Sebelum Berpesta, Kenali Dulu Sejarah Tahun Baru!

Must Read

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar...
WahidNews, Perayaan tahun baru merupakan budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Hari tahun baru di Indonesia jatuh pada tanggal 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender Gregorian, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia.

Sayangnya, kaum muslimin di berbagai dunia pun turut latah merayakan tahun baru ini, padahal mereka tidak memiliki pengetahuan terkait dengannya. Sebelum merayakan pesta tahun baru Masehi, sangat bijak bila setiap muslim berusaha mengenali sejarah tahun baru tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan, apakah akan turut merayakan atau tidak.

Menurut sejarah, peradaban Romawi kuno sudah memiliki kalender sejak abad VII Sebelum Masehi (SM). Namun kalender tersebut sangat kacau sehingga beberapa kali mengalami perubahan. Tahun 45 SM, Kaisar Julis Cesar membuat kalender Julian yang terdiri dari 12 bulan, yaitu Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Iunius, Quintilis (yang kemudian diubah oleh Caesar menjadi Julius), Sextilis (oleh August, kaisar pengganti Caesar, diganti namanya menjadi August), September, October, November, dan December. Kalender Julian menggantikan kalender Romawi kuno yang sudah digunakan selama berabad-abad dan kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M.

Orang-orang Romawi pada mulanya merayakan tahun baru pada tanggal 1 Maret. Julis Caesar mengubah perayaan tersebut menjadi tanggal 1 Januari dan pertama dirayakan pada tahun 45 SM. Ada dua alasan yang mendasari keputusan Caesar memilih bulan Januari, yaitu :
a.Januarius (Januari) merupakan nama bulan yang diambil dari nama Dewa Janus. Dewa yang memiliki dua muka, satu mukanya menghadap ke depan dan lainnya menghadap ke belakang, adalah penjaga gerbang Olympus, yang diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru. Hal ini menjadi alasan yang dianggap tepat untuk memilih Januari sebagai bulan pertama.
b.Awal Januari merupakan puncak musim dingin, sekaligus sebagai waktu libur bangsa Romawi. Pada masa ini pula diadakan pemilihan konsul, yang kemudian dilantik pada bulan Februari bersamaan dengan upacara menyambut musim semi.

Valeri M. Warrior dalam bukunya, Roman Religion, menyatakan, “The Romans dedicated New Year’s Day to Janus, the god of gates, doors, and beginnings for whom the first month of the year (January) is also named.” (Orang-orang Romawi mendedikasikan hari perayaan Tahun Baru kepada Janus, dia adalah dewa segala pintu gerbang, pintu-pintu dan permulaan waktu yang namanya juga adalah nama dari bulan pertama dalam setahun, Januari).

Kalender Julian dinilai kurang akurat, sebab permulaan musim semi (21 Maret) semakin maju, sehingga perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 tidak tepat lagi. Paus Gregious XIII, pimpinan Gereja Katolik di Roma, pada tahun 1582 mengoreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan perubahan kalender Julian. Pertama, angka tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak habis dibagi 400, misalnya 1700, 1800, dan semacamnya, bukan lagi sebagai tahun kabisat. Kedua untuk mengatasi keadaan darurat, pada tahun yang sama diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada bulan Oktober, sehingga setelah tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober.

Tahun 457 M, Gereja Kristen sempat melarang perayaan tahun baru pada tanggal 1 Januari. Tahun 527 M, seorang biarawan Katolik, Dionisius Exoguus, ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Yesus. Titik permulaan yang dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma. Menurut Dionisius, awal tahun baru adalah tanggal 25 Maret.

Keputusan Dionisius tidak diikuti oleh kebanyakan orang Kristen. Mereka justru ikut merayakan tahun baru Masehi dan mengadakan puasa khusus serta ekaristi berdasarkan keputusan Konsili Tours pada tahun 567. Akhirnya, Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru lagi. Sejak saat ini, tahun baru dimulai tanggal 1 Januari dan dikategorikan sebagai hari besar kaum Nasrani.
Berbeda dengan Nasrani, Yahudi memilih tahun baru jatuh pada tanggal 1 Januari karena kalender Ibrani ditinggalkan oleh orang-orang Yahudi. Mereka lebih memilih kalender Masehi karena dapat diterima secara luas. Oleh karena itu, mereka pun merayakan tahun baru tanggal 1 Januari dengan cara bermuhasabah atas segala perbuatan mereka selama satu tahun, serta meniup terompet sebagai bagian dari ibadahnya di awal tahun.

Bangsa Persia yang beragama Majusi juga memiliki perayaan tanggal 1 Januari, yang disebut hari Nairuz. Kaum Majusi  meyakini bahwa Tuhan menciptakan cahaya pada tahun baru, sehingga mereka akan merayakan peristiwa yang “Agung” ini. Mereka berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur-baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khomr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam.

Berdasarkan sejarah tersebut, terang kiranya bagaimana perayaan tahun baru itu muncul. Jika kita ikut merayakannya, apakah kita hendak mengikuti kaum pagan Romawi yang memuja Dewa Janus? Atau apakah kita berusaha mengikuti kebiasaan kaum Nasrani yang berpesta-pora pada tahun baru Masehi? Ataukah kita meniru kaum Yahudi yang membunyikan terompet pada malam tanggal 31 Desember hingga 1 Januari? Ataukah kaum Majusi yang kita ikuti dengan cara membakar kembang api?

Ya Allah, sungguh aku berlepas dari semua itu. Dan saksikanlah bahwa hal ini telah kusampaikan.

(By. Asadullah Al Faruq)

1 COMMENT

1
Leave a Reply

avatar
0 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Latest News

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu disebut Interferon Alpha 2b Human...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar yang menggembirakan itu datang dari...

Positif COVID-19, Putri Spanyol Meninggal Dunia

SPANYOL (wahidnews.com) – Kabar duka datang dari Kerajaan Spanyol. Putri Kerajaan Spanyol, Maria Teresa dari Bourbon-Parma meninggal dunia pada hari kamis tanggal 26 Maret...

Komunitas Muslim di Inggris Bersatu Lawan Virus Corona

London (wahidnews.com) - Wabah virus covid-19 masih melanda negara Inggris. Dalam rangka merespon wabah tersebut, Badan amal Muslim Hands yang berbasis di Nottingham telah...

Popular Post

Selamat Jalan Malaikat Kecilku…

Oleh : Farah RizaTubuh mungil berbungkus kafan putih itu menebar aroma melati. Derai air mata pun membasah di dada kami kala itu. Melepasmu untuk...

Muhasabah : Makna Bertambahnya Usia

Oleh : Ova YantiHari ini, genap sudah usiaku tiga puluh tahun. Merenungi tentang usia, tidak salahlah kalau aku, menghubungkannya dengan hari yang biasa disebut...

Di Balik Kalimat “Semua Akan Indah Pada Waktunya”

Kali ini kita membahas tentang kalimat, "akan indah pada waktunya". Menulis atau mengucapkan kata-kata merupakan hak yang bebas dilakukan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Namun, pernahkah...

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para Wanita

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para WanitaWanita, engkaulah racun, engkaulah madu. Dari dirimu pula generasi penerus akan dilahirkan, bahkan di tanganmu tempat pembentukan generasi...

Bersyukur Dengan Hati, Lisan dan Perbuatan

Oleh: Pipit Era MartinaMensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kata ‘Alhamdulillah’ saja. Namun, ternyata ada beberapa cara mensyukuri nikmat...

More Articles Like This

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com