Kaidah-kaidah Fiqih, Kebutuhan Dasar Pencari Ilmu

0
602
belajar fikih
مَنْ حَرَمَ الْأُصُوْل حَرَمَ الْوُصُوْل
“Barang siapa yang tidak memahami Ushul (kaidah umum suatu ilmu) maka dia tidak akan bisa menguasainya”.

WahidNews, Menguasai Qawaidh Fiqhiyyah dengan baik (tentunya setelah menguasai Ushul Fikih) merupakan syarat yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid. Dengan disiplin ilmu inilah, seorang mujtahid mampu mengetahui berbagai permasalahan fikih, selain itu juga untuk menetapkan hukum permasalahan yang belum ditetapkan hukumnya.

Meski tidak menjadi ilmu wajib bagi seorang mujtahid, bukan berarti bahwa Qawaidh Fiqhiyyah tidak perlu diketahui dan dipelajari oleh Thalibul ilmi (penuntut ilmu) atau kalangan awam. Sebagaimana dimaklumi bahwa permasalahan-permasalan fiqih demikian banyak dan beraneka ragam. Mengetahui permasalahan-permasalahan tersebut secara keseluruhan tentu cukup sulit. Selain itu juga, biasanya jika tidak sering dimuraja’ah (dikaji ulang), maka permasalahan tersebut sangat mudah terlupakan. Di sinilah, Qawaidh Fiqhiyyah diperlukan. Dengan tujuan untuk menghimpun beberapa permasalahan fikih yang serupa, sekaligus untuk mengingat permasalahan yang serupa tersebut. Ini karena pilihan kata Qawaidh Fiqhiyyah dibentuk sedemikian rupa sehingga mudah untuk dihafal dan diingat.

Selain itu, disiplin ilmu ini akan menjaga seorang mujtahid atau thalibul ilmi dari menyimpulkan beberapa hukum yang kontradiksi dengan hukum lainnya. Seperti berkesimpulan bahwa janin hewan yang induknya disembelih juga harus disembelih agar tidak menjadi bangkai berdasarkan keumuman perintah untuk menyembelih hewan, atau ‘berfatwa’ bahwa diperbolehkan menjual janin hewan atau menghadiahkannya saat janin itu masih berada di dalam perut induknya. Padahal hukum janin yang masih berada di dalam perut induknya mengikuti hukum induknya dan tidak dihukumi secara terpisah dari induknya, sebagaimana kaidah “At Tabi’u tabi” (Tabi’ – sesuatu yang tidak bisa terpisahkan dari yang lainnya/matbu’ – pasti mengikuti – yang lainnya tersebut/matbu’-) dan kaidah “At Tabi’u La Yafrudu bil hukmi” (Tabi’ tidak dihukumi secara terpisah). Dalam contoh tersebut, janin adalah taabi’, sedangkan induknya adalah matbuu’. Ini berarti , janin dalam perut induknya tidak perlu disembelih, dan tidak boleh menjual atau menghadiahkannya secara terpisah tanpa menjual atau menghadiahkan induknya.

Dan terpenting, disiplin ini juga membantu mereka untuk mengetahui maqashid syari’ah. Ini karena dengan mengetahui suatu kaidah dan berbagai permasalahan fikih yang menjadi turunannya maka akan membantu seseorang untuk memahami maqashid syari’ah. Dengan mempelajari kaidah “Al-Masyaqqatu Tajlibut Taisir” (Kepayahan/kesulitan itu menuntut adanya kemudahan) dan mempelajari permasalahan yang menjadi turunannya sebagai misal, hal ini akan memberikan wacana bagi yang mempelajarinya bahwa menolak suatu kepayahan/kesulitan atau menghilangkannya adalah bagian dari maqashid syariah. Singkatnya, Qawaidh Fiqhiyyah sangat membantu seorang Thalibul Ilmi untuk mempelajari fikih. Dan dari sini juga ‘insting’ fikih seseorang akan berkembang.

Sebagai contoh, ketika seseorang belajar dengan baik salah satu kaidah, sperti “Al-Umura bi Maqashidiha” (Hukum setiap perkara itu tergantung dengan niat atau tujuannya), maka dia pada hakikatnya telah mempelajari beberapa bab dan beberapa permasalahan fikih, tentunya yang berkaitan dengan permasalahan niat. Bahkan, menurut Imam Asy-Syafi’i, dia telah belajar lebih dari 70 bab ilmu. Dengan kaidah ini, seseorang akan mengerti beberapa permasalahan, seperti urgensi niat; kapan saja seseorang diharuskan berniat secara spesifik (Ta’yinun niyyah); kapan suatu perbuatan dihukumi dari lahirnya tanpa perlu mempertanyakan niatnya; dan permasalahan lainnya.

