Dari Nenek Hindun Sampai Inul Daratista

0
154
inul hina ulama

Wahidnews.com – Nenek Hindun, jika saja tidak ada ramai-ramai Pilkadal Jakarta, tentu tidak banyak yang kenal Beliau. Demikian juga dengan Inul, jika saja Ahok menerima perlakuan hukum yang adil, tentulah dia (Inul) tidak perlu bicara kebablasan tentang para Ulama. Ataupun dalam tahapan minimal, cuitan yang masuk kategori hate speech itu tidak bakal sampai terucap atau tertulis, cukup dalam hatinya saja.

Tetapi inilah hidup, dimana seringkali, kita jumpai kenyataan yang sebelumnya tak terpikirkan. Sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an, fragmen-fragmen kehidupan itu selalu memiliki tujuan. Diantaranya adalah bagian dari ujian, agar Alloh SWT melihat siapa diantara kita yang terbaik amalannya (Lihat Al-Mulk:2), maupun agar kita tetap bersikap adil terhadap musuh sekalipun (Al-Maidah:8).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Maka kita perlu memiliki sikap terbaik, terhadap dua contoh kasus di atas. Ketika pertama kali dengar kisah Nenek Hindun, saya langsung teringat hadits tentang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan. Menurut saya, keduanya memiliki spirit yang sama. Yaitu sama-sama tidak bisa dihukumi secara hitam putih. Perlu kajian fiqih yang mendalam. Untuk Nenek Hindun, kita perlu memahami latar belakang kehidupannya, kesehariannya, dan kondisi orang-orang disekitarnya.

Insya Allah, saya berhusnudzon, dakwah dari para Ulama Betawi telah sampai kepadanya. Tetapi kondisi fisik dan orang-orang terdekatnya, tentu memiliki pengaruh besar atas pilihan politiknya. Saya tidak tahu persis kondisi fisiknya, tetapi bisa jadi, kalau memang sakitnya parah, beban (taklif) telah diangkat atasnya. Yaitu saat dia sudah tidak mampu membedakan lagi mana benar dan salah, boleh dan tidak boleh. Dalam situasi seperti ini, kondisinya bakal disikapi sama seperti penyikapan terhadap (maaf) orang gila. Tak ada lagi kewajiban beriman dan beramal sholeh seperti dibebankan kepada manusia waras lainnya. Tentang orang-orang disekitarnya, jika benar anaknya adalah Ahoker, hingga dirasa perlu bagi Ahok untuk datang sendiri ke rumahnya, tentu ini juga mempengaruhi pilihan nenek Hindun semasa hidupnya.

bela ulamaTentang Kasus Inul, bagi saya lebih mudah mengurainya, karena Inul masih muda dan Taklif jelas berlaku atasnya. Pertama dan utama, di sinilah pentingnya barokah dalam hidup. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, mereka yang mencari nafkah dengan berdagang misalnya, tentu lebih barokah rezekinya, dibanding mereka yang mendapat rezeki dengan menjual (maaf) goyangan beraroma syahwat.

Secara materi mungkin kalah jauh, tetapi barokah sangat luas maknanya. Bisa berupa anak sholeh, kesehatan, kemudahan mendapat solusi atas berbagai persoalan, banyak lagi. Kedua, meskipun para pengacara memilih jalur hukum atas cuitan Inul, saya yakin para Ulama memilih memaafkannya. Mereka yakin betul, cuitan hate speech dari sosok seperti Inul, lahir akibat ketidak-tahuan. ‘Gak Ngerti’, kalau pakai bahasanya Cak Nun. Wong ‘gak ngerti, ya tidak dikenai hukuman. Sama seperti Arab Badui yang kencing di Masjid Rasululloh SAW. Dimaafkan dan diberi pemahaman agar tidak mengulangi kesalahannya.

Ketiga, di sinilah pentingnya kita memilih kawan bergaul, memilih tempat-tempat dimana waktu sebagian besar kita habiskan. Jika kita lebih dekat dengan kawan yang jauh dari agama, dan menghabiskan waktu di tempat yang menjauhkan kita dari agama, otomatis kita akan semakin jauh dari agama.

Pada akhirnya, kita harus tetap bersikap adil terhadap siapapun, sesuai perintah Al-Maidah:8 di atas. Bahkan terhadap penista agama seperti Ahok sekalipun. Kita hanya dituntut untuk menunjukkan keberpihakan kita, lalu menyeru orang-orang yang ada dalam jangkauan kita, untuk hidup sesuai tuntunan Qur’an dan Hadits. Di luar itu, Hidayah adalah Hak Prerogatif Alloh SWT. Sikap memaksa, hanya akan menimbulkan antipati yang kontraproduktif dengan tujuan dakwah itu sendiri.

Dan jangan lupa, Alloh SWT Maha Kuasa, Dia punya full control atas semua yang terjadi di kolong langit-Nya. Jika Dia masih memberi kesempatan pada manusia seperti Ahok untuk terus jumawa, sejatinya ini adalah ujian untuk kita semua.

Wallohu a’lam.

 

Ditulis Oleh : Mady Hakim