Fungsi Ilmu Pengetahuan Dalam Menjalankan Fungsi Kekhalifahan

0
897
ilmu pengetahuan

Oleh: Afdalil Zikri

Tujuan penciptaan manusia oleh Allah SWT secara garis besar adalah, pertama, sebagai hamba (‘abd)  dan, kedua sebagai khalifah di muka bumi. Manusia sebagai hamba dijelaskan oleh Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Dan manusia sebagai khalifah terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Sebagai hamba jelas bahwa kita wajib bertakwa kepada Allah dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah atau dalam artian manusia mempunyai keterbatasan.

Sedangkan sebagai khalifah manusia memiliki kebebasan yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan sosial dengan harapan terciptanya tatanan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Kedua fungsi manusia tersebut tidak dapat dipisahkan ataupun dihadapkan. Akan dikatakan utuh bila manusia bisa berhasil menyeimbangkan dimensi hamba dan dimensi khalifah. Dan akan terjadi keterpecahan kepribadian atau penyakit kejiwaan seperti kecemasan, kebosanan dan penyimpangan jika dimensi ini dipisahkan.

Seseorang yang mengabdikan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah, tanpa peduli dengan pengembangan ilmu pengetahuan akan mengalami kesepian dan tekanan kejiwaan. Dan sebaliknya orang yang hanya mementingkan ilmu pengetahuan tanpa peduli kehidupan spiritual akan mengalami kehampaan spiritual. Ini jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa ilmu pengetahuan sangat berperan penting dalam menjalankan fungsi kekhalifahan. Adalah tidak mungkin peran sebagai khalifah dapat dijalankan dalam kehidupan tanpa penguasaan ilmu pengetahuan. Hal terpenting adalah sumber daya alam yang diciptakan oleh Allah untuk kemaslahatan umat manusia tidak akan bisa termanfaatkan jika tidak ada ilmu tentang hal tersebut.

Secara bahasa ilmu berarti kejelasan dan dapat dikatakan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang waktu. Dalam pemakaian kata ilmu ada tiga makna yang terkandung didalamnya yaitu aktivitas, metode dan pengetahuan. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas harus diusahakan dengan metode tertentu dan akhirnya metode itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.

Dalam Al Qur’an, ilmu merupakan keistemewaan yang dimiliki manusia dan menjadikan manusia unggul dari makhluk lain. Ini tercermin dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 31-32 yang artinya:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari ayat ini jelaslah, bahwa ilmu yang dimiliki oleh Nabi Adam merupakan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah yang lain. Atas dasar ilmu itulah Allah memberikan amanah kepada manusia untuk memikul tugas-tugas kekhalifahan. Khalifah dapat diidentikkan dengan pemimpin, menjalankan fungsi pemimpin harus dengan adanya ilmu pengetahuan. Menjadi pemimpin tidak harus mengetahui semua cabang ilmu karena Allah menciptakan manusia itu unik dan berbeda dengan yang lainnya. Seseorang yang cerdas dalam bidang politik belum tentu mampu juga menguasai ilmu teknik, seni dan yang lainnya atau sebaliknya. Adalah yang sangat mungkin dilakukan bagaimana seorang pemimpin bisa mengoptimalkan setiap sumber daya manusia yang ada, konsep “the right man, the right place” dalam menjalankan fungsi kepemimpinan sangat penting sekali.

Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, manusia yang berperan sebagai khalifah diharapkan mampu membongkar seluruh rahasia alam yang selama ini belum terpecahkan atau masih misteri. Peristiwa alam yang masih belum terpecahkan tersebut harus mampu dipecahkan oleh manusia dengan melakukan observasi ilmiah, sehingga ditemukan sebab-sebab alamiah yang sebenarnya telah memiliki hukum tersendiri. Inilah yang disebut dengan Sunnatullah.

Menurut beberapa pakar Muslim ada tiga sifat utama Sunnatullah. Pertama, pasti. Pasti disini merupakan jaminan untuk memberikan kemudahan dalam merencanakan sesuatu oleh manusia dalam menjalankan fungsi sebagai khalifah. Terdapat dalam surat Al Furqan ayat 2 “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. Ayat ini jelas menegaskan kepada manusia bahwa Allah mempunyai kerajaan bumi dan langit, tidak beranak dan segala sesuatu itu menurut ukuran yang rapi. Pasti bahwa Allah lah telah menciptakan langit dan bumi, pasti bahwa Allah tidak mempunyai keturunan, pasti bahwa semua yang diciptakan Allah sesuai dengan ukurannya. Ini akan membuka jalan bagi manusia untuk membuktikan kepastian tersebut. Kedua, tetap (tidak pernah berubah). Sifat tetap ini bisa memperkirakan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang terutama berkaitan dengan gejala-gejala alam.

Fungsi kekhalifahan akan lebih bermakna bagi kehidupan manusia bila manusia bisa memperkirakan kejadian-kejadian yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Tentunya dengan berpedoman kepada Al Qur’an dan Hadits yang semua itu akan bisa terjawab dengan ilmu pengetahuan. Ketiga, objektif. Dengan sifat ini sebenarnya dapat mengetahui setiap hasil pekerjaannya atau setidaknya bisa memperkirakan hasil dari pekerjaannya. Sebagai contoh, seorang pemimpin yang menerapkan program pakaian muslim dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat menengah. Program ini setidaknya dapat diperkirakan bahwa dengan pakaian muslim maka moral generasi muda menjadi baik, tingkat kriminalitas dapat ditekan, pengusaha konveksi lebih maju dan mengurangi pengangguran dll.

Sebagai penutup dari tulisan ini, bahwa ilmu pengetahuan sangat penting dalam menunjang fungsi manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Tanpa ilmu pengetahuan seseorang tidak akan bisa menjalankan fungsi tersebut. Pemecahan misteri tentang alam ini hanya akan bisa dilakukan dengan ilmu pengetahuan melalui proses berpikir dengan menggunakan akal. Dan itu semua  hanya bisa dilakukan bagi mereka yang berpikir.