Burung pun Sholat

1
379
masjidil haram

Oleh : Indri Novia Miranti

Apakah burung juga shalat? Ya, sepintas kita bingung dengan pernyataan tersebut. Namun, Al-Qur`an telah menjawabnya, “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah ; kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nuur : 41)

Jika kita tafakuri tentang burung, binatang ini begitu beraneka ragam baik dari jenis, warna maupun namanya. Selama ini yang kita tahu, bahwa binatang hanya menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Berbeda dengan kita manusia yang telah dianugerahkan akal dan nafsu, sehingga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Binatang hanya Allah berikan nafsu (naluri), maka cara mereka beribadah pun berdasarkan ilham dari Allah. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat di atas.

Pada dasarnya, semua makhluk hidup di dunia tercipta, tujuannya semata-mata adalah untuk beribadah kepada-Nya, “Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)

Semua makhluk yang di langit dan di bumi pun hakekatnya tunduk kepada Allah.
“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata, dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj : 18)
Bahkan malaikat pun yang hanya dianugerahi akal oleh Allah, tetap senantiasa bertasbih memuji-Nya, “… dan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu…”(QS. Al-Baqarah : 30).

#Burung dan Rejeki

Ada yang pernah dengar, kata-kata ini: Kalau bangun terlambat nanti rejekinya keburu di ambil burung. Mengapa harus burung, bukan hewan yang lain? Filosofinya, karena burung mencari makan di pagi hari. Saat sebagian orang masih terlelap tidur, ia terbang kesana-kemari dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah sebelumnya, burung terlebih dahulu mengepakkan sayapnya sebagai bentuk tasbih dan dzikir kepada Allah. Dan pada saat yang sama, manusia pun sedang melaksanakan Shalat yang merupakan dzikrul akbar.

Anehnya, manusia tidak mau berpikir. Seekor burung saja sudah yakin, bahwa rejekinya tidak akan tertukar, sehingga ia tidak lelah untuk menjemputnya kemana saja sejauh yang ia mau. Bagaimana dengan kita? Belum apa-apa kita sudah menyerah. Bukankah kita dianjurkan untuk optimis, dan tidak boleh berputus asa akan Rahmat Allah?!

Seharusnya, kita sebagai makhluk yang diciptakan begitu sempurna, merasa malu dengan burung, yang tetap berdzikir dan berikhtiar. Meskipun ia tidak bisa berpikir.

“Sesungguhnya Kami telah Menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”    (QS. At-Tiin: 4)

Begitu seringnya Allah mengingatkan kita untuk senantiasa berpikir, “Afalaa Ta’qiluun : Apakah kalian semua tidak berpikir.” Yakni diantaranya dengan memikirkan tentang penciptaan makhluk Allah lainnya, yang ada di sekitar kita. Meski dari binatang sekalipun, jika itu baik, maka ambillah.

“Hikmah adalah barang hilang milik kaum muslim, dimana saja ditemukan maka ambillah.”

“Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau Menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka…(QS. Ali Imran : 191)