Berbuat Baiklah Dan Jangan Pedulikan Hinaan

1
779
berbuat baik

Oleh : Afdalil Zikri

WahidNews, Perjalanan hidup yang kita lalui seringkali menghadapi berbagai macam kendala. Terutama ketika kita melakukan sesuatu yang baik, yang bersifat membangun, mempengaruhi dan memberi kepada orang lain. Tanggapan yang akan kita hadapi itu bermacam-macam, walaupun kita memberikan kepada orang lain dengan niat ikhlas. Sebagai individu yang merupakan bagian dari masyarakat, kita tidak akan lepas dari tanggapan orang lain. Perbuatan yang kita lakukan seringkali mendapat cacian, kritikan, cemoohan ataupun hinaan yang pedas dan pahit dari orang lain.

Suatu kesempatan, mantan Presiden Amerika, Abraham Lincoln mengatakan, “Saya tidak pernah membaca surat-surat cercaan yang ditujukan kepada saya, tidak pernah membuka amplopnya, apalagi membalasnya, karena kalau saya hanya sibuk mengurusi semua itu saya kehabisan waktu berbuat untuk rakyat saya.” Benar kata Lincoln, kalau kita sibuk hanya dengan mendengarkan cemoohan, hinaan dan cacian orang lain, maka kita telah menghabiskan waktu hanya untuk mendengarkan mereka tetapi lupa bahwa masih banyak hal yang dapat kita lakukan.

Mereka yang tidak senang tidak akan pernah berhenti menghina kita kita berpisah dengan mereka atau hingga kita meninggal dunia. Selagi kita berada di tengah-tengah mereka, mereka tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupan kita. Dalam suatu kesempatan seorang penyair pernah berkata bahwa ”orang yang duduk di atas tanah tidak akan pernah jatuh”. Ungkapan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa apapun yang kita lakukan selagi itu baik, maka lakukanlah dan alam semesta akan menilainya.

Mereka yang hobinya menghina tidak mau mengakui bahwa mungkin kita itu lebih baik, lebih berilmu, lebih punya harta. Di mata mereka, kita hanyalah kelompok yang berdosa, tidak punya ilmu atau lebih miskin. Harapan mereka, suatu saat kita akan melepaskan apa yang telah Allah berikan kepada kita, sehingga kita masuk ke dalam kelompok orang yang bodoh dan pada suatu saat kita berada di bawah mereka.

Janganlah melupakan fitrah kita sebagai manusia yang cenderung kepada kebaikan. Jawablah cemoohan mereka dengan berbagai prestasi yang bisa dibanggakan oleh semua orang. Ketika kita kalah dengan mendengarkan hinaan mereka, berarti kita mengabulkan permintaan mereka agar kita hidup dalam keburukan. Ungkapan kritikan yang mereka lakukan kepada kita sebenarnya merupakan suatu bentuk pengakuan kepada kita bahwa kita lebih baik dari mereka. Semakin tinggi pohon, maka angin akan semakin kencang menerpanya.

Hinaan yang datang dari mereka tidak perlu kita tanggapi. Abaikan apa yang mereka bicarakan, kubur dalam-dalam apapun pembicaraan mereka, dan cukuplah membalas komentar dengan apa yang telah Allah jelaskan dalam surat Ali Imran ayat 119, yang artinya, “…Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.”

Semua hinaan mereka dapat kita jawab dengan banyak berbuat baik, memperbaiki akhlak dan meluruskan niat terhadap apapun yang akan kita lakukan selagi itu bermanfaat untuk orang banyak. Jika kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat dari hal yang tidak kita duga, maka kita telah menjadi pribadi utuh. Tabiat untuk membangkang, mengingkari dan tidak menerima kebenaran adalah penyakit umum yang sering kita jumpai pada manusia secara umum. Jangan heran jika setiap perbuatan baik yang kita lakukan selalu mendapat kritikan dari mereka, karena apapun yang kita lakukan niatkanlah hanya karena Allah.

Terkadang dari kita yang telah banyak berbuat baik bisa juga hilang kendali dan hidupnya tidak nyaman. Terkesan belum pernah mendengar wahyu Allah yang dengan jelas mengatakan tentang perilaku menusia yang selalu mengingkari perintah Allah.

“.. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, Dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah Dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus ayat 12)

Agar mampu tegar dalam menghadapi semua yang hinaan yang mereka lakukan, kita dapat mempedomani ajaran yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW, diantaranya, Pertama, mengendalikan emosi. Seseorang yang mampu mengendalikan emosi baik ketika hatinya senang ataupun sedih karena mendapat banyak cobaan seperti kritikan dan hinaan, dia adalah contoh manusia yang mempunyai keteguhan hati dan iman. Allah akan membalas sifatnya tersebut dengan balasan yang berlipat ganda. Secara naluriah, manusia adalah makhluk yang suka berbangga hati dan bergembira, namun ketika mendapat musibah mudah mengeluh. Tetapi itu semua tidak akan kita temui terhadap mereka yang khusu’ dalam shalatnya, karena mereka bisa menyeimbangkan antara kesedihan dan kebahagiaan.

Kedua, bersabar. Sabar merupakan ciri orang yang menghadapi hinaan dengan lapang dada, kemauan yang keras dan ketabahan. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya sabar itu ada pada benturan yang pertama”. Begitu banyak manfaat yang dapat kita rasakan dari sifat sabar ini. Dengan sifat sabar inilah Rasulullah SAW membuktikan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan tidak menyukai permusuhan.

Ketiga, teruslah berkarya dan jangan pedulikan mereka. Dengan terus berkarya menutup kemungkinan mereka untuk terus menghina. Kalaupun mereka terus menghina, maka mereka akan letih dengan sendirinya.

Jadi, berbuat baiklah dan jangan pedulikan hinaan mereka.