Cara Memahami Dalil Yang Kontradiktif

0
387
memahami dalil

“Dalil yang tampak saling kontradiktif (ta’arudh) kemungkinan besar bukan karena kedua dalil tersebut yang saling bertentangan, namun lantaran ilmu, pemahaman dan tadabbur manusialah yang belum mampu menghasilkan pemahaman yang tepat. Untuk itu, bukan dalilnya yang harus dibenturkan, namun ilmu, pemahaman, dan tadabbur kitalah yang semestinya ditingkatkan.”

Memahami nash-nash syar’i yang substansinya sekilas tampak kontradiksi (ta’arudh) merupakan persoalan urgen dalam berfikih. Dalam bidang inilah kefakihan seorang fakih atau thalibul ilmi akan teruji. Seorang fakih akan mendapat pengakuan jika ia mampu berinteraksi dengan hal ini secara baik, pun demikian juga dengan thalibul ilmi.

Demikian urgennya persoalan ini, tidaklah mengherankan jika imam an-Nawawi berkomentar, “Disiplin ilmu ini merupakan disiplin ilmu yang terpenting. Seluruh ulama dalam berbagai bidang harus mengetahuinya… yang bisa sempurna menguasainya hanya para Aimmah (imam-imam fikih) yang mampu mengharmoniskan antara hadits dan fikih dan juga para ulama ushul fikih yang mampu menyelami makna-makna (nash-nash syar’i)”.

Imam An-Nawawi tidak sendirian berkomentar seperti ini, al-Hafizh as-Sakhawi juga berkomentar serupa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan menganalogikan seseorang yang bergelut dengan disiplin ini ibarat berenang di samudera tak bertepi. Beliau mengatakan, “Saling kontradiksinya dalail (petunjuk-petunjuk) nash-nash [syar’i], dan merajihkan nash yang satu atas nash lainnya, laksana samudera tak bertepi.”

Definisi Ta’arudh

Secara etimologi (bahasa) ta’arudh berasal dari bahasa arab yang diderifasikan dari kata ‘a-ra-dha yang memiliki banyak arti, diantaranya : tampak dan menampakkan (zhuhur wa izhhar), menghalangi, menutup, dan menahan (man’u wa sadd wa habs), serta saling berhadap-hadapan (muqabalah) [Lisanul ‘Arab, 7/165-169]. Sedangkan menurut terminologi (istilah), ta’arudh didefinisikan sebagai kontradiksi antara dua dalil dimana dalil yang satu bertentangan dengan dalil lainnya. Dalil yang dimaksud dalam definisi ini mencakup al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas, meski pada umumnya hal itu mengerucut pada dalil dari al-Qur’an dan Sunnah. Dan saling bertentangan antara dua dalil tersebut tidak harus bertentangan secara menyeluruh antara kedua dalil, namun cukup salah satu substansi dari kedua dalil tersebut. [Syarhul Ushul Min ‘Ilmil Ushul, Al Utsaimin, 587].

Contoh Ta’arudh dan Cara Memahaminya

Diantara contoh dari ta’arudh ini adalah hadits-hadits yang menjelaskan mengenai adab ke kamar mandi. Pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub al-Anshari r.a, Rasulullah Saw bersabda, “Jika kalian mendatangi kamar mandi (WC) maka janganlah kalian menghadap kiblat ketika buang air besar dan buang air kecil, dan jangan pula membelakanginya. Namun berhadaplah ke timur atau ke barat (arah kiblat penduduk Madinah adalah selatan)” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Sementara pada kejadian yang diceritakan oleh Ibnu Ummar r.a. bahwa pada suatu hari dia pernah menaiki atap rumah Hafshah (Saudara perempuannya yang juga istri nabi Muhammad Saw) untuk suatu (keperluan). Tanpa sengaja dia lalu melihat nabi Muhammad Saw yang sedang menunaikan hajatnya (buang air) dengan menghadap ke Syam dan membelakangi Ka’bah. [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Kedua hadits di atas sekilas tampak saling kontradiksi. Hadits pertama berupa larangan Nabi Saw untuk tidak menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang air besar maupun kecil. Sedangkan hadits kedua berupa perbuatan Nabi Saw yang membelakangi kiblat ketika buang air.

Beberapa fuqaha berpendapat bahwa hadits pertama lebih diprioritaskan dibanding dengan hadits kedua. Karena hadits pertama adalah (qaul) perkataan Rasulullah Saw sementara hadits kedua merupakan (fi’il) perbuatan Nabi Saw, sedangkan kaidahnya adalah mendahulukan qaul (perkataan) Rasulullah Saw atas fi’il (perbuatan)nya. Dari sana mereka membuat kesimpulan bahwa hukum buang air besar atau kecil dengan menghadap atau membelakangi kiblat adalah antara haram dan makruh. Beberapa fuqaha lainnya berpandangan bahwa larangan yang dimaksudkan dalam hadits pertama adalah larangan buang air besar atau kecil dengan menghadap kiblat, sementara membelakangi kiblat saat buang air besar atau kecil merupakan rukhshah.

Kelompok fuqaha yang pertama lebih cenderung merajihkan (menguatkan) substansi isi salah satu dari dua hadits tersebut, tanpa terlebih dahulu berusaha untuk mengkompromikan kedua hadits tersebut, atau telah berusaha untuk mengkompromikannya namun belum menemukan poin kompromi yang cocok antara keduanya. Padahal seharusnya adalah berusaha terlebih dahulu mengkompromikan antara nash-nash yang sekilas tampak saling kontradiksi tersebut sebisa mungkin.

Adapun kelompok fuqaha yang kedua, mereka telah mengambil langkah pertama yang tepat yaitu berusaha mengkompromikan antara kedua hadits tersebut, akan tetapi poin kompromi tersebut belum tepat sebab hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw melepaskan hajatnya dengan membelakangi kiblat disebutkan secara tegas dan tidak terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa itu merupakan suatu rukhshah.

Kompromi yang tepat antara kedua hadits tersebut -sebagaimana yang disebutkan Syaikh Saad bin Nashir asy-Syatiri- adalah, hadits pertama yang melaranguntuk buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat adalah ketika berada di luar ruangan (out door) seperti padang pasir, hutan, kebun, dan semisalnya. Sedangkan hadits kedua yang membolehkan untuk membelakangi atau menghadap kiblat adalah ketika berada di dalam ruangan (in door) seperti rumah, gedung-gedung ataupun WC umum. [Syarhu ‘Umdatil Ahkam, Asy-Syatiri, 1/46].

Adapun contoh dari al-Qur’an adalah seperti firman Allah SWT, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. [QS. Asy-Syura 52].

dan friman-Nya, “Sesunggunya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya” [QS. al-Qashash 56].

Zahir substansi kedua ayat di atas juga tampak saling kontradiksi. Ayat pertama menjelaskan bahwa seorang manusia dapat memberikan hidayah (petunjuk) kepada lainnya, sementara ayat kedua justru menegasikan hal itu bagi seorang manusia. Bagi yang memilih untuk mentarjih salah satu dari kedua ayat tersebut maka dia akan menemukan kesulitan mengingat bahwa keduanya adalah qath’iyyuts tsubut (diriwayatkan secara mutawatir), lafalnya yang jelas, dan keduanya tidak termasuk dalam kategori nasikh dan mansukh.

Jika kembali pada mufassirin, ternyata kedua ayat tersebut tidak saling kontradiksi dan memungkinkan untuk dikompromikan. Kuncinya terletak pada interpretasi dari hidayah (memberi petunjuk) pada kontek ayat pertama dan ayat kedua. Menurut as-Sa’di, maksud hidayah pada ayat pertama adalah memberikan penjelasan dan arahan (hidayatul bayan wal irsyad) mengenai Islam yang mengantarkan menuju hidayah Allah. Hal seperti itu berlaku untuk para rasul dan juga yang lainnya. Sedangkan hidayah yang dimaksud pada ayat yang kedua adalah menanamkan keimanan ke dalam hati seseorang (hidayatut taufiq). Hidayah yang kedua ini hanya mutlak milik Allah semata, para rasul pun tidak memilikinya apalagi selain mereka. [Taisirul Karimir Rahmaan, as-Sa’di, 744].

Dalil yang tampak saling kontradiksi (ta’arudh) kemungkinan besar bukan karena kedua dalil tersebut yang saling bertentangan, namun lantaran ilmu, pemahaman, dan tadabbur manusialah yang belum mampu menghasilkan pemahaman yang tepat. Untuk itu, bukan dalilnya yang harus dibenturkan, namun ilmu, pemahaman, dan tadabbur kitalah yang semestinya ditingkatkan. Wallahu a’lam.

(Ditulis Oleh : Ali Shodikin di Majalah Hujjah, edisi Rabi’ul Awwal 1436 H)