Akhlak Islami Menuju Kesempurnaan

1
617
dilarang sombong

Oleh : Rina Perangin-Angin 

Akal merupakan potensi dasar yang di miliki manusia guna membedakannya dengan hewan. Atas keberadaaan akal inilah, Allah SWT member taklif ( tugas) kepada manusia yang tidak Allah beri kepada hewan. Yakni menjadi khalif (pemimpin) seperti yang terdapat dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi ,Ingatlah ketika Tuhanmu berfirmankepada paramalikat “ sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata “menagapa engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang hendak membuat kerusakan dan pertumpahan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan Berfirman “Sesungguhnya aku mengetahui yang tidak kamu ketahui” (1)

Berdasarkan ayat di atas, apabila manusia enggan melaksanakan tugas sebagai khalifah (pemimpin) , maka kedudukannya sama seperti hewan. Hal ini tertuang langsung dalam Alquran surah Al-Furqaan:44 yang artinya, “Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang terak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak.” (2)

Jika kita  merenungi secara mendalam tentang kelakuan manusia yang kafir, maka benarlah perilaku mereka dikatakan seperti binatang ternak, bahkan lebih buruk dari hewan. Naudzubillah.

Sebenarnya , semua tugas yang Allah berikan kepada kita adalah untuk mempertegas corak kemanusiaan yang kita punya, meningkatkan martabat, membuktikan bahwa manusia memiliki akhlak, berjiwa sosial, dan memberi garis perbedaan antara dunia kita dengan dunia hewan. Dan yang tak kalah penting adalah untuk menegaskan fungsi akal yang Allah anugrahkan.

Kita juga tau, dalam memimpin dunia, ternyata kita tak hanya mengandalkan akal saja tapi harus di sertai akhlak yang mulia juga. Sebab jika hanya mengandalkan akal maka yang selanjutnya hadir adalah kesombongan. Seperti hal nya firaun yang merasa dirinya pintar, hebat, dan menganggap dirinya setara dengan tuhan. Kenapa bisa terjadi? Karena akhlaknya telah rusak. Dia lupa diri dan akhirnya sombong. Padahal Allah sangat membenci kebohongan, hal ini bisa kita lihat dalam surah al-isra:37 yang berbunyi “ Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan mampu menembus bumi, dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. Semua itu kejahatannya sangat di benci di sisi Tuhanmu” (3)

Itulah mengapa, dalam Islam bukan akal melulu yang di bahas. Tapi akhlak juga sangat penting. Bahkan jika kita baca kitab-kitab para ulama, mereka biasa membahas akhlak sampai 1 BAB. Itu menegaskan bahwa sebagai muslim, kedudukan akhlak memang sangat penting.

Lalu kita juga bisa melihat Rasulullah SAW, dimana akhlak yang beliau contohkan sangat mulia. Mulai dari cara berdagang yang jujur, bertutur kata santun, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, bersikap ramah bahkan kepada musuh sekalipun. Kita mungkin sering mendengar cerita jika dulu Rasulullah sering di ludahi musuhnya, hingga suatu hari orang yang biasa meludahi beliau sedang berhalangan hadir di tempat ia biasa meludahi Rasulullah. Lalu apa yang di lakukan Rasulullah? Beliau mencari tau kemana orang tersebut dan langsung menjenguknya sewaktu tau bahwa ia ternyata sedang sakit. Masya allah, bukankah itu akhlak yang luar biasa?

Itulah yang harusnya kita contoh.  Sebab dalam sebuah hadits juga di katakan bahwa “ Tidak di utus Rasulullah melainkan untuk menyempurkan akhlak-akhlak mulia” (4), (HR Bukhari)

Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang membedakan satu manusia dengan yang lain adalah ketaqwaan. Dan seseorang belum bisa di katakana bertaqwa selama akhlakanya belum bagus. Itu artinya, untuk meraih gerlar taqwa, di butuhkan akhlak yang mulia juga.

Cara utama untuk mensucikan jiwa manusia adalah dengan menyelaraskan potensi-potensi akhlak yang di miliki dengan standar pengabdian yang telah Allah tetapkan. Sehingga manusia tak boleh membuat sendiri standar tersebut melainkan harus sesuai dengan standarnya ALLAH SWT. Lalu apa dan bagaimana standarnya Allah? standar-standar  Allah sudah ada dalam alquran dan As-Sunah. Dimana tolok ukurnya yakni halal-haram, baik-buruk. Dua hal yang sudah jelas perbedaannya. Artinya ketika kita mampu menjalankan semua aturam-aturan Allah, maka akhlak kita akan tertempa dengan sendirinya menjadi akhlak yang mulia serpeti yang Rasulullah contohkan dulu.

Lalu kapan manusia dikatakan mencapai tingkat “kesempurnaan” dalam akhlak? Jawabnya ketika manusia tersebut telah “tawadhu”

Tapi berhati-hatilah wahai saudara. Ketika kita merasa telah tawadhu, telah rendah diri, sesungguhnya kita telah terjatuh dalam tingkatan akhlak yang paling buruk. Astaghfirullah. Begitu halusnya syetan bermain dalam perasaan manusia

Untuk itu, mulai dari sekarang, detik ini juga, mari senantiasa menjaga akhlak kita, terus belajar dan belajar, dan jangan sesekali merasa kita telah ”tawadhu” .

Bila dalam hal mencari ilmu, semakin tinggi ilmunya maka harus semakin merasa bodoh , begitu jugalah tawadhu, semakin seseorang tawadhu, harusnya dia semakin merasa dirinya perlu belajar lagi dan lagi.

Sumber rujukan
1.Al Quran surah Al-Baqarah ayat 30
2.Al Quran surah Al- Furqaan  ayat 44
3.Al Quran surah Al-Isra ayat 37
4.HR Bukhari
5.Kitab Kisah Teladan Rasulullah