Cara Menjawab Salam yang Diucapkan Oleh Non Muslim

0
358
cara menjawab salam dari non muslim

Bagaimana cara menjawab salam dari orang kafir? | Salam merupakan suatu ucapan yang baik. Mengucap salam juga termasuk salah satu kebiasaan baik yang mesti dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengucapkan salam kepada orang lain, artinya kita telah mendoakan keselamatan langsung bagi orang tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, terutama kita yang terhimpun dalam lingkungan negara dengan ragam etnik akan menemukan berbagai macam orang dengan suku, ras, dan agama yang berbeda pula. Menyikapi hal ini, sebagai makhluk sosial yang baik, maka kita pun telah seharusnya untuk saling menghargai, menjauhkan rasa berbeda, menghilangkan diskriminasi, dan berusaha untuk bersikap toleransi.

Sahabat, dalam keseharian seringkali kita menemukan tetangga atau teman yang memiliki keyakinan berbeda. Hal tersebut tidak akan menjadi masalah selama kita dapat bersikap saling menghargai. Namun, dalam beberapa situasi, tak jarang pula kita temukan mereka yang non muslim mengucap salam terlebih dahulu pada kita. Mungkin niatan mereka baik, sebagai sapaan awal atau sikap toleransi terhadap umat Islam.. Lalu, bolehkah kita menjawab salam tersebut?

Hukum menjawab salam yang diucapkan oleh non muslim

Salam yang dimaksudkan di sini ialah “assalamu’alaikum” yang berarti doa keselamatan bagi penerimanya. Dan mengenai cara menjawab salam yang diucapkan oleh non muslim, para ulama berbeda pendapat, Yaitu :

Pendapat Pertama, menjawab dengan jawaban lengkap, “Wa’alaikumus Salam” atau “Wa’alaikumus Salam wa Rahmatullahi wa Barakatuh”.

Berdasarkan keumuman dalil dari Qur’an surat An Nisa ayat 86 :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86).

Itulah dalil yang jadi alasan sebagian ulama (seperti Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah) bahwa jika orang kafir memberi salam “as salaamu ‘alaikum”, maka hendaklah dibalas dengan yang semisal, yaitu “wa ‘alaikumus salam”. Dan pendapat ini juga didukung oleh Asy Sya’bi dan Qotadah.

Ibnu ‘Abbas, juga pernah berkata, “Jika ada yang mengucapkan salam padamu, maka balaslah ucapannya walau ia seorang Majusi.”

Dalam kitab Fathul Bari karangan Ibnu Hajar, disebutkan bahwa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah justru memperbolehkan mengucap salam pada yang berbeda keyakinan. Dikisahkan bahwa mereka selalu mengucapkan salam pada orang-orang yang dilalui tatkala dalam perjalanan pulang ke rumah. Baik Islam, Kristen, anak kecil, orang tua, tanpa memandang status apapun. Dan ketika ia ditanya mengenai hal tersebut, jawabannya adalah “karena kita diperintahkan untuk menyebar salam”.

Kemudian dalam kisah Ibrahim An Nakhai pun kita dapat temukan hal serupa. Beliau merupakan seorang tabiin yang sangat agung pada masanya. Adapun beliau selalu mengucapkan salam baik dengan yang muslim maupun non muslim. Ketika beliau ditanya mengapa, jawabannya adalah “jika engkau mengucap salam, sesungguhnya orang shaleh juga pernah mengucapkan salam, jika kau meninggalkan salam, orang-orang shaleh sebelum kalian ada yang pernah meninggalkannya juga.”

cara menjawab salamPendapat Kedua, menjawab hanya dengan ucapan, “Wa’alaikum”. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan jumhur (mayoritas) ulama. Dalilnya adalah hadits muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

“Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas bin Malik berkata,

مَرَّ يَهُودِىٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ السَّامُ عَلَيْكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « وَعَلَيْكَ » . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَتَدْرُونَ مَا يَقُولُ قَالَ السَّامُ عَلَيْكَ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نَقْتُلُهُ قَالَ لاَ ، إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

“Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6926)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan menjawab salam orang muslim dan orang kafir. Dan menurut Atho’, QS. An Nisa : 86 (yang menerangkan tentang wajibnya membalas salam, pen) itu hanya dikhususkan bagi kaum muslimin. Jadi tidak boleh menjawab salam orang kafir secara mutlak. (Lihat Fathul Bari, 11: 42)

Sahabat, meskipun dalam masalah menjawab salam dari non muslim ini para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang pertama membolehkan membalas salam dengan ucapan lengkap, “Wa’alaikumus salam.” Sedangkan pendapat yang kedua membolehkan menjawab salam seperti yang dicontohkan Nabi saja dengan ucapan, “Wa’alaikum”.

Namun, menjawab salam dari non muslim ini sebaiknya kita jadikan sebagai sarana dakwah untuk mereka. Sebaiknya membalas ucapan salam mereka minimal dengan menjawab “Wa’alaikum”.

Wallahu a’lam, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Oleh: Aannisah Fauzaania

Palembang, 9 Agustus 2016.