Pentingnya Memahami Al-Maqashid Asy-Syari’ah

0
921
memahami maqashid

WahidNews, Syari’at Islam datang sebagai rahmat bagi manusia, menjaga kemashlahatan dalam semua hal dan keadaannya. Semua hukum yang ada, baik berupa perintah maupun larangan, yang terekam dalam teks-teks syari’at bukanlah sesuatu yang hampa tak bermakna. Namun semua itu mempunyai maksud dan tujuan, dan Allah Ta’ala menyampaikan syari’at-Nya dengan maksud dan tujuan tersebut. Oleh para ulama, maksud dan tujuan tersebut dinamakan dengan Al-Maqashid Asy-Syari’ah.

Pengertian Al-Maqashid Asy-Syari’ah 

Maqashid merupakan bentuk jamak dari maqshad, artinya adalah jalan yang lurus atau juga disebut dengan keadilan. Adapun Asy-Syari’ah, secara bahasa diartikan sebagai jalan atau sumber air. Sedangkan Al-Maqashid Asy-Syari’ah sebagai sebuah ilmu mempunyai definisi yang bermacam-macam. Bahkan imam Asy-Syathibi yang dianggap sebagai bapak maqashid, tidak memberikan batasan definisi yang jelas. [Abu Al-Fadl Jamaluddin Muhammad bin Mukarram bin Manzhur, Lisanul ‘Arab, vol. 7:5, Darul Hadits, Kairo, 2003, hal. 377;82]

Namun dari beberapa pokok pikirannya, pengertian Maqashid Asy-Syariah dapat disimpulkan sebagai ilmu yang ditujukan untuk mewujudkan kemashlahatan dunia dan akhirat bagi manusia berdasarkan pada aturan-aturan tertentu sehingga dengannya seseorang akan menjadi hamba Allah baik secara sadar (ikhtiyaran) maupun terpaksa (idhtiraran). [‘Izzudin bin Zagibah, Al Maqashid Al-‘Ammah li Al-Syari’ah Al-Islamiyyah, Dar Ash-Shafwah, Kairo, cet.I, 1996, hal 43].

Sejarah Al-Maqashid Asy-Syari’ah 

Hampir semua ulama Ushul kontemporer, termasuk Ibnu ‘Asyur, bersepakat bahwa Imam Asy-Syathibi adalah bapak Al-Maqashid Asy-Syari’ah pertama sekaligus peletak dasarnya. Namun itu tidak berarti bahwa sebelum beliau, ilmu maqashid tidak ada. Imam Asy-Syathibi lebih tepat disebut orang pertama yang menyusunnya secara sistematis.

Kata Al-Maqashid sendiri menurut Ahmad Raisuni, pertama kali digunakan oleh At-Tirmidzi dan Al Hakim, ulama yang hidup pada abad ke-3 H. Beliaulah – menurut imam Raisuni – yang pertama kali menyuarakan Al-Maqashid Asy Syari’ah melalui buku-bukunya, seperti : Al-Shalah wa Maqashiduh, Al Hajj wa Asraruhu, Al-‘Illah, ‘Ilal Asy-Syari’ah, ‘Ilal Al-‘Ubudiyyah, dan juga dalam kitab Al Furuq yang kemudian diadopsi oleh imam Al-Qarafi menjadi judul buku karangannya.

Setelah Al Hakim, munculah Abu Manshur Al-Maturidi (333 H) dengan karyanya yang berjudul Ma’khad Asy-Syara’. Disusul Abu Bakar Al-Qaffal Al-Syasyi (365 H) dengan bukunya yang berjudul Ushul Al-Fiqh dan Mahasin Asy-Syari’ah. Setelah Al Qaffal muncul Abu Bakr Al Abhari (375 H) dan Al-Baqilani (403 H). Sepeninggal Al-Baqilani, munculah Al Juwaini, Al Ghazali, Ar-Razi, Al-Amidi, Ibn Hajib, Al-Baidhawi, Al-Asnawi, Ibnu Subuki, Ibnu ‘Abdi As-Salam, Al-Qarafi, Ath-Thufi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.

Sedangkan menurut Hammadi Al-‘Ubaidi, bahwa orang yang pertama kali membahas Al-Maqashid Asy-Syari’ah adalah Ibrahim An-Nakha’i (96 H), seorang tabi’in sekaligus guru Abu Hanifah, setelah itu baru muncul Al-Ghazali ‘Izzuddin Abdussalam, Najmuddin Ath-Thufi dan terakhir adalah imam Asy-Syathibi.

Meskipun versinya bermacam-macam, namun dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum imam Asy-Syathibi, Al-Maqashid Asy-Syari’ah sudah ada dan sudah dikenal hanya saja susunanya belum sistematis. [Aep Saepullah Darusmanwiati, Imam Asy-Syathibi, Bapak Maqashid Al-Syari’ah pertama, Islib.com, Edisi Sabtu, 29 November 2003, http://www.pcimmesir.com]

Urgensi Al-Maqashid Asy-Syari’ah 

Ada beberapa manfaat secara umum bila kita mempelajari Al-Maqashid Asy-Syari’ah, antara lain adalah :

1. Al-Maqashid Asy-Syari’ah dapat membantu mengetahui hukum-hukum yang bersifat umum (kulliyah) maupun parsial (juz’iyyah).

2. Memahami nash-nash syar’i secara benar dalam tataran praktek.

3. Membatasi makna lafadz yang dimaksud (madlul al-alfadz) secara benar, karena nash-nash yang berkaitan dengan hukum sangat variatif baik lafadz maupun maknanya. Al-Maqashid Asy-Syari’ah berperan dalam membatasi makna yang dimaksud.

4. Ketika tidak terdapat dalil yang pasti dalam al-Qur’an dan as-Sunnah pada masalah-masalah yang baru (kontemporer), para mujtahid merujuk kepada Al-Maqashid Asy-Syari’ah dalam istimbath hukum setelah mengkombinasikan dengan Qiyas, ijtihad, istihsan, istislah, dll.

5. Al-Maqashid Asy-Syari’ah membantu mujtahid untuk mentarjih sebuah hukum yang terkait dengan perbuatan manusia (af’al mukallafin) sehingga menghasilkan hukum yang sesuai dengan kondisi masyarakat. [Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily, Maqashid Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah, I/9, Maktabah Syamilah].

Sehingga dalam syariat dikenal dengan sebuah istilah Adh-Dharuriyat Al Khamsah, artinya adalah lima hal yang sangat penting. Diantaranya adalah : agama, jiwa, akal, keturunan, dan, harta . Kelima hal tersebut merupakan mashlahah yang senantiasa akan dijaga oleh syari’at meskipun dengan jalan yang berbeda-beda. Sehingga syari’at akan meletakkan dua sendi dasar yaitu mewujudkan hukum dan menjaga kesinambungan hukum tersebut.

(Majalah Hujjah, Edisi Januari 2015)