Aku Takut Mati Su’ul Khatimah

1
498
mengubur mayat

Oleh : Pipit Era Martina

WahidNews, Hidup dan mati ialah sesuatu hal yang sudah pasti akan terjadi dan dihadapi oleh semua makhluk yang bernyawa, termasuk manusia. Hanya saja kita tak pernah tahun kapan akan dimulainya sebuah kehidupan dari seseorang dan kapan akan terjadinya kematian, peristiwa kepulangan makhluk bernyawa ke tempat dari mana ia diciptakan.

Cerita kelahiran atau awal dari sebuah kehidupan dan cerita kepulangan atau kematian, pastilah berbeda setiap orangnya. Proses kelahiran atau fase awal dimulainya kehidupan seorang manusia beragam cerita, ada yang melaluinya dengan proses yang teramat mudah, tak ada sedikitpun kesusahan yang dialami oleh seorang ibu dalam melahirkan, penuh dengan kemudahan, kebahagiaan, semua berjalan dengan keikhlasan yang berbuah kesempurnaan cerita. Namun ada pula yang melaluinya dengan begitu banyak coba, kesusahan, penderitaan, yang menjadikan mereka merasa sebagai manusia yang tidak beruntung karena memberi kehidupan bagi manusia baru.

Begitu pula dengan peristiwa kepulangan atau kematian. Tak semua makhluk dapat melaluinya dengan jalan kemudahan. Beda manusia, beda cerita dan beda amal, beda pula prosesnya. Jika dalam proses memulai fase kehidupan ada manusia lain yang berperan (ibu yang melahirkan), berbeda dengan kematian. Kita sendirilah yang mengalaminya tanpa ada bantuan dari orang lain. Kita sendirilah yang menentukan akan kembali dengan cara yang seperti apa. Akan kembali dengan cara baik-baik dan dengan iringan untaian kata indah, serta senyuman para malaikat, atau dengan cara paksaan, kata-kata buruk, serta kutukan dari para malaikat.

Kitalah yang menentukan, dan Allah SWT pun memberi kita kebebasan untuk memilih jalan sendiri. Namun dengan sifat kemanusiaan yang selalu ingin bahagia, tentulah kita menginginkan kembali dengan cara husnul khatimah (akhir yang baik), bukan su’ul khatimah (akhir yang buruk).

Faktanya, hanya sedikit manusia yang ada di sekitar kita yang kembali dengan cara husnul khatimah. Meski tak tahu pasti itu seperti apa, namun sering kita menyaksikan atau mendengar kisah dari seseorang tentang kematian yang mengerikan. Mungkinkah itu su’ul khatimah? Suatu akhir atau kembali dengan proses yang buruk.

Benar atau tidaknya, setidaknya itu menjadi pembelajaran dan suatu gambaran untuk kita yang masih diberi kesempatan mengumpulkan amal untuk terus meningkatan ibadah kita kepada Allah SWT, serta memperkuat iman agar akhir yang kita gapai adalah sebaik-baiknya kematian, husnul khatimah. Aamiin

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya.” (HR. Bukhari)

Artinya, barangsiapa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT beriman di akhir hayatnya, meski sebelumnya ia kufur dan selalu melakukan kemaksiatan, namun menjelang kematian ia bertaubat kepada Allah SWT dan kemudian beriman, maka ia kembali dalam keadaan husnul khatimah. Surga menjadi tempat abadinya di sana, insya Allah.

Demikian sebaliknya, jika selama hidupnya ia selalu beriman dan taat dalam beragama, namun menjelang kematiannya justru ia banyak melakukan kemaksiatan, maka jika Allah SWT sudah menetapkan, ia kembali dalam keadaan su’ul khatimah. Neraka menjadi rumah kembalinya yang kekal dan abadi. Na’udzubillahi min dzalik. Lindungi dan jauhkan kami dari su’ul khatimah, ya Allah. Karena sesungguhnya, sesuatu yang paling kami takutkan ialah mati dalam keadaan Su’ul Khatimah.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal satu hasta, tetapi (catatan) takdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan ahli neraka, lantas ia memasukinya. Dan sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu hasta, tetapi (catatan) takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, lantas ia memasukinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karenanya, kita harus senantiasa berdoa dan berusaha, agar Allah SWT senantiasa memberikan keteguhan hati di atas kebenaran dan kebaikan, serta memberikan husnul khatimah kepada kita, dan berlindung kepada-Nya agar dijauhkan dari Su’ul Khatimah yang kita takuti.

Rasulullah SAW senantiasa berdoa, “YAA MUQALLIBAL QULUUB, TSABITS QALBII ‘ALAA DIINIKA.” (Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati di atas agama-Mu.)

Kematian dengan su’ul hatimah itu amat sangat mengerikan dan menakutkan. Banyak kisah yang sangat membuat kita manusia ketakutan ketika mendengarnya.

Ada satu kisah yang sedikit membuat kami bingung, ketika itu ada seorang yang bisa dikatakan sombong dan angkuh selama hidupnya juga seringkali kita temui ia (maaf) memotong tanah perbatasan orang lain (melebarkan tanah miliknya). Saat itu, ia mengalami sakit yang menurut warga aneh. Sakitnya tak tampak dari fisik, namun ia terus mengeluhkan rasa panas dan sakit, terlebih lagi ketika para tamu yang datang membacakan ayat suci Al-Qur’an.

Diagnose dokter mengatakan, dia tidak mengalami sakit apapun. Hingga akhirnya dia bertemu dengan ajalnya. Dan keanehan kembali terjadi ketika berada di pemakaman, entah apa dan siapa yang pantas di salahkan dalam hal ini, liang kubur yang telah diukur tersebut tidak cukup untuk memasukkan beliau. Tak ada cara lain selain melebarkan liang, namun sudah lebih dari tiga kali pelebaran dilakukan, lagi-lagi tidak cukup dan kurang panjang. Akhirnya dengan berat hati keluarganya berkata, “Masukkanlah ia dan lipatlah bagian kakinya!”

Inikah yang dimaksud dengan mati su’ul khatimah? Wallahu a’lam

“Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.“ (QS. Al-Baqarah : 201)

Aku tak ingin mati su’ul khatimah, dan aku berharap agar Allah memberikan kepadaku kematian dengan cara Husnul Khatimah. Izinkan dan berikan kami kesempatan untuk