Ibrahim ‘Alaihis Salam Mencari Tuhan

1
260
gurun

WahidNews, Kalau Ismail ‘Alaihis Salam adalah orang pertama yang menjadikan Mekah sebagai tempat tinggal, maka sejarah tempat ini sebelum itu gelap sekali. Mungkin dapat juga dikatakan, bahwa daerah ini dipakai tempat ibadat juga sebelum Ismail datang dan menetap ditempat itu. Kisah kedatangannya ke tempat itu pun memaksa kita membawa kisah Ibrahin ‘Alaihis Salam secara ringkas.

Ibrahim ‘Alaihis Salam dilahirkan di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang kayu pembuat patung. Patung-patung itu kemudian dijual kepada masyarakatnya sendiri, lalu disembah. Sesudah ia remaja betapa ia melihat patung-patung yang dibuat oleh ayahnya itu kemudian disembah oleh msyarakatdan betapa pula mereka memberikan rasa hormat dan kudus kepada sekeping kayu yang pernah dikerjakan ayahnya itu. Rasa syak mulai timbul dalam hatinya. Kepada ayahnya ia pernah bertanya bagaimana hasil kerajinan tanganya itu sampai disembah orang?.

Kemudian Ibrahim ‘Alaihis Salam menceritakan hal itu kepada orang lain. Ayahnya pun sangat memperhatikan tingkah laku anaknya itu, karena ia kuatir hal ini akan menghancurkan perdaganganya. Ibrahim sendiri orang yang percaya kepada akal pikiranya. Ia ingin membuktikan kebenaran pendapatnya itu dengan alasan-alasan yang dapat diterima. Ia mengambil kesempatan ketika orang sedang lengah. Ia pergi menghampiri sang dewa, dan berhala itu dihancurkan, kecuali berhala yang paling besar. Setelah diketahui orang, mereka berkata kepadanya :
“ Engkaukah yang melakukan itu terhadap dewa-dewa kami, hai Ibrahim?” Dia menjawab : ‘ Tidak. Itu dilakukan oleh yang paling besar diantara mereka. Tanyakanlah kepada mereka, kalau memang mereka bisa bicara.” (Qur’an, 21 : 62-63).

Ibrahim ‘Alaihis Salam melakukan itu sesudah ia memikirkan betapa sesatnya mereka menyembah berhala, sebaliknya siapa yang seharusnya mereka sembah.
“ Bila malam sudah gelap, dilihatnya sebuah bintang. Ia berkata : inilah Tuhanku. Tetapi bilamana bintang itu kemudian terbenam, ia pun berkata : ‘Aku tidak menyukai segala yang terbenam.’ Dan setelah dilihatnya bulan terbit, ia pun berkata : ‘ Inilah Tuhanku”. Tetapi bilamana bulan itu kemudian terbenam, ia pun berkata : ‘ kalau Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku akan jadi sesat.’ Dan setelah dilihatnya matahari terbit, ia pun berkata : ‘ Ini Tuhanku. Ini yang lebih besar.’ Tetapi bilamana matahari itu juga kemudian terbenam, ia pun berkata : ‘ Oh kaumku. Aku lepas tang terhadap apa yang kamu persekutukan itu. Aku mengarahkan wajahku hanya kepada yang telah menciptakan semesta langit dan bumi ini. aku tidak termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan.” (Qur’an, 6 : 76-79).

Sumber :
Muhammad Husain Haekal. 2002. Sejarah Hidup Muhammad. Cet ke-26. Jakarta : PT. Mitra Kerjaya Indonesia.