Jangan Biarkan Cahaya Itu Pergi dari Hatimu

0
366
menangis saat baca quran

Jangan Biarkan Cahaya Itu Pergi dari Hatimu

Oleh : Alya Adzkya

لَوْ طَهُرَتْ قُلُوْبُكُمْ مَا شَبِعَتْ مِنْ كَلاَمِ رَبَّكُمْ

Sebuah kalimat dari Utsman bin Affan di atas begitu mengguncang hati kita. “Kalau saja hati kalian bersih, kalian takkan puas membaca kalam Rabb kalian.” Lantas bagaimana keadaan hati kita saat ini?  Begitu kotorkah hingga lima belas menit saja justru membuat mata kita mengantuk saat membaca Al-Qur’an?

Duh, Rabbi … Maafkanlah semua kealpaan kami. Bahkan seorang guru pernah berkata, “Jika dalam satu hari kita tidak bisa meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, bukan karena kita tidak punya waktu untuk membacanya. Tapi Al-Qur’an sudah tidak lagi ridha dibaca oleh kita.” Maka, apalagi yang bisa kita perbuat jika pedoman dan pelipur lara itu tak lagi ridha dibaca oleh kita?

Apalagi bagi Para Penjaga Cahaya. Memang butuh proses agar hati kita bisa terpaut dengan Al-qur’an. Proses itu adalah dengan terus menerus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hingga jika satu hari kita tak membacanya, akan timbul rasa rindu ingin berinteraksi kembali padanya.

Pernahkah kita melihat adik kecil yang sedang belajar menaiki sepeda? Meski terjatuh ataupun terluka, ia terus saja belajar. Jatuh, bangkit lagi. Menabrak pagar, kaget sebentar lantas mengubah posisi sepeda lalu mengayuh lagi. Begitu terus sampai anak kecil tadi benar-benar bisa menaiki sepeda, tanpa perlu terjatuh atau menabrak pagar tetangga sebelah. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Dapat dipastikan adik kecil tadi akan semakin senang menjelajah dengan sepedanya. Bersepada tanpa kenal waktu. Matahari tunggang gunung, ia baru bergegas pulang ke rumah. Tak mempedulikan omelan Bunda. Tak apa, asal ia masih bisa bersepeda ke tempat-tempat lain esok hari.

cahaya al quranMengapa kita tidak membaca Al-Qur’an seperti itu? Meski awalnya tertatih, hafalan belum lancar, bahkan mungkin meneteskan air mata karena sulitnya. Jangan pernah menyerah, Kawan. Bayangkan saja, jika adik kecil tadi menyerah saat ia terjatuh dari sepeda lantas ngambek dan tidak lagi mau belajar, apakah ia akan bisa bersepeda? Tentu saja tidak, bukan?

Begitu pula dengan kita, Para Penjaga Cahaya yang masih meniti jalan kerinduan dengan Cahaya yang kita jaga. Jika kita menyerah sekarang lantas tak lagi melanjutkan, bukannya tidak mungkin cahaya-cahaya itu akan pergi dari hati kita.

Bergegaslah, Kawan. Mari kita bersungguh-sungguh membaca dan menghafalkan kalam Allah yang telah diamanahkan pada kita. Jangan pernah biarkan cahaya itu pergi dari hati. Jaga ia, hingga kita selalu rindu menyenandungkannya dalam sepi maupun ramai.

 

Medan, 08 Agustus 2016  

Save