Ayah, Ibu…. Sederhanakan lah Prosesnya…

1
184
nikah

Oleh : Newisha Alifa

This note especially dedicated for all parents …

Beberapa waktu lalu saya ber-BBM ria dengan seorang teman akrab sejak SMK. Sebut saja namanya Ina. Di angkatan kami -lulusan 2007-, tinggal segelintir alumni yang belum menikah, termasuklah kami berdua. Hanya bedanya, kawan saya ini memiliki kekasih yang sudah tujuh tahun lebih berpacaran dengannya. Saya pun cukup kenal baik dengan pacarnya ini. Saya dan Ina punya panggilan khusus, yakni “Nyong”.

“Kapan nikah, Nyong?” Begitulah pertanyaan yang paling sering dia lontarkan tiap BBM-an, termasuk hari Minggu lalu.

“Yaa… Insyaa Allah, sesegera mungkin lah, Nyong,” jawab saya seperti biasa.

“Tauk tuh, Nyokap gue suka nanyain… lo udah nikah belom? Paling gue jawab, kalo nikah, dia pasti ngundang. Kalo belom ngundang, berarti belom, Ma.”

“Hehehe … iya. Insyaa Allah. Lah, lo sendiri gimana? Kagak bosen apa pacaran bertahun-tahun?”

“Doain ya, Nyong, insyaa Allah, tahun ini.”

Saya terperangah, “Alhamdulillah. Akhirnya! Bulan apa, Nyonk?”

“Masih rahasia, Nyong, bulannya.”

“Ya elah, lo kaya sama siapa aja, rahasia-rahasiaan segala. Bulan apa? April yaa?” tebak saya sekenanya.

Akhirnya dia pun bercerita …
“Antara April sampe Agustus, Nyong. Belum nemu HARI BAIKNYA.”

“Yaahh jauh aja range-nya, dari April ke Agustus mah. Semua hari kan baik,” ujarku prihatin.

“Tau tuh ortu gue kolot banget. Padahal dari pihak keluarga si Aa’ pengennya April. Tapi itung-itungan dari keluarga gue, April belum ada hari baik buat kita.”

“Kasihan banget sih lo, Nyong,” ucap saya lagi.

“Iya. Ribet. Padahal gue mah nikah di KUA juga cukup. Tapi ortu mau nikahan gue pake adat. Diadain di sini sama di kampung bokap gue.”

Saya termenung membaca setiap chat-nya. Dan berkali-kali mengetikkan kalimat KASIHAN BANGET SIH LO … kepadanya.

Gimana nggak kasihan? Ini anak berdua, pacaran udah tujuh tahun lebih! Dari si Ina belum mau diajak nikah sama pacarnya, karena masih kuliah dan merintis karir, sampai akhirnya sekarang dia bersedia untuk berumah tangga.

Dan ketika mereka ingin mengakhiri aktivitas pacaran itu, pihak keluarga JUSTRU MEMPERSULIT dengan syarat-syarat yang nggak ada hubungannya sama syari’at. Bahkan cenderung menyelisihi! Nggak heran, makanya kalo beberapa waktu lalu sempat beredar tulisan fenomenal bertajuk, “Izinkan Saya Berzina Dengan Putri Bapak”.

Zaman sekarang yang udah serba praktis ini, masih ada aja orang tua yang jalan pikirannya konvensional. Klasik -kalau tidak mau dikatakan jadul-. Pernikahan yang menurut syari’at sebenarnya mudah, justru dipersulit dan jadi ribet. Pakai acara penentuan tanggal baik pula. Seakan-akan tidak percaya, bahwa sejatinya ALLAH selalu melimpahkan kebaikan dan anugrah-Nya pada setiap hari.

Semoga banyak orang tua yang tercerahkan usai membaca tulisan ini. Dan bagi teman-teman pembaca yang sedang mengalami kondisi seperti Ina di atas, teruslah berdoa. Semoga ALLAH memudahkan rencana kalian untuk menyempurnakan separuh agama-Nya.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

Ckrg, 7 Jan 2016