Sebelum Berpesta, Kenali Dulu Sejarah Tahun Baru!

1
711
tahun baru
WahidNews, Perayaan tahun baru merupakan budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Hari tahun baru di Indonesia jatuh pada tanggal 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia. Sayangnya, kaum muslimin di berbagai dunia pun turut latah merayakan tahun baru ini, padahal mereka tidak memiliki pengetahuan terkait dengannya. Sebelum merayakan pesta tahun baru Masehi, sangat bijak bila setiap muslim berusaha mengenali sejarah tahun baru tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan, apakah akan turut merayakan atau tidak.

Menurut sejarah, peradaban Romawi kuno sudah memiliki kalender sejak abad VII Sebelum Masehi (SM). Namun kalender tersebut sangat kacau sehingga beberapa kali mengalami perubahan. Tahun 45 SM, Kaisar Julis Cesar membuat kalender Julian yang terdiri dari 12 bulan, yaitu Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Iunius, Quintilis (yang kemudian diubah oleh Caesar menjadi Julius), Sextilis (oleh August, kaisar pengganti Caesar, diganti namanya menjadi August), September, October, November, dan December. Kalender Julian menggantikan kalender Romawi kuno yang sudah digunakan selama berabad-abad dan kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M.

Orang-orang Romawi pada mulanya merayakan tahun baru pada tanggal 1 Maret. Julis Caesar mengubah perayaan tersebut menjadi tanggal 1 Januari dan pertama dirayakan pada tahun 45 SM. Ada dua alasan yang mendasari keputusan Caesar memilih bulan Januari, yaitu :
a.Januarius (Januari) merupakan nama bulan yang diambil dari nama Dewa Janus. Dewa yang memiliki dua muka, satu mukanya menghadap ke depan dan lainnya menghadap ke belakang, adalah penjaga gerbang Olympus, yang diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Hal ini menjadi alasan yang dianggap tepat untuk memilih Januari sebagai bulan pertama.
b.Awal Januari merupakan puncak musim dingin, sekaligus sebagai waktu libur bangsa Romawi. Pada masa ini pula diadakan pemilihan konsul, yang kemudian dilantik pada bulan Februari bersamaan dengan upacara menyambut musim semi.

Valeri M. Warrior dalam bukunya, Roman Religion, menyatakan, “The Romans dedicated New Year’s Day to Janus, the god of gates, doors, and beginnings for whom the first month of the year (January) is also named.” (Orang-orang Romawi mendedikasikan hari perayaan Tahun Baru kepada Janus, dia adalah dewa segala pintu gerbang, pintu-pintu dan permulaan waktu yang namanya juga adalah nama dari bulan pertama dalam setahun, Januari).

Kalender Julian dinilai kurang akurat, sebab permulaan musim semi (21 Maret) semakin maju, sehingga perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 tidak tepat lagi. Paus Gregious XIII, pimpinan Gereja Katolik di Roma, pada tahun 1582 mengoreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan perubahan kalender Julian. Pertama, angka tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak habis dibagi 400, misalnya 1700, 1800, dan semacamnya, bukan lagi sebagai tahun kabisat. Kedua untuk mengatasi keadaan darurat, pada tahun yang sama diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada bulan Oktober, sehingga setelah tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober.

Tahun 457 M, Gereja Kristen sempat melarang perayaan tahun baru pada tanggal 1 Januari. Tahun 527 M, seorang biarawan Katolik, Dionisius Exoguus, ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Yesus. Titik permulaan yang dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma. Menurut Dionisius, awal tahun baru adalah tanggal 25 Maret.

Keputusan Dionisius tidak diikuti oleh kebanyakan orang Kristen. Mereka justru ikut merayakan tahun baru Masehi dan mengadakan puasa khusus serta ekaristi berdasarkan keputusan Konsili Tours pada tahun 567. Akhirnya, Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru lagi. Sejak saat ini, tahun baru dimulai tanggal 1 Januari dan dikategorikan sebagai hari besar kaum Nasrani.
Berbeda dengan Nasrani, Yahudi memilih tahun baru jatuh pada tanggal 1 Januari karena kalender Ibrani ditinggalkan oleh orang-orang Yahudi. Mereka lebih memilih kalender Masehi karena dapat diterima secara luas. Oleh karena itu, mereka pun merayakan tahun baru tanggal 1 Januari dengan cara bermuhasabah atas segala perbuatan mereka selama satu tahun, serta meniup terompet sebagai bagian dari ibadahnya di awal tahun.

Bangsa Persia yang beragama Majusi juga memiliki perayaan tanggal 1 Januari, yang disebut hari Nairuz. Kaum Majusi  meyakini bahwa Tuhan menciptakan cahaya pada tahun baru, sehingga mereka akan merayakan peristiwa yang “Agung” ini. Mereka berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur-baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam.

Berdasarkan sejarah tersebut, terang kiranya bagaimana perayaan tahun baru itu muncul. Jika kita ikut merayakannya, apakah kita hendak mengikuti kaum pagan Romawi yang memuja Dewa Janus? Atau apakah kita berusaha mengikuti kebiasaan kaum Nasrani yang berpesta-pora pada tahun baru Masehi? Ataukah kita meniru kaum Yahudi yang membunyikan terompet pada malam tanggal 31 Desember hingga 1 Januari? Ataukah kaum Majusi yang kita ikuti dengan cara membakar kembang api?

Ya Allah, sungguh aku berlepas dari semua itu. Dan saksikanlah bahwa hal ini telah kusampaikan.

(By. Asadullah Al Faruq)