Mengapa Harus Tabayyun?

0
376
tabayyun dong

Oleh: Aannisah Fauzaania

“Mbak tau nggak, Ukhti Na itu gimana sih, pake niqob kok masih suka selfie? Terus kemarin Ara juga bilang lihat Na lagi jalan berdua sama cowo. Padahal keliatannya muslimah banget gitu ya. Ndak nyangka.”

“Emang kamu tau kabar itu darimana?”

“Dari temen aku sih, tapi kan …. ”

“Harusnya tabayyun dulu dong dek. Bahaya kalau nanti jadi fitnah, lebih kejam dari pembunuhan loh.”

***

Sahabat, terkadang banyak dari kita yang pernah mengalami kejadian seperti ilustrasi di atas. Biasanya, ketika tengah asyik berkumpul dengan teman-teman, kemudian salah satu ada yang memberi tahu suatu informasi yang belum jelas keberadaannya, lalu kita langsung menimpali negatif, sehingga memungkinkan terbentuknya ghibah atau fitnah.

Tabayyun. Apa sih tabayyun? Kalau tidak dilakukan kok bahayanya bisa sampai ke fitnah? Beberapa sahabat mungkin ada yang telah mendengar kata tabayyun, namun beberapa ada yang belum. Baiklah, mari kita telaah apa itu tabayyun.

Menurut akar katanya, kata tabayyun berasal dari bahasa Arab: tabayyana – yatabayyanu – tabayyunan. Artinya at-tastabbut fil-amr wat-ta’annî fih (meneliti kebenaran sesuatu dan tidak tergesa-gesa di dalamnya). Jadi maksudnya kita jangan menerima mentah ketika suatu informasi sampai ke kita, sebaiknya periksa lebih jauh mengenai kebenarannya.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah.” (An-Nisâ: 94).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan bahwa tabayyun berarti pemahaman atau penjelasan. Jadi pengertian tabayyun adalah usaha untuk memastikan dan mencari kebenaran dari sebuah informasi sehingga isinya dapat dibuktikan secara jelas dan terpercaya.

Mengapa harus menerapkan sikap tabayyun? Sikap tabayyun merupakan sikap yang sangat penting untuk dimiliki. Sikap ini seperti sebuah benteng mawas diri agar bisa tetap terlindungi dari bahaya-bahaya yang menjurus ke ghibah dan berujung fitnah karena langsung percaya dan meneruskan suatu informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Tabayyun juga bisa menghindarkan kita dari prasangka-prasangka tak baik yang sangat dibenci Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” [QS. Al-Hujurat: 12]

Firman-Nya pula, “Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nuur 15)

Begitu pentingnya, perintah mengenai tabayun ini pun telah diterangkan lengkap dalam Al-quran surat Al Hujurat yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya(tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” [QS. Al-Hujurat: 6]

Muasal diturunkannya ayat ini yaitu ketika Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith diutus oleh Rasulullah SAW untuk mengambil dana zakat dari suku Bani al Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar, seperti dalam riwayat Imam Ahmad.

Ketika itu Al-Walid menyampaikan laporan kepada Rasulullah SAW bahwa mereka enggan membayar zakat dan berniat membunuh dirinya, padahal ia tidak pernah berkunjung ke perkampungan Bani Musththaliq. Mengetahui hal tersebut, tentu saja Rasulullah SAW murka dengan berita yang disampaikan dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga Allah menurunkan ayat enam surah Al-Hujurat ini.

Sahabat, sikap tergesa-gesa menjalankan atau menerima sesuatu ini memang bukanlah suatu hal yang patut untuk dipertahankan. Karena seperti yang kita ketahui, terburu-buru dan tergesa merupakan sifat setan. Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah pun berkata, “Hendaknya kita pelan-pelan dalam menanggapi suatu perkataan, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa menghukumi orang, hendaknya tabayyun.”

Lalu, bagaimana agar kita bisa senantiasa bertabayyun? Sebenarnya tidak ada cara khusus dalam menerapkan sikap ini. Kita hanya perlu berhati-hati dalam menerima setiap informasi. Ketika ada seseorang mengajak berbicara, atau memberitahu sesuatu, jika obrolan tersebut lebih banyak menjurus ke mudharat, maka sebaiknya tinggalkan saja. Misalnya, ada yang berbisik bahwa si fulanah seorang yang munafik, sudah berjilbab lebar tetapi masih berjalan berdua dengan lelaki. Tabayyun, teliti dahulu. Siapa tahu itu pamannya, atau kakak laki-lakinya.

Jika dilihat berdasarkan hukumnya, mengklasifikasikan sumber (media) berita menjadi 3 jenis. Pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima. Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak. Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.

Ketiga jenis sumber tersebut, masing-masing tentu memiliki tingkat kepercayaan tersendiri bergantung pada orang yang menerimanya. Namun yang mesti kita lakukan, sebaiknya bersikap tabayyunlah dalam setiap situasi. Apalagi jika kita tak mengerti benar berita apa yang disampaikan oleh si empunya lidah. Jangan hanya mengiyakan atau malah membantu mengompori sesuatu yang bahkan kita pun tidak mengerti benar duduk perkaranya. Bisa jadi apa yang kita teruskan tadi malah akan menambah masalah di kemudian hari.

Secara luas, sikap tabayyun ini mirip dengan berbaik sangka atau husnuzhan, meskipun ada konteks yang berbeda di masing-masing. Keduanya menghindarkan kita dari sifat berprasangka buruk atau suudzan di awal. Jadi, tak ada ruginya kan jika kita senantiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Hidup jadi nyaman, semua prasangka buruk bisa berkurang, hubungan sosial pun akan menjadi rukun.

Sahabat, semoga kita termasuk hamba-hamba yang bisa menaati perintah tabayyun dari-Nya. Aamiin.

Incoming search terms: