Jurus Jitu Untuk Mengendalikan Emosi

0
415
emosi

Oleh: Aannisah Fauzaania

“Dek, harus dibilangin gimana lagi sih biar nggak nakal!”

“Awas kamu ya!”

“Aku tidak terima! Ini tidak adil!”

“Dasar nggak tahu diri!”

Beberapa petikan percakapan di atas merupakan situasi yang banyak kita alami. Astaghfirullah, betapa banyak keburukan ketika mengingat banyak umpatan yang keluar dari dalam diri.

Sahabat,

Dalam hidup, tentu saja kita pernah merasakan kesal yang tak berkesudahan, prasangka hati yang membuat gundah, atau lingkungan yang terasa gerah. Dari beberapa pengaruh tersebut kemudian akan timbul kesalahan yang nampak di depan mata, sesuatu yang merugikan diri, dan masalah yang datang bertubi-tubi. Hal tersebut terkadang mendorong penuh menjadi penyebab munculnya emosi yang berujung amarah dalam diri kita.

Sahabat, jika mengikuti emosi, apa saja bisa dijadikan sebagai pelampiasan. Bahkan dalam beberapa kasus, emosi yang berujung amarah bisa menjadi penyebab tak terkendalinya diri. Jika telah seperti itu, lingkungan yang harusnya asri terkadang menjadi bentuk luapan yang merugikan untuk diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.

Amarah, sebenarnya merupakan seburuk-buruknya bentuk peluapan emosi diri. Selain menyebabkan kesehatan tubuh menurun, seseorang yang tak bisa menahan amarahnya pun bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan surga yang telah dijanjikan untuknya.
Seperti disebutkan dalam hadits nabi,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.
“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.”

Ditilik dari sisi ilmiah, dalam suatu penelitian para ilmuwan berkata, apabila seseorang marah, maka kondisi tubuhnya akan sangat peka terhadap tekanan. Dalam keadaan tertekan, tubuh akan menghasilkan hormon yang disebut kortisol. Kortisol ini fungsinya sebagai penghasil tenaga dan energi agar tubuh bisa tetap bertahan kokoh. Bisa pula untuk meningkatkan fungsi memori, sistem imun, mengurangi tingkat sensitif tubuh terhadap rasa sakit, dan menjaga tekanan homeostasis tubuh.

Ketika seseorang marah, kortisol yang  dikeluarkan akan semakin meningkat sehingga tekanan darah meninggi. Selain itu kortisol yang berlebih akan menyebabkan arteriosklerosis, yaitu penyakit penggumpalan plak lemak pada dinding pembuluh darah dan menyebabkan jantung koroner.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh jurusan Kardiologi Amerika, melalui jurnal yang mereka terbitkan, disebutkan bahwa marah dapat meningkatkan kemungkinan penyakit jantung koroner akut sebesar 19% bagi seseorang yang tidak punya penyakit jantung, dan sebesar 24% bagi seseorang yang memang punya penyakit jantung sebelumnya.
Subhanallah, betapa ruginya seseorang jika tak mampu mengendalikan marah.

Sedangkan dalam islam, mengapa tak dianjurkan untuk marah sebagai bentuk ungkapan emosi?

Allah SWT berfirman:
“Dan Dia mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (adzab) yang buruk, dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka, serta menyediakan neraka Jahannam bagii mereka. Dan (neraka Jahannam) itu seburuk-buruk tempat kembali”. [al-Fath/48 : 6] [2]

Ja’far bin Muhammad rahimahullah mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.” Dikatakan kepada Ibnu Mubarak rahimahullah, “Kumpulkanlah untuk kami akhlak yang baik dalam satu kata!” Beliau menjawab, “Meninggalkan amarah.” Demikian juga Imam Ahmad rahimahullah dan Ishaq rahimahullah menafsirkan bahwa akhlak yang baik adalah dengan meninggalkan amarah.

Disebutkan dalam suatu hadist, Rasulullah berkata bahwa wasiat yang terbaik ialah “jangan marah” hingga ia mengulang kata tersebut sampai beberapa kali.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]

Dalam surat At-Taubah, Allah berfirman:
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan Dia menghilangkan kemarahan hati mereka (orang Mukmin)… ” [at-Taubah/9 : 14-15]

Ketika kita tengah marah, maka kita telah kalah selangkah pada nafsu buruk yang ditanamkan syaitan. Kita juga akan kehilangan banyak janji baik dari Allah SWT bagi hambanya yang bisa menahan amarah. Bukankah hal tersebut begitu merugi untuk diri?

Memang, menahan amarah bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak sekali penyebab pendukung yang semakin membuat suasana hati menjadi lemah, ditambah lagi godaan syaitan yang terus mendarah, maka sungguh hebat jiwa seseorang yang pandai meredam amarahnya di tiap-tiap waktu.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap ketika emosi tengah menguasai diri?
Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah. Diantaranya ialah:

1. Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim.”

Sesungguhnya syaitan sangat dekat ingin memasukkan manusia dalam perangkapnya ketika seseorang tengah marah. Maka sebutlah “Aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk.”

2. Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan amarahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.
“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari.”

3. Mengambil sikap diam, tidak berbicara.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.
“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam”

4.Duduk atau berbaring.

ِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.
“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring.”

5. Mengingat betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.

6.Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain.

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”.

7. Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.

Wallahu a’lam. Sahabat, semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang beruntung ketika pandai mengendalikan amarah dalam diri, aamiin.