Bagaimana Cara Islam Dalam Bertoleransi?

0
292
toleransi

WahidNews, Suatu hari Rasulullah SAW sedang ditemani banyak sahabat, tiba-tiba lewat jenazah yang diantar menuju ke pemakaman. Lalu Rasulullah berdiri memberi hormat, kemudian sahabat mengatakan bahwa jenazah tersebut adalah orang yahudi yang tidak pantas memperoleh penghormatan. Namun Rasulullah balik bertanya “Alaisat Nafsan (apakah ia juga manusia)?”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Riwayat ini dikutip oleh Syaikh Qardhawi sebagai salah satu contoh toleransi Islam. Toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai adanya perbedaan-perbedaan, baik pendapat, pemikiran, agama dan adat istiadat (budaya), yang selanjutnya bermakna membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia (Hablun minannas).

Dalam konteks keluarga, contohnya, disebutkan bahwa apabila kedua orang tua kita menyuruh kepada kemusyrikan, kita tidak boleh mematuhinya karena dalam Islam tiada kepatuhan kepada makhluk apabila durhaka kepada khalik. Namun demikian, kita disuruh tetap membangun hubungan yang baik dengan kedua orang tua.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: ”Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS.Luqman:15).

Dalam konteks kemasyarakatan yang lebih luas, dsebutkan bahwa orang-orang yang mulia berkenan memberi bantuan dan donasi kepada orang-orang yang lemah, orang miskin, anak yatim, dan ada orang yang ditawan.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Artinya: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan”. (QS.Al-Insan:8).
Yang dimaksud orang yang ditawan ketika ayat ini turun, tentu adalah kafir Quraisy Mekkah yang bukan saja berbeda agama, tetapi juga musuh yang sangat anti Islam. Begitupun, Allah SWT meminta Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslim agar memperlakukan tawanan perang dengan santun.

Menurut Syaikh Qardhawi, Toleransi Islam berakar pada 4 prinsip, yaitu:
1.At-Ta’addudiyah (Prinsip Keragaman dan Pluralitas)
Keragaman sejatinya merupakan watak alam dan bagian dari Sunnatullah. Orang muslim, meyakini keesaan Allah (Al-Khalik) dan keberagamaan Ciptaan-Nya (makhluk). Dalam keragaman itu, kita disuruh saling mengenal dan menghargai.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujaraat:13).

2.Waqi’ bi Masyi’atillah (Bahwa Perbedaan Terjadi Karena Kehendak Tuhan)
Al-Qur’an menegaskan bahwa perbedaan agama karena kehendak-Nya, da Allah SWT sudah barang tentu tidak berkehendak pada sesuatu kecuali ada kebaikan didalamnya. Jikalau Allah SWT menghendaki, maka semua penduduk bumi menjadi Islam. Namun, hal demikian itu tidak dikehendaki-Nya.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan jikalau Tuhanmu mengehendaki, tentulah beriman semua orang yang dimuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?. (Q.S.Yunus: 99).

3.Ka Usrah Wahidah (Memandang Manusia Sebagai Satu Keluarga)
Semua manusia, dari segi penciptaan, kembali kepada satu Tuhan, yaitu Allah SWT. Dan dari sisi nasab (keturunan), manusia kembali kepada satu babak, yatu Nabi Adam AS. Sebagaimana Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembang baikkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesunggunya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (Q.S.An-Nisaa’:1).

4.Takrim Al-Insan Li-Insaniyyatih (Kemuliaan Manusia dari Sisi Kemanusiaannya)
Manusia adalah makhluk tertinggi (mulia) ciptaan Allah, dimuliakan dan dilebihkan atas makhluk-makhluk yang lain.

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”. (QS Al-Israa’:70).

Dan dinobatkan sebagai khalifah dimuka bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang Khalifah dimuka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan Berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS.Al-Baqarah:30).

Jadi penghormatan Nabi kepada jenazah yahudi tadi dilakukan semata-mata karena kemanusiaan-Nya, bukan atas warna kulit, suku atau agamanya. Dan toleransi Islam diajarkan dalam konteks sosial, bukan vertikal. Tidak ada toleransi dalam hal ubudiyah. Yang ada hanya sebatas muamalah. Dengan satu tujuan, yaitu mewujudkan rasa aman dan damai.

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Artinya: “Orang-orang yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (QS.Quraisy:4).

By : Rubiyah