Menjadi Hafidz? Prestasi yang Super Dahsyat!

0
387
musa hafal quran

Oleh : Riska Kencana Putri

Menjadi penghafal al Qur’an? Wow, pasti keren, apalagi di usia muda. Makanya banyak banyak pemuda yang berlomba-lomba untuk menghafal, meski mereka bukan orang pondok. Pun begitu dengan para orang tua yang tidak kalah semangatnya untuk mencetak anak-anak hafidz. Prestasi Musa, yang baru-baru ini sedang hot di media menjadi “setrum” tersendiri bagi mereka.

Bak tren K-Pop, tren hafidz pun menjamur. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, semua berlomba-lomba dalam kebaikan, yakni menghafal firman Allah SWT.

Al Qur’an merupakan firman Allah, diturunkan kepada Rasulullah saw melalui wahyu yang dibawa oleh Jibril. Di dalamnya terdapat berbagai macam kisah umat terdahulu untuk diambil pelajaran, terdapat pula perintah serta larangan bagi kaum muslim. Ibarat manual book, al Qur’an adalah panduan kita hidup di dunia ini.

Memelihara Al Qur’an

Sebagai seorang muslim sudah merupakan kewajiban kita untuk memelihara al Qur’an. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mendengarkan, membaca, menghafal, menelaah dan mengamalkan.

Seorang hafidz artinya dia adalah penjaga, yakni menjaga hafalan dan bacaannya. Dengan kegiatan menghafal, dia akan senantiasa mengulang-ulang ayat yang dibaca. Otomatis kegiatan ini menjadikan si penghafal dekat dengan al Qur’an, yang lisannya selalu basah dengan ayat-ayat Allah.

Memelihara al Qur’an menjadikan seorang hamba dekat dengan Rabbnya. Bahkan kelak, di hari akhir, al Qur’an akan menjadi penolong. Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW, “Bacalah al Qur’an, karena al Qur’an akan datang pada hari kiamat kelak untuk memberi syafa’at (pembelaan) bagi ahlinya.” (HR Muslim)

Al Qur’an adalah jiwa kaum muslim. Ibarat sebuah rumah, jika di dalam hatinya tidak ada satupun ayat yang dihapal, maka ia ibarat rumah yang hampir roboh. Tentu saja akan mudah dihancurkan oleh setan.

“Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada al Qur’an sedikitpun (yang dia hafal) bagaikan rumah yang akan roboh.” (HR Tirmidzi)

Tidak Harus Hafidz

Al Qur’an adalah kitab yang mudah untuk hafal, tetapi juga sangat mudah untuk hilang hafalannya. Sabda Rasulullah SAW, “Peliharalah (hafalan) al Qur’an! Sebab, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya al Qur’an lebih mudah lepasnya (dari ingatan) daripada lepasnya unta dari tambatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menjadi hafidz memang bukan perkara mudah, harus istiqomah dan disiplin. Namun jangan khawatir, jika belum mampu menghafal 30 juz, Allah telah menyediakan pahala besar bagi orang yang membacanya.

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa “alif lam mim” adalah satu huruf. Akan tetapi Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim juga satu huruf.” (HR Tirmidzi)

Satu huruf bernilai satu kebaikan yang Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kali, bayangkan berapa banyak Allah tuliskan kebaikan kita untuk tiap ayat yang kita baca? Masya Allah.

Tidak harus hafidz 30 juz untuk mendapatkan kemuliaan. Namun, menghafalnya akan menjadikan poin plus bagi kita, yaitu menguatkan bangunan dalam diri agar semakin kokoh dan dekat dengan Allah swt, karena Allah akan menjaga orang-orang yang senantiasa menjaga ayat-Nya. Tak cukup hanya dihafal, namun ayat-ayat tersebut juga dipelajari untuk diamalkan agar semakin beruntung kehidupan kita di dunia dan akhirat.

Semoga kelak, Allah memanggil kita dengan sebutan Shahibul Qur’an dan berkata, “Bacalah dan naiklah terus!” hingga ke surga tertinggi. Aamiin.
“Kelak di akhirat akan dikatakan kepada Shohibul Qur’an (orang yang senantiasa bersama-sama dengan al Qur’an), ’Bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) sebagaimana engkau telah membaca al Qur’an dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)