Kaidah Fikih sangat dibutuhkan, bahkan oleh orang awam

Diantara sekian banyak kaidah fikih tersebut, bahkan ada beberapa yang tidak hanya harus diketahui dengan baik oleh seorang mujtahid atau dipelajari oleh Thalibul Ilmi, tetapi juga semestinya dipelajari dan diketahui oleh orang awam. Diantara kaidah tersebut, seperti : Adh-Dhararu La Yazalu bid Dharari (Suatu bahaya tidak bisa dihindari dengan bahaya yang semisal). Untuk itulah, definisi bahaya dan tingkatan suatu bahaya jelas tidak hanya harus diketahui oleh seorang mujtahid atau thalibul ilmi, namun juga oleh orang awam. Dengan mempelajari kaidah ini, seseorang akan mengetahui bahwa seseorang tidak diperbolehkan membunuh orang lain, meski ia sendiri berada pada posisi dipaksa (mukrah) yang diancam jika melakukannya akan dibunuh.

Dalam kasus muamalah misalnya, seorang pembeli yang menemukan suatu cacat pada barang yang dibelinya lalu terjadi cacat baru pada barang tersebut, maka pembeli tadi tidak boleh mengembalikan barang tadi lantaran adanya cacat yang ada sebelumnya. Kasus pertama, jika dia membunuh orang lain berarti dia menghilangkan madharat pada dirinya dengan suatu madharat serupa untuk orang lain. Meski kaidah ini dalam pembahasannya sering dikaitkan dengan masalah hukum syar’i, namun pada hakikatnya juga menyangkut permasalahan-permasalahan yang lain dalam interaksi antar sesama manusia.

Kaidah lain yang diperlukan seperti,
إِذَا اجْتَمَعَ الْحَلاَلُ وَالْحَرَامُ أَوِ الْمُبِيْحُ وَالْمُحَرَّمُ غُلِبَ الْحَرَمُ
“Jika antara halal dan haram, atau mubah dan haram bertemu, maka besar kemungkinan dihukumi haram”. Kaidah ini merupakan umum yang diperlukan kalangan umum terkhusus yang berkaitan dengan hukum halal-haram. Ini karena lebih condong kepada keharaman merupakan sikap untuk menghindari suatu mafsadah dan lebih dekat kepada takwa dan wara’. Diantara aplikasi kaidah ini, seperti jika seorang wanita dikenai kewajiban mandi janabah sementara dia tidak mendapati sesuatu yang dapat menutupinya dari pandangan laki-laki, maka dia diperbolehkan untuk menangguhkan mandi janabahnya. Sebab, tersingkapnya beberapa anggota tubuh wanita di hadapan laki-laki adalah suatu mafsadah. Demikian juga diharamkan untuk memperjualbelikan benda yang diharamkan -seperti khamar, narkoba, dan babi- meskipun hal itu dapat mendatangkan keuntungan ekonomi, juga larangan pemilik rumah untuk membuka jendela rumahnya yang mengakibatkan dia bisa melihat aurat istri tetangganya, dan contoh lainnya.

Dari itu semua, seseorang tidak akan sampai pada tujuan akhir dari mempelajari fikih, kecuali dibarengi dengan ilmu dasar dari fikih, yang termasuk di dalamnya, Qawaidh Fiqhiyyah. Hal inilah yang sering diingatkan oleh Syaikh al-Utsaimin. Beliau pernah berkata, “Diantara perkara terpenting yang semestinya dimiliki oleh thalibul ilmi adalah mengetahui kaidah-kaidah dan ushul (dasar-dasar ilmu), karena hal itulah yang dapat mengantarkannya pada ilmu tersebut. Adapun jika hanya mengetahui suatu permasalahan tertentu maka hanya dapat memberikan sedikit manfaat dan cepat dilupakan oleh seseorang. Seseorang yang mengetahui hukum suatu permasalahan tertentu (ini halal, ini haram, ini wajib, ini makruh), tidak diragukan bahwa itu bermanfaat. Namun, hal itu bukanlah sikap seorang thalibul ilmi. Sepantasnya bagi seorang thalibul ilmi untuk menguasai kaidah-kaidah dan dasar-dasar ilmu yang dapat dijadikannya pondasi atau acuan, sehingga jika dia ditanya mengenai hukum suatu masalah, maka dia bisa merujuk pada kaidah-kaidah yang umum tersebut”. Menutup penjelasannya tentang ini, Syaikh berkata, “Untuk itu, saya menganjurkan kepada para thalibul ilmi untuk menguasai kaidah-kaidah dan dasar-dasar ilmu, karena itulah yang mampu mengembangkan kemampuan mereka dan mampu menghimpun ilmu yang sepotong-sepotong untuknya”.