Benarkah Kecerdasan Anak Dipengaruhi Gen Ibu Saja?

1
432
anak cerdas
WahidNews, Orang tua mana yang tidak ingin mempunyai anak cerdas? Setiap orang tua menginginkan keturunannya lebih baik darinya, apalagi anak merupakan aset keluarga sebagai cerminannya. Ketika anak dikenal dengan penilaian buruk di masyarakat tentu saja, orang tua akan terkena imbasnya. Oleh karena itu, anak yang membagakan idaman orang tua.

Anggapan yang beredar di masyarakat menyatakan, jika ingin mempunyai anak cerdas menikahlah dengan perempuan yang cerdas pula. Karena gen ibu mempunyai pengaruh besar pada anak. Pernyataan demikian pernah dilontarkan oleh ahli genetika dari UM C Nijmegen Netherlands, Dr Ben Hamel, tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu. Dimana manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY. Dengan demikian Ben menyimpulkan bahwa ibu berpengaruh pada kecerdasan anak.

Lantas, bagaimana islam memandang demikian?

Manusia diciptakan Allah SWT dibekali dengan akal untuk berpikir, agar mereka menjadi cerdas dan dapat memilih jalan yang baik. Untuk itu, sejak awal manusia semestinya mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang baik dari orang tua. Tanggung jawab orang tua terhadap anak bukan hanya pada membesarkan anak saja, tetapi pendidikan agama, sosial, dan lain-lain yang akan menjadikan anak berperilaku baik. Abdullah bin Umar ra. yang artinya “didiklah anakmu karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya, dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya, serta ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah al Maudud hal. 123)

Hanya kecerdasan secara intelektual pun tidaklah cukup, Emosional Question (EQ), dan Spritual Question (SQ) sangatlah penting untuk itu perlu keseimbangan. Leonardo Da Vinci menyatakan, kebanyakan manusia menganggurkan anugerah akal yang dimilikinya. Mempunyai mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan. Mempunyai perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, atau mempunyai telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan. Kondisi demikian tidak dianjurkan oleh islam. Manusia diperintahkan untuk menghargai akalnya dengan menggunakannya dalam mengimani Al-Khalik, jadi tidak dibangun atas dasar taklid (asal mengikuti saja).  Sebagai orang tua mengajarkan anaknya untuk mengenal iman agar mempunyai tujuan yang bermakana dengan memaknai nilai-nilai, dan kualitas kehidupan spiritualnya.

Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa konstribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Dalam islam kecerdasan demikian adalah bagaimana anak diajarkan untuk mempunyai akhlak mulia seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sehingga dapat diterima oleh masyarakat.

Kesemuanya pengaruh lingkungan dan pendidikan yang baik dari orang tua. Mencari istri yang cerdas saja tanpa diimbangi kecerdasan lain dapat mempengaruhi anak pula. Untuk itu, sebagai orang tua ajarkanlah anak kita menjadi yang bermanfaat untuk dirinya, keluarga, dan negara. (By.Nida Usanah)