Terompet, Tradisi Yahudi Yang Mendunia

1
619
terompet tahun baru

WahidNews, Siapa yang tidak mengenal terompet? Alat musik tiup ini sudah ada sejak tahun 1500 sebelum Masehi (SM). Pada awalnya, terompet digunakan untuk mengusir setan, kelengkapan ritual keagamaan dan sebagai alat penanda dalam peperangan. Perkembangan berikutnya, terompet dengan berbagai variannya menjadi alat musik sejak pertengahan era Renaisance di Eropa yang bertahan hingga masa kini. Keberadaan terompet mendapat tempat yang tinggi di hati masyarakat dunia pada saat perayaan tahun baru Masehi. Seolah menjadi suatu kewajiban, siapapun yang merayakan malam pergantian tahun merasa kurang lengkap tanpa meniup terompet.

Terompet juga diidentikan dengan kaum Yahudi. Mereka memiliki tradisi meniup terompet pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah, yaitu “Hari Raya Terompet” pada tahun baru Taurat. Tahun baru tersebut jatuh pada bulan ketujuh atau tarikh 1 bulan Tisyri dalam kalender Ibrani Kuno. Jadi, pada awalnya kaum Yahudi memiliki tahun baru sendiri yang berbeda dengan tahun baru Masehi. Pada bulan ini pula kaum Yahudi memiliki beberapa perayaan, seperti Tzom Gedaliah, Yom Kippur, Sukkot, Hoshanah Rabbah, Shemini Atzeret dan Simchat Torah.

Perkembangan sejarah memaksa Yahudi, di samping merayakan tahun baru Rosh Hashanah, juga merayakan tahun baru Masehi yang jatuh pada tanggal 1 Januari. Sejarah ini berawal dari pendudukan Romawi atas Yerusalem pada tahun 63 SM. Orang-orang Yahudi mulai mengikuti kalender Yulian (kalender bangsa Romawi). Tahun 1950 M, penggunaan kalender Ibrani mulai ditinggalkan dan mereka lebih memilih kalender Gregorian untuk kehidupan pribadi dan kehidupan publik. Pada sebagian kaum Yahudi, perayaan Rosh Hashanah mulai digeser oleh perayaan tahun baru Masehi yang biasa dikenal dengan istilah “Sylvester Night”. Mereka berpesta dan meniup terompet pada malam hari tanggal 31 Desember hingga 1 Januari.

Peniupan terompet bukan sebuah ajaran Yahudi yang tanpa perintah. Sebaliknya, agama mereka mengenal ibadah peniupan terompet sebagaimana terdapat dalam kitab Imamat 23 : 24 yang bebunyi :
“Katakanlah kepada orang-orang Israel, begini: Dalam bulan ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup terompet, yakni hari pertemuan kudus.”

Malam tahun baru Yahudi digunakan untuk introspeksi diri atas perbuatan dan dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Introspeksi ini dilakukan dengan media meniup terompet. Selain itu, terompet bagi Yahudi memiliki kedudukan yang sama seperti seruan adzan bagi kaum muslim, yaitu untuk mengumpulkan manusia agar beribadah dalam sinagog mereka. Melihat dua hal tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa terompet merupakan bagian dari bentuk peribadatan kaum Yahudi dan wajib bagi kita untuk tidak meniru segala bentuk peribadatan mereka, termasuk meniup terompet.

Senada dengan penegasan bahwa terompet identik dengan kaum Yahudi, beberapa hadits yang menceritakan permulaan adzan juga menerangkan hal tersebut, diantaranya adalah hadits di bawah ini.
عَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ اهْتَمَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلصَّلَاةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيلَ لَهُ انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُورِ الصَّلَاةِ فَإِذَا رَأَوْهَا آذَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ يَعْنِي الشَّبُّورَ وَقَالَ زِيَادٌ شَبُّورُ الْيَهُودِ فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ وَقَالَ هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى
Dari Abu Umair bin Anas, dari sebagian pamannya dari kaum Anshar, berkata, “Nabi SAW sangat prihatin terhadap shalat, bagaimana cara mengumpulkan orang banyak untuk mengerjakan shalat.”

Maka dikatakan kepada beliau, “Pancangkanlah bendera ketika waktu shalat telah tiba. Apabia mereka melihatnya, maka sebagian memberitahukan yang lainnya.” Namun usulan itu tidak disukai beliau. Lalu disebutkan juga kepada beliau SAW terompet, kata Ziyad, “Terompet Yahudi”. Pendapat ini juga tidak disenangi oleh beliau, dan beliau SAW bersabda, “Itu perbuatan orang-orang Yahudi.” Disebutkan pula kepada beliau, supaya memakai lonceng, beliau SAW bersabda, “Itu perbuatan orang-orang Nasrani.” (HR. Abu Dawud, hasan)

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata, “Terompet dan sangakala sudah dikenal. Maksudnya, bahwa terompet itu ditiup lalu (berkumpullah orang-orang Yahudi) yang mendengar suara terompet. Ini adalah syi’ar kaum Yahudi. Ia disebut juga dengan shofar (serunai).

Abul Abbas Al Harrony menjelaskan mengapa Rasulullah SAW membenci terompet dan lonceng. Ia mengatakan, “Tujuan kita di sini bahwa Nabi SAW tatkala membenci terompet yang tertiup dengan mulut dan lonceng yang dipukul dengan tangan, maka beliau menjelaskan sebab (membenci terompet) bahwa terompet termasuk urusan agama Yahudi, dan beliau menjelaskan (membenci lonceng) bahwa lonceng termasuk urusan agama Nasrani.”

Terompet yang pada mulanya merupakan bagian dari kaum Yahudi, maka kini juga telah menjadi bagian dari budaya Nasrani. Pasukan Salib pernah menggunakan terompet dalam pesta kemenangan usai mengalahkan kaum muslimin dalam suatu pertempuran. Kaum Kristiani di beberapa negara (termasuk Indonesia) kemudian menjadikan terompet sebagai bagian dari perayaan pesta malam tahun baru Masehi.

Budaya meniup terompet dengan mengkhususkan waktu pada perayaan-perayaan hari besar orang non-muslim, seperti perayaan malam tahun baru Masehi, merupakan perbuatan yang diharamkan karena menyerupai kaum kafir. Penyerupaan terhadap kaum kafir inilah yang mengubah hukum terompet dari mubah menjadi haram.

Dari Ibnu Umar ra., ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ تَثَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهَمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk diantara mereka.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini hasan shahih.)

Jika kita sudah mengetahui bahwa terompet – apalagi di malam tahun baru Masehi – merupakan bagian dari peribadatan Yahudi dan budaya Nasrani, apakah kita masih ingin meniupnya?

(By.Asadullah Al Faruq)