidak akan menyusahkan suaminya, ia selalu berusaha untuk menghilangkan kesusahan suami dan ikut serta membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Masaklah masakan kesukaan suami, rawat dan didiklah anaknya dengan baik, insya allah cintanya akan selalu untukmu. Setidaknya meringankan pekerjaan suami adalah sedekah. Seorang wanita yang sholehah itu adalah wanita yang telah sanggup meletakkan sesuatu pada tempatnya yang benar.

Untukmu para suami,,,

Jika istrimu tak lagi sempat berdandan, ketahuilah, betapa beruntungnya bisa memiliki istri yang tidak egois. Ia telah mengorbankan waktunya yang paling berharga, yang sangat ia senangi, hanya untuk merawat dan mengurus keluarganya.

Sejatinya pasangan suami istri yang telah mengucapkan akad dalam prosesi pernikahan, berarti nahkoda pernikahan sudah mulai dijalankan. Suami dan istri harus merapat untuk bekerjasama, melakukan kewajibannya masing-masing dan memperoleh hak-hak mereka seperti yang sudah dijanjikan dan dijelaskan dalam agama islam.

Takengon, Negeri Di atas Awan
31 januari2016