Cerdas Dalam Memilih Prioritas Ibadah

0
422
tujuan ibadah

Oleh : Rina Perangin- Angin

Teringat dengan fenomena Idul fitri, dimana hampir semua masjid di dekat rumah penuh oleh jamaah yang ingin shalat Idul fitri. Senang? Jelas. Sedih? Iya juga.

Satu sisi, rasanya memang senang saat masjid, rumah Allah dipenuhi orang-orang yang ingin beribadah. Itu artinya semakin banyak masyarakat yang paham bahwa ada satu perintah Rasulullah SAW yang sering terabaikan, yakni memakmurkan masjid.

Namun kesenangan itu tampaknya tak bertahan lama. Sebab dalam hitungan hari, jamaah masjid yang tadinya melimpah ruah hingga ke teras hilang begitu saja tanpa jejak. Seperti lenyap ditelan bumi. Ada apa sebenarnya dengan masyarakat kita?

Melaksanakan shalat idul fitri memang bagus, tetetapi lebih bagus lagi bila melaksanakan shalat wajib juga. Ingat lo, shalat 5 waktu itu wajib. Tak ada alasan untuk tak menunaikannya. Bukankah alangkah lebih bagus bila idul fitri jalan dan shalat 5 waktu juga full? Jadi pahalanya nggak separuh-paruh gitu.

Ada lagi fenomena yang tak kalah mengherankan. Di saat bulan puasa, ramai yang ke masjid untuk shalat tarawih, tetapi saat shalat lima waktu? Masjid malah kosong! Miris melihatnya. Padahal, tarawih itu sunnah, sedangkan shalat lima waktu itu wajib. Alangkah lebih bagus bila yang wajibnya diutamakan terlebih dahulu baru ditambah dengan sunnahnya, jadi komplit deh!

Melaksanakan ibadah, kita ternyata harus cerdas. Sebab kata Rasulullah SAW ternyata tak semua ibadah diterima. Itu berarti?? Ya pahamlah, ada ibadah yang justru tertolak. Misalnya, shalat Maghrib yang tiga rakaat kalau dibuat jadi empat rakaat kira-kira bagaimana? Ya tertolak! Dalam ibadah itu sendiri juga ada tingkatannya, yakni wajib, sunnah, makruh, mubah, dan haram. Ini yang harus diperhatikan.

Bila ada dua ibadah, yang satu hukumnya wajib sedangkan yang satu lagi sunnah, manakah yang kita pilih? Pilihlah yang wajib! Agar lebih mudah difahami, kita ambil contoh. Misalnya si A ingin infaq di masjid, dia memiliki uang 20 ribu, lalu dia menginfakkannya. Kemudian si B datang menagih hutang ke A. Saat