Dengan Apa Kita Menolong Agama Allah ?

1
240
pejuang

Oleh : Naufal Fajar Ramadhan         
 
WahidNews, Tatkala seseorang bekerja dengan motivasi dan keyakinan yang kuat bahwasannya pada awal bulan berikutnya orang tersebut akan mendapatkan gaji. Bahkan dengan seluruh keahlian, tenaga dan waktunya dikerahkan agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan sempurna. Pekerja kantoran bersedia lembur demi tercapainya deadline pekerjaan. Operator industri rela berdekatan langsung dengan bahaya agar terjaganya kondisi yang stabil pada proses produksi. Langkah –langkah kerja yang sistematis dengan ikhlas dilakukan sehingga Bos perusahaan senang terhadap pekerjaan yang dilakukan karyawannya. Maka keyakinan berbuah manis ketika seseorang bekerja dengan baik sampai datang kepadanya waktu yang telah dijanjikan oleh Bos perusahaan sehingga mendapatkan promosi jabatan, kenaikan gaji dan penambahan fasilitas.

Lantas, apa yang telah kita lakukan untuk dakwah ini? dengan apa kita menolong agama Allah?. Perkara ini tidak ubahnya seperti ilustrasi diatas. Hendaknya setiap orang yang mengaku bahwasannya Allah sebagai Rabbul Alamin dan Rasulullah adalah utusanNya mengerti akan makna perjuangan dan keyakinan terhadap sesuatu yang diperjuangkan dalam hidup ini. Ketika kita merenung sejenak, didapati begitu nampak kerusakan dan keterpurukan kondisi saudara umat Islam hari ini, masjid-masjid dihancurkan, rumah – rumah dirobohkan bahkan pembunuhan terjadi tidak mengenal landasan yang mendasarinya. Sungguh kondisi ini menyesakan dalam setiap dada kaum muslimin. Jumlah pemeluk yang banyak lebih cenderung seperti buih ditengah lautan, tidak memeliki kekuatan, tidak memiliki pengaruh besar dalam kehidupan. Jawaban atas permasalahan-permasalahan tersebut tidak perlu kita jawab sendiri, melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan petunjuk dengan pernyataan yang sangat tegas
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS Muhammad [47] : 7)

Sungguh, dengan menolong (agama) Allah, maka Allah sangat mampu untuk meneguhkan kedudukan kaum muslimin. Ketika terdapat keraguan dikarenakan masih terpuruknya umat Islam hari ini, maka keraguan tersebut bukan tertuju kepada janji Allah Swt. melainkan keraguan tersebut adalah tertuju kepada kita sebagai insan yang lemah. Keraguan tersebut bukan terhadap kemenangan yang Allah janjikan bagi setiap orang yang berjuang di jalan Allah. Melainkan, keraguan itu terletak pada kesungguhan kita dalam memperjuangkan agama Islam. apakah kita benar-benar memperjuangkan agama Allah? lantas apakah kita besungguh – sungguh terhadap sesuatu yang kita perjuangkan?

Sahl bin abdullah At Tustury rahimahullah berkata: “Dunia ini semuanya adalah kebodohan kecuali ilmu. Dan ilmu semuanya adalah bencana kecuali beramal dengannya. Dan amal semuanya bagaikan debu yang beterbangan kecuali disertai keikhlasan.” (Al Hilyah, 10/194). Ulama mengisyaratkan apapun amalan yang dikerjakan (termasuk berjuang di jalan Allah) hendaknya berlandaskan ilmu yang mana berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Amalan tersebut tidak bernilai bagaikan debu yang beterbangan melainkan dengan keikhlasan. Maka kesungguhan dalam beramal dan berjuang di jalan Allah adalah dengan senantiasa memeriksa niat dan landasan ilmu yang menancap kuat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.

Bahkan dalam surat At-Taubah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan tercerai berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menimpakan bencana kepada orang – oranga yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang–orang yang kafir.” (QS. At- Taubah [9] : 25-26).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kemenangan pada umat Islam dalam perang Badar dan peperangan lainnya, padahal jumlah daripada umat Islam pada waktu itu sedikit. Tidak hanya kemenangan melainkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menimpakan kekalahan dalam perang Uhud dan juga menggoncangkan umat Islam pada perang Hunain. Hal ini dikarenakan kemenangan itu tidak didapat semata-mata oleh kekuatan manusia, melainkan kemenangan ini diraih atas izin dan kekuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesungguhnya Allah itu memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin yang bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan agamaNya.

Pada masa-masa itu, para pendahulu kita mengerahkan segala daya untuk menjadikan Islam berjaya, sementara pada saat yang sama mereka juga tetap menancapkan panji-panji keikhlasan didalam hatinya yaitu hanya mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan sepenuh hati mereka berkeyakinan bahwa kemenangan dan kejayaan atas umat Islam pada hakikatnya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dikarenakan Allah telah menjaga dan melindungi dari musuh-musuh umat Islam.

Ibnu Abbas pernah bercerita, aku pernah mengikuti Rasululah n hingga kemudian beliau bersabda, “Wahai anak muda aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah (ingatlah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya Dia akan datang kepadam. Jika kamu meminta, maka mintalah pada Allah. Dan jika kamu minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa kalaupun sekelompok umat sepakat untuk memberikan kemanfaatan kepadamu. Niscaya mereka tidak akan mampu mendatangkan manfaat sedikitpun selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Begitu juga, jika mereka sepakat untuk mendatangkan suatu marabahaya kepadamu. Maka mereka tidak akan mampu mendatangkan bahaya sedikitpun melainkan apa yang telah ditentukan Allah untukmu. Apa yang terjadi di alam ini telah ditentukan di Lauh Mahfudz.” (Hr. Ahmad)

Maka perjuangan yang diemban oleh setiap kaum Muslimin, selama terdapat aliran darah yang mengalir pada nadinya hendaknya dilaksanakan dengan keikhlasan mengharap ridha Allah, bersungguh-sungguh dan berkeyakinan kuat bahwasannya tidak akan ada kemenangan bagi umat Islam melainkan Allah telah berkehendak terhadap kemenangan tersebut. Wallahu a’lam, Semoga kita senantiasa berada dalam barisan kaum yang senantiasa memperjuangkan agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan bersungguh – sungguh.