Pentingnya Memahami Al-Maqashid Asy-Syari’ah

0
205

WahidNews, Syari’at Islam datang sebagai rahmat bagi manusia, menjaga kemashlahatan dalam semua hal dan keadaannya. Semua hukum yang ada, baik berupa perintah maupun larangan, yang terekam dalam teks-teks syari’at bukanlah sesuatu yang hampa tak bermakna. Namun semua itu mempunyai maksud dan tujuan, dan Allah Ta’ala menyampaikan syari’at-Nya dengan maksud dan tujuan tersebut. Oleh para ulama, maksud dan tujuan tersebut dinamakan dengan Al-Maqashid Asy-Syari’ah.

Pengertian Al-Maqashid Asy-Syari’ah 

Maqashid merupakan bentuk jamak dari maqshad, artinya adalah jalan yang lurus atau juga disebut dengan keadilan. Adapun Asy-Syari’ah, secara bahasa diartikan sebagai jalan atau sumber air. Sedangkan Al-Maqashid Asy-Syari’ah sebagai sebuah ilmu mempunyai definisi yang bermacam-macam. Bahkan imam Asy-Syathibi yang dianggap sebagai bapak maqashid, tidak memberikan batasan definisi yang jelas. [Abu Al-Fadl Jamaluddin Muhammad bin Mukarram bin Manzhur, Lisanul ‘Arab, vol. 7:5, Darul Hadits, Kairo, 2003, hal. 377;82]

Namun dari beberapa pokok pikirannya, pengertian Maqashid Asy-Syariah dapat disimpulkan sebagai ilmu yang ditujukan untuk mewujudkan kemashlahatan dunia dan akhirat bagi manusia berdasarkan pada aturan-aturan tertentu sehingga dengannya seseorang akan menjadi hamba Allah baik secara sadar (ikhtiyaran) maupun terpaksa (idhtiraran). [‘Izzudin bin Zagibah, Al Maqashid Al-‘Ammah li Al-Syari’ah Al-Islamiyyah, Dar Ash-Shafwah, Kairo, cet.I, 1996, hal 43].

Sejarah Al-Maqashid Asy-Syari’ah 

Hampir semua ulama Ushul kontemporer, termasuk Ibnu ‘Asyur, bersepakat bahwa Imam Asy-Syathibi adalah bapak Al-Maqashid Asy-Syari’ah pertama sekaligus peletak dasarnya. Namun itu tidak berarti bahwa sebelum beliau, ilmu maqashid tidak ada. Imam Asy-Syathibi lebih tepat disebut orang pertama yang menyusunnya secara sistematis.

Kata Al-Maqashid sendiri menurut Ahmad Raisuni, pertama kali digunakan oleh At-Tirmidzi dan Al Hakim, ulama yang hidup pada abad ke-3 H. Beliaulah – menurut imam Raisuni – yang pertama kali menyuarakan Al-Maqashid Asy Syari’ah melalui buku-bukunya, seperti : Al-Shalah wa Maqashiduh, Al Hajj wa Asraruhu, Al-‘Illah, ‘Ilal Asy-Syari’ah, ‘Ilal Al-‘Ubudiyyah, dan juga dalam kitab Al Furuq yang kemudian diadopsi oleh imam Al-Qarafi menjadi judul buku karangannya.

Setelah Al Hakim, munculah Abu Manshur Al-Maturidi (333 H) dengan karyanya yang berjudul Ma’khad Asy-Syara’. Disusul Abu Bakar Al-Qaffal Al-Syasyi (365 H) dengan bukunya yang berjudul Ushul Al-Fiqh dan Mahasin Asy-Syari’ah. Setelah Al Qaffal muncul Abu Bakr Al Abhari (375 H) dan Al-Baqilani (403 H). Sepeninggal Al-Baqilani, munculah Al Juwaini, Al Ghazali, Ar-Razi, Al-Amidi, Ibn Hajib, Al-Baidhawi, Al-Asnawi, Ibnu Subuki, Ibnu ‘Abdi As-Salam, Al-Qarafi, Ath-Thufi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.

Sedangkan menurut Hammadi Al-‘Ubaidi, bahwa orang yang pertama kali membahas Al-Maqashid Asy-Syari’ah adalah Ibrahim An-Nakha’i (96 H), seorang tabi’in sekaligus guru Abu Hanifah, setelah itu baru muncul Al-Ghazali ‘Izzuddin Abdussalam, Najmuddin Ath-Thufi dan terakhir adalah imam Asy-Syathibi.

Meskipun versinya bermacam-macam, namun dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum imam Asy-Syathibi, Al-Maqashid Asy-Syari’ah sudah ada dan sudah dikenal hanya saja susunanya belum sistematis. [Aep Saepullah Darusmanwiati, Imam Asy-Syathibi, Bapak Maqashid Al-Syari’ah pertama, Islib.com, Edisi Sabtu, 29 November 2003, http://www.pcimmesir.com]

Urgensi Al-Maqashid Asy-Syari’ah 

Ada beberapa manfaat secara umum bila kita mempelajari Al-Maqashid Asy-Syari’ah, antara lain adalah :

1. Al-Maqashid Asy-Syari’ah dapat membantu mengetahui hukum-hukum yang bersifat umum (kulliyah) maupun parsial (juz’iyyah).

2. Memahami nash-nash syar’i secara benar dalam tataran praktek.

3. Membatasi makna lafadz yang dimaksud (madlul al-alfadz) secara benar, karena nash-nash yang berkaitan dengan hukum sangat variatif baik lafadz maupun maknanya. Al-Maqashid Asy-Syari’ah berperan dalam membatasi makna yang dimaksud.

4. Ketika tidak terdapat dalil yang pasti dalam al-Qur’an dan as-Sunnah pada masalah-masalah yang baru (kontemporer), para mujtahid merujuk kepada Al-Maqashid Asy-Syari’ah dalam istimbath hukum setelah mengkombinasikan dengan Qiyas, ijtihad, istihsan, istislah, dll.

5. Al-Maqashid Asy-Syari’ah membantu mujtahid untuk mentarjih sebuah hukum yang terkait dengan perbuatan manusia (af’al mukallafin) sehingga menghasilkan hukum yang sesuai dengan kondisi masyarakat. [Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily, Maqashid Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah, I/9, Maktabah Syamilah].

Sehingga dalam syariat dikenal dengan sebuah istilah Adh-Dharuriyat Al Khamsah, artinya adalah lima hal yang sangat penting. Diantaranya adalah : agama, jiwa, akal, keturunan, dan, harta . Kelima hal tersebut merupakan mashlahah yang senantiasa akan dijaga oleh syari’at meskipun dengan jalan yang berbeda-beda. Sehingga syari’at akan meletakkan dua sendi dasar yaitu mewujudkan hukum dan menjaga kesinambungan hukum tersebut.

(Majalah Hujjah, Edisi Januari 2015)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of