Benar Dulu Baru Baik

0
270
embun

Oleh : Newisha Alifa

WahidNews, Kebenaran dan kebaikan itu beda tipis. Nggak jarang, kita yang awam ini kesulitan ngebedainnya. Umumnya sih, kita lebih gampang nerima kebaikan dibanding kebenaran. Bener gak sih? Kita lebih seneng dikasih cokelat, dihujani kasih sayang dan perhatian dibanding diingetin sholat tepat waktu, jangan pacaran, jangan ngegosip, de-el-el.

Ukuran kebenaran bagi seorang muslim, nggak lain nggak bukan adalah Al-Qur’an dan Hadits. Kalo nemu yang berseberangan dengan keduanya, yaa, berarti itu nggak benar. MASALAHNYA, nggak semua orang bisa ngambil kesimpulan dengan benar, sekalipun dia udah khatam qur’an berkali-kali.

Nah, kalo kebaikan sendiri ukurannya relatif. Sebab kebaikan cenderung diartikan sebagai segala sesuatu yang menyenangkan hati. Seseorang yang di depan kita selalu memuji, bisa dengan cepat kita anggap ORANG YANG BAIK. Lah, kita gak tahu aja giliran di belakang mah, dia ngejelekin kita? Atau gak gitu deh, emang dasarnya dia suka muji orang lain. Bahkan di saat yang bersamaan, dia juga muji orang yang kita anggap musuh. Nah loh!

Sebaliknya, orang yang rewel ngingetin kita tentang kebenaran, rajin nasehatin demi kebaikan kita, malah kita labeli dia sebagai orang rese bin nyebelin. Iya gak sih kita suka gituh?

#

Pernah baca atau denger definisi cinta menurut para ahli dari bidang yang berbeda-beda?
Bahwa cinta menurut ahli sejarah adalah hari dimana aku bertemu denganmu. Cinta menurut ahli fisika adalah suatu daya tarik menarik antara dua manusia yang berlainan jenis, yang kekuatannya berbanding lurus dengan frekuensi pertemuan di antara keduanya.

Cinta menurut ahli hukum adalah suatu hubungan yang dianggap legal dan memiliki kekuatan hukum apabila keduanya telah tercatat sebagai pasangan suami istri di kantor pencatat nikah milik negara. Dan berbagai definisi lain menurut para ahli dari bidang lainnya pula.

Mana yang benar kalau begitu? Yaa, tergantung. Kalau kita anak hukum yaa kudu sepakat dengan definisi cinta ahli hukum dan menganggap definisi ahli sejarah itu suatu yang keliru.

Have you got my point?

#

Bahas kebenaran sama kebaikan, bakal jadi panjang. Dan yang pasti dalam mempelajari hal ini dibutuhkan hati yang lapaaaaaaaang sekali untuk bisa menerima kebenaran itu sendiri. Tapi percayalah… Kebenaran itu meskipun terasa getir, pahit, bahkan menyakitkan di awal, pasti akan berbuah kebaikan pada akhirnya.

Contoh, di awal pernikahan, si istri yang baru belajar masak, hasil masakannya keasinan atau bahkan hambar melulu. Si istri yang baik, akan bertanya pada suaminya. “Mas, apa yang kurang dari masakanku?”

Nah, ini bakal jadi dilema tingkat tinggi nih bagi sang suami. Kalo jujur, kuatir istrinya sakit hati dan gak mau masak lagi. Kalo gak jujur, suaminya bisa darah tinggi gegara makan masakan keasinan mulu. Atau sebaliknya, gak selera makan masakan yang gak ada rasanya. Tapi Insyaa Allah, kalau dalam rumah tangga tersebut yang berpadu adalah sepasang suami istri shalih-shalihah, kejujuran suamilah yang dibutuhkan.

“Hmmmm … kamu masaknya gak konsen ya Dek? Kayanya kebanyakan garam nih? Hehehehe ….”

Buat suami, sebaiknya sih gak nyampein kejujuran itu secara over blak-blakan, seperti ngucapin kata-kata, “Ya ampun! Asin banget ini mah. Udah yuk, daripada kamu masak, mending kita cari makan di luar.”

Praaaaaang! Yang ada beterbangan dah tuh piring.
Kejujuran sebagai salah satu buah dari kebenaran, akan menghasilkan kebaikan pada akhirnya. Dengan berkata jujur, si istri akan kembali me-review resep atau caranya memasak. Kedepannya, istri makin jago meracik masakan, dan suami pun terbebas dari ancaman darting juga hilang selera pas makan masakan istrinya. Ajib kan ^_^

#

Meskipun kebenaran itu di atas kebaikan. Tapi yakinlah, ia butuh sokongan kebaikan, untuk dapat diterima oleh orang lain. Masih pake contoh di atas. Ada dua contoh cara menyampaikan kebenaran yang digambarkan. Keduanya mengandung pesan kebenaran yang sama = MASAKAN ISTRI NGGAK ENAK.

Dari kedua contoh tersebut, kita bisa dengan mudah mengenali, mana yang pake kebaikan mana yang nggak. Karena memang sejatinya, kebaikan itu sederhana banget kok. Sesuatu yang bisa menyenangkan hati. Titik.

Kebaikan ibarat perahu yang membawa kebenaran itu untuk sampai di daratan yang tak lain adalah GOAL-nya. Belakangan ini, sering kita temui, banyak orang menyampaikan kebenaran dengan cara yang menyebalkan bahkan melukai hati orang lain. Padahal, titik hidayah itu ada bukan ada pada segumpal organ dalam kepala, bernama OTAK. Tapi ia ada pada segumpal darah bernama HATI. Itu mengapa, banyak orang yang geniusnya masyaa Allah, tapi tetap menolak kebenaran.

Yahudi misalnya, dikata mereka orang-orang bodoh? Tentu tidak! Mereka itu orang-orang cerdas, tapi hatinya yang gak bisa nerima kebenaran, makanya jadi rese! Terbukti bukan laper sama kurang piknik doang kan yang bisa bikin orang reseh!

Tahu kan sejarah Khalifah Umar bin Khattab RA?

Segitu kerassss kepalanya Beliau. Bahkan menjadi sosok yang sangat disegani, dan ketika ia masuk Islam, setan pun lari kalau ketemu Umar. Suatu ketika semasa masih jahiliyah, hatinya dibuat luruh lantah oleh Allah, ketika mendengar saudarinya melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Apa yang kena? Hatinya! Bukan otaknya!

#

Menyampaikan kebenaran adalah tugas kita semua yang mengaku muslim-muslimah sejati. Menyampaikan kebenaran bukan cuma hak dan kewajiban yang bisa dilakukan oleh para ulama saja. DENGAN CATATAN : Lingkup dan power yang berbeda.

Kita yang masih baru seujung kuku belajar agama, gak bisa lah, ujug-ujug ngeluarin fatwa halal haram sesuatu. Yang kaya gini, kudu tahu diri. Dan memang kalo kata Umar bin Khattab RA, orang semakin berilmu semakin merasa bodoh. Sebaliknya yang baru belajar emang suka begitu, mendadak sok tahu. Hehehe.

Ohya, cara lain yang terbukti efektif dalam menyampaikan kebenaran adalah dengan MEMBERIKAN CONTOH / TAULADAN. Teriak-teriak berantas korupsi, lah, sendirinya masih suka tidur pas jam kerja atau mark up laporan ini itu. Huuuu …

#

Pun kita harus jeli dalam menyikapi kebenaran dan kebaikan dari siapa pun. Sejatinya kebenaran tetap kebenaran dengan atau tanpa siapapun yang mendukungnya. Jangan sampai kita jadi orang yang saklek dan sulit kalo dikasih tahu soal kebenaran. Mari tumbuhkan semangat menebar kebenaran dengan cara yang baik, saudara-saudariku!

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)
Semoga bermanfaat 🙂