Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Tahun 570 M)

1
344
sejarah

WahidNews, Nabi Muhammad Saw lahir di Mekkah pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun gajah dalam keadaan yatim. Karena ayah Muhammad sakit dalam perjalanan dari Syam dan akhirnya meninggal di tempat saudara-saudara ibunya itu. Penamaan tahun gajah berkaitan dengan peristiwa pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, gubernur Yaman yang ingin menghancurkan Ka’bah. Namun sebelum sampai ke kota Mekkah, mereka diserang oleh pasukan burung yang membawa batu-batu kerikil panas (qur’an surah Al-Fil : 1-5). Kelahiran Nabi Muhammad Saw bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi.

Kelahiran Nabi Muhammad membuat gembira kakeknya yaitu Abd’l Muttalib. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum dikalangan orang Arab, tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya bayi itu kepada ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya dari keluarga Sa’d (Banu Sa’d), untuk kemudian menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekkah. Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd’l Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. “ kuinginkan dia akan menjadi orang yang terpuji, bagi tuhan dilangit dan bagi makhluk-Nya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib.

Pada hari kedelapan sesudah dilahirkan anak itu pun dikirimkan ke pedalaman dan baru kembali pulang ke Kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Dikalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa’d. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah saudara susuan.

Sekalipun Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya. Setelah wanita itu meninggal pada tahun ketujuh sesudah ia Hijrah ke Madinah, untuk meneruskan hubungan baik itu ia menanyakan tentang anaknya yang juga menjadi saudara susuan, tetapi kemudian ia mengetahui bahwa anak itu juga sudah meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya datang juga wanita-wanita keluarga Sa’d yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan. Akan tetapi mereka menghindari anak-anak yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa dari sang ayah. Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu diantara mereka itu tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat mereka harapkan.

Akan tetapi Halimah Bin Abi-Dhua’ib yang pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Disamping itu karena dia memang seorang wanita yang kurang mampu, ibu-ibu lainnya pun tidak menghiraukannya. Setelah sepakat mereka akan meninggalkan Mekah, Halimah berkata kepada Harith bin Abd’l-Uzza suaminya : “ Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga.”

“Baiklah,” jawab suaminya.” Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.” Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi bersama-sama dengan teman-temannya di pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunya pun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Selama dua tahun Muhammad tinggal disahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima’, putrinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar. Dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badanya. Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa anak itu kepada ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke pedalaman. Hal ini dilakukan karena kehendak ibunya. Du tahun lagi anak itu tinggal disahara, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi. (Ruby)

Sumber :
Muhammad Husain Haekal. 2002. Sejarah Hidup Muhammad. Cet ke-26. Jakarta : PT. Mitra Kerjaya Indonesia.