Televisi, dipertahankan atau ditiadakan?

0
391
efek tv

WahidNews, Saya banyak menemui ayah atau ibu yang galau tentang nasib televisi di rumah mereka, dipertahankan atau ditiadakan. Kegalauan tersebut muncul lantaran mereka membaca dampak buruk televisi atau memang merasa bahwa acara-acara televisi semakin tidak bermutu.  Menurut saya, mereka tidak perlu galau kalau sudah mengetahui sesuatu itu memang tidak baik. Jangan sampai tindakan yang kontradiktif terjadi,seperti ,mengkritisi acara televisi tidak mendidik atau menyalahkan acara televisi sebagai perusak moral bangsa tetapi mereka masih terus saja menghabiskan waktu untuk menonton televisi. Jika memang sudah mengetahui bahwa lebih banyak  keburukan yang dihasilkan oleh televisi ,tinggalkan saja televisi tanpa syarat. Tidak perlu ada kegalauan untuk meninggalkan televisi. Bagi yang memang kesehariannya tanpa terlewati oleh acara – acara televisi, mungkin akan terasa berat jika meninggalkan televisi. Namun, kita harus berpikir jauh ke depan, apalagi bila kita mempunyai anak-anak.
Mungkin pertimbangan – pertimbangan berikut bisa membantu Anda untuk memutuskan meninggalkan televisi saat ini juga :

1. Acara televisi itu kadang seperti candu yang bikin ketagihan sehingga kita rela menghabiskan waktu untuk menonton televisi. Hal ini mengakibatkan pekerjaan banyak tertunda, tidak selesai, dan tidak sesuai rencana.

2. Bisa mematikan kreativitas. Anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi biasanya kurang kreatif. Kalau anak kita hanya mempunyai rencana untuk menonton televisi saja ketika liburan, itu tandanya kurang kreatif. Bandingkan dengan anak yang lebih banyak bermain di halaman daripada menonton televisi. Bermain di halaman bisa menstimulus anak untuk kreatif.

3. Konsumtif. Tayangan iklan yang mengiringi sebuah acara di televisi seringkali kuat pengaruhnya ke penonton,apalagi anak-anak. Keluarga saya memang meniadakan televisi,namun ketika pulang ke kampung halaman,anak-anak menonton televisi d rumah Eyang mereka. Tidak hanya satu dua tayangan iklan makanan kecil yang mempengaruhi mereka sehingga ketika sedang berbelanja mereka menginginkan makanan tersebut. Itu baru contoh kecil bahwa televisi melalui iklannya memicu kita untuk konsumtif. Belum lagi iklan lain yang bila kita sampai terpengaruh, bisa membuat kita merogoh kantong lebih dalam. Selain iklan, acara televisi seperi sinetron juga bisa membuat orang bersifat konsumtif . Anak-anak yang masih labil dan mudah terpengaruh, tentu menjadi korban pertama.

4. Semakin banyak acara yang tidak mendidik. Tidak sedikit orang berpendapat bahwa kemunduran moral generasi penerus saat ini sedikit banyak disebabkan oleh acara televisi yang tidak mendidik seperti sinetron , acara gosip artis, talk show tidak mendidik, hingga tayangan komedi yang sarkastik. Acara televisi yang mendidik tentu saja ada,hanya saja jumlahnya tidak lebih banyak daripada yang tidak mendidik. Kalau saya, daripada harus repot memilah dan memilih acara televisi untuk anak, lebih baik meniadakan televisi lalu menggantinya dengan yang lain ,seperti membaca buku , membiarkan mereka bermain di halaman, mengikutsertakan mereka dalam klub klub atau komunitas yang mendidik.

5. Pubertas dini. Sekarang ini banyak ditemui anak perempuan yang sudah mendapatkan haid pertamanya di usia 8 atau 9 tahun. Generasi terdahulu, haid pertama didapat pada usia belasan tahun. . Artinya mereka dewasa secara seksual lebih cepat dari semestinya dan salah satu penyebabnya adalah acara televisi. Dewasa seksual lebih cepat ditambah dengan melihat tayangan yang tidak mendidik seperti tarian erotis dan adegan ciuman serta tidak ketatnya kontrol orang tua, menumbuh suburkan pelaku kejahatan seksual yang masih anak-anak. Mimpi buruk sekali ketika membaca berita bocah-bocah ingusan yang sudah memperkosa tetangganya yang masih balita atau teman sepermainannya.

6. Semangat belajar berkurang terutama untuk anak. Hal ini ada kaitanya dengan televisi yang cenderung seperti candu, membuat ketagihan. Berdasar pengalaman saya, acara yang membuat kita kecanduan atau ketagihan adalah acara yang rutin dan acara yang bersambung. Pada acara-acara seperti itu, televisi mempunya daya magnet yang mampu membuat penontonnya rela menunggu, mengorbankan hal atau pekerjaan lain.

7. Aktivitas menonton televisi yang hanya duduk diam ,kalaupun ada hal lain yang sambil dikeerjakan tentu hanya ngemil,membuat sebagian kita bisa kegemukan.

Akibat buruknya pengaruh televisi, beberapa cerdik cendekia, tokoh peduli pendidikan ,hingga masyarakat awam seperti saya menyarankan untuk meniadakan televisi dari rumah- rumah kita. Sudah terlalu banyak permasalahan yang dihadapi generasi penerus kita hingga muncul peringatan negara kita dalam kondisi darurat anak maka meminimalisir pemberi pengaruh buruk seperti televisi adalah satu keharusan. Kalaupun sebagian kita tetap ingin mempertahankan televisi maka harus mau repot memilah dan memilih acara mana yang aman, iklan mana yang aman. Lalu harus meelakukan pendampingan anak ketika menonton televisi,memberi pengertian tentang acara televisi yang sedang berlangsung. Selain itu , harus membuat jadwal meononton televisi. Sangat repot,bukan? Kalau saya, daripada repot melakukan serangkaian hal-hal tersebut ,lebih baik meniadakan televisi. Hidup tanpa televisi baik-baik saja,kok.

Ditulis Oleh : A.Yahya Hastuti (Bunda Haifa)