Beginilah Cara Memuaskan Suami Saat Haid

0
1043
cara memuaskan suami saat haid

Wanita yang sedang haid dilarang berhubungan badan dengan suaminya. Sebab hal itu dilarang oleh Allah Ta’ala dan bisa memberikan efek yang buruk bagi suami dan istri.

Aturan Islam tentang keintiman suami istri selama istri mengalami haid tercantum dalam ayat berikut :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al Baqarah 222).

Dalam bahasa arab, kata “mahidh” berarti tempat menstruasi atau waktu haid atau menstruasi itu sendiri.

Dalam konteks ayat tersebut, yang paling jelas artinya adalah lokasi menstruasi (kemaluan). Ayat tersebut menyatakan bahwa alasan untuk menjauhkan diri dari keintiman seksual adalah bahwa “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Karena inilah alasannya, maka dilarang menggauli istri di tempat menstruasi. Artinya suami tidak boleh melakukan hubungan seksual dengan istrinya. Namun bukan berarti suami dilarang kontak dengan istrinya selama masa haidnya.

bercumbu dengan istriLalu bagaimana cara istri memuaskan suami saat haid? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita simak hadits berikut :

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan, “Apabila saya haid, Rasulullah SAW menyuruhku untuk memakai sarung kemudian beliau bercumbu denganku,” (HR. Ahmad 25563, Turmudzi 132 dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Aisyah menceritakan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa memintanya untuk membungkus kain di pinggangnya saat mereka menginginkan keintiman selama masa menstruasi. [Shahih al-Bukhari 295]

Aisyah juga menceritakan:” Ketika Rasulullah SAW. Menginginkan keintiman dengan salah satu dari kita saat kami sedang haid, dia akan memerintahkannya untuk membungkus kain di sekitar daerah haidnya. Lalu dia akan menyentuhnya. Dan siapakah di antara kamu yang bisa mengendalikan hasratnya dan juga Nabi? “[Shahih al-Bukhari 296 dan Sahabat Muslim 293]

Hal yang sama juga disampaikan oleh Maimunah Radhiyallahu ‘Anha, “Rasulullah SAW bercumbu dengan istrinya di daerah di atas sarung, ketika mereka sedang haid,” (HR. Muslim 294).

Berdasarkan beberapa hadits di atas, istri bisa tetap memuaskan suami meskipun sedang masa haid dengan cara yang pernah dipraktekan oleh Nabi bersama istri-istrinya.

Istri bisa memuaskan suami dengan cara bermesraan dan bercumbu selain di tempat keluarnya menstruasi.

Area antara Pusar dan Lutut

Para ulama berbeda pendapat mengenai daerah yang biasanya tertutup oleh kain pinggang (daerah antara pusar dan lutut). Ada dua pendapat mengenai hal ini :

Pendapat Pertama: Suami dilarang menyentuh istrinya diantara pusar dan lutut kecuali melalui penghalang seperti kain pinggang atau pakaian lainnya. Inilah pandangan Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, al auza’i, Abu Yusuf dan sejumlah ulama lainnya.

Pendapat mereka berdasarkan dalil tentang adanya seorang pria bertanya kepada Rasulullah SAW apa yang diijinkan untuk dia dan istrinya selama menstruasi. Rasulullah SAW menjawab: “Dia harus membungkus kain di sekeliling pinggangnya dan kemudian Anda dapat melakukan apa yang Anda inginkan di atas itu.” [Al-Muwatta ‘(124) dan Sunan al-Dârimî (1014)]

Mereka juga mengutip beberapa hadits yang telah kita sebutkan mengenai istri Rasulullah SAW yang menggunakan kain pinggang selama masa menstruasi saat mereka ingin intim secara fisik. Namun, ahli fiqih terkemuka Ibn Daqiq al-`Id menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti melarang menyentuh seluruh area di bawah kain pinggang. Hadits ini hanya menyampaikan kepada kita tentang praktik Nabi bersama istri-istrinya saat berhubungan intim.

Pendapat Kedua: Diijinkan suami dan istri untuk menikmati keintiman fisik kecuali pada tempat keluarnya menstruasi (kemaluan). Beberapa ulama yang memegang pandangan ini mengatakan cukup menghindari daerah tersebut. Yang lain mengatakan, setidaknya ada kain yang menutupi area tersebut.

Saya kira penjelasan di atas sudah sangat gamblang, dan para istri tidak khawatir lagi ketika ingin memuaskan suami saat mengalami haid.

Islam mengatur semuanya. Dan Allah Ta’ala sudah tahu kebutuhan kita, termasuk dalam urusan hubungan suami istri. Semoga bermanfaat!

Incoming search terms: