Kiat Belajar Cerdas Dari Ali bin Abi Thalib

1
920
santriwati

WahidNews, Jika ingin pandai maka belajarlah! Perintah yang lumrah diucapkan oleh setiap orang kepada mereka yang mengeluh akan hasil. Belajar menurut Skinner adalah proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlaku secara progresif, artinya setelah belajar mendapatkan hasil sesuai dengan harapan dan kerja kerasnya. Dengan kata lain adanya perubahan. Namun, kebanyakan para pelajar sekarang sering mengeluhkan hasil belajar mereka, yang katanya tidak sesuai dengan kerja keras sehingga saling contek mencontek pun  terjadi, dengan alasan percuma mereka belajar namun hasil mengecewakan.

Ali bin Abi Thalib atau sering dikenal sayidina Ali, sahabat sekaligus menantu nabi SAW yang tidak diragukan lagi kecerdasannya. Pada zamannya Ali adalah guru yang disegani oleh sahabat dan murid yang berguru padanya. Mengapa dia bisa cerdas? Karena dia mencintai ilmu. Kecintaan terhadap ilmu dibuktikan dengan mempelajari secara tekun, menuliskan ilmu, dan membagikannya kepada orang lain. Pastinya, kecerdasan yang dimiliki Ali merupakan proses dari belajar yang baik.

Bagaimana cara Ali belajar?
1.Konsentrasi dan Fokus
Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu ‘Anhu selalu konsentrasi pada belajarnya, karena konsentrasi adalah modal untuk paham secara mendalam. Seringkali kita mudah tergoda pada suatu hal disaat sedang belajar, memikirkan mata pelajaran lain misalnya yang belum terselesaikan. Tentu saja hal ini dapat mengganggu konsentrasi dalam belajar, sehingga ilmu yang dipelajari tidak terserap dengan baik. Atau memikirkan hal-hal keburukan lain misal, rasa malas. Ali berpesan, “ janganlah sekali-kali menuruti nafsumu, dan jadikanlah yang membantumu untuk menghindar darinya adalah pengetahuan, bahwasanya ia berusaha mengalihkan perhatianakalmu, mengacaukan pendapatmu, mencemarkan kehormatanmu memalingkan banyak urusanmu dan memberatkanmu dengan akibat yang engkau tanggung diakhirat. sesungguhnya nafsu adalah permainan. maka jika datang permainan menghilangkan kesungguhan. padahal agama tidak akan pernah berdiri tgak dan dunia akan menjadi lebih baik kecuali dengan kesungguhan. “

2.Pelajari yang penting
Pernah suatu ketika ditanya, “ jika kamu mau memasukan batu dan pasir pada suatu wadah maka, mana yang lebih didahulukan?” Pertanyaan yang sederhana tetapi kasat makna, jawabannya adalah masukan dahulu batunya. Batu dan pasir memiliki ukuran yang berbeda, batu lebih besar. Artinya, dahulukan batu karena pasir dapat dengan mudah dimasukan. Batu adalah kepentingan yang besar.
Sama halnya dalam belajar, dahulukan hal-hal yang terpenting karena jika belajar dalam waktu bersamaan dan banyak hasil yang didapatkan adalah hanya paham pada kulitnya saja. Untuk itu, ketika ingin mendalami maka belajarlah pada hal yang penting dahulu.

3.Memadukan IQ, EQ, dan SQ
Keseimbangan antara Intelektual Question (IQ), Emosional Question (EQ), dan Spritual Question (SQ) sangatlah penting. Ali sangat mengagungkan akalnya, karena kekayaan paling besar adalah ilmu pengetahuan. Dia selalu berpikir logis, analitis dan kritis namun kepribadiannya dan tingkah lakunya dalam keseharianpun menunjukkan kecerdasan pada emosionalnya. Jika hanya cerdas pada intelektualnya saja, bagaimana dia diterima masyarakat, dan murid-murid yang sangat hormat padanya. Kecerdasan spiritual pun Ali tunjukkan atas kemampuannya memahami islam dan mengamalkan ibadah setiap harinya. Ali mengatakan, “ inti semua perkara adalah makrifat kepada Allah Ta’ala, sedangkan tiangnya adalah taat kepada Allah SWT”

Rasulullah SAW pun mengakui kecerdasan Ali yang luar biasa, namun tidak menjadikannya besar kepala. Dia tetap rendah hati pada setiap orang, karena dunia adalah fana dan akhirat yang kekal. Mari belajar ilmu dan mengamalkannya untuk bekal kelak di akhirat. (Nida)
 
Referensi: Buku Rahasia Kecerdasan Ali Bin Abi Thalib Si Super Jenius