Beginilah Cara Mukmin Menyikapi Dunia

0
178
sikap seorang mukmin

Oleh : Ilham Fatahillah

Diceritakan bahwa ada dua orang yang terseret arus sungai. Sebut saja namanya Si Paijo dan Si Bejo. Si Paijo terseret arus sungai karena kecelakaan saat asyik mancing di pinggir sungai. Sementara Si Bejo terseret arus sungai karena memang sengaja nyemplung ke sungai untuk kegiatan rafting (arung jeram). Tepatnya bukan terseret, tapi menyeretkan diri di arus sungai.

Saat mancing ikan, Si Paijo terpleset hingga ia terjatuh dan terbawa arus sungai yang deras sekali. Ia tidak siap untuk meluncur bersama arus sungai itu. Karena memang tujuannya untuk mancing ikan. Bukan untuk olah raga rafting seperti yang dilakukan oleh Bejo.

Ironisnya lagi, dia tidak bisa berenang. Lengkap sudah penderitaan Paijo. Ketika ia terbawa arus ia teriak histeris untuk minta tolong, tangannya menggapai-gapai mencari pegangan. Berkali-kali tubuhnya menghantam batu. Setiap badannya menghantam batu, ia meringis kesakitan. Dan sampailah ia di ujung sana dalam keadaan tak bernyawa dengan kondisi perut yang sudah membusung. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Di tempat lain, Bejo pringas-pringis penuh kegirangan saat menikmati arus deras sungai. Ia naik prahu karet dengan peralatan rafting yang lengkap. Ada helm, rompi pelampung, oksigen, dan lain-lain. Saat meluncur di tengah derasnya arus sungai, ia teriak kegirangan. Ketika perahunya berkali-kali menuburk batu besar, justru ia tambah senang. Derasnya arus sungai memiliki nilai hiburan tersendiri bagi dia yang suka olah raga rafting atau arung jeram. Sehingga ketika sampai di ujung sana, dia berteriak, “Horee..!!!” karena puas dengan hiburan yang menguji adrenalin.

Kisah di atas hanya fiktif belaka. Tidak pernah terjadi. Saya hanya menjadikannya sebagai ilustrasi kehidupan. Karena untuk memudahkan memahamkan orang itu bisa dengan cerita analogi atau ilustrasi.

Perlu kita pahami bahwa dalam kehidupan ini kita pasti sering menghadapi yang namanya kesulitan atau masalah. Setiap orang pasti pernah menjumpai problematika kehidupan. Kalau boeh saya ibaratkan, kehidupan itu seperti sungai dalam kisah fiktif di atas. Ketika terjun ke sungai, pasti kita bisa mendapatkan masalah. Dan masalah itu akan semakin berat kalau kita tidak bisa berenang dan tidak menggunakan peralatan yang lengkap.

Si Paijo menggambarkan manusia yang hidup di dunia ini namun tidak pernah menyiapkan bekal peralatan yang lengkap untuk mengarungi sungai kehidupan. Dia tidak siap saat terseret arus, dan semakin panik saat terbentur batu. Hingga akhirnya ia mati dengan sia-sia.

Beda dengan Si Bejo yang sudah siap mengarungi sungai kehidupan. Ia datang dengan perahu karet dan peralatan lengkap. Dan ia juga memiliki kemampuan untuk berenang. Sehingga ketika ia dan perahunya terseret arus, justru merasa bangga. Ketika perahunya terbentur batu, ia pun tambah semangat memacu adrenalinnya. Dan endingya ia bisa berteriak horee. Sukses buat Bejo.

Bejo menggambarkan seorang mukmin yang selalu mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan terburuk saat mengarungi sungai kehidupan. Orang mukmin itu selalu memandang baik suatu masalah. Arus deras dan batu-batu besar itu ibarat masalah di dunia. Namun masalah itu bisa disikapi dengan baik oleh orang mukmin, karena orang mukmin itu memang menakjubkan dalam segala urusannya. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah hadits,

،عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ
:قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari sahabat Abdurrahman bin Abi Ya’la dari sahabat Shuhaib RA, Rasulullah SAW telah bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.”

(Hadits Riwayat Muslim)

Hadits tersebut menggambarkan sikap seorang mukmin, bagaimana ia harus bersikap. Ketika ia mendapat nikmat, ia bersyukur. Dan ketika ia mendapat ujian, ia bersabar. Dan segala kejadiannya selalu baik baginya. Subhanallah.

Itulah karakter orang yang beriman. Tidak ada kata mengeluh dalam hidupnya. Tidak ada kejadian yang buruk baginya. Karena ia yakin segala kejadian yang terjadi itu semua adalah atas izin Allah. Semua kejadian sudah Allah atur. Karena ia selalu yakin akan firman Allah, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat ke-286)

Agar tidak mati sia-sia seperti Paijo, jadilah orang mukmin. Karena orang mukmin itu sangat menguasai medan dan mengetahui kemungkinan kesulitan-kesulitan yang akan ia hadapi. Sehingga ia selalu mempersiapkan diri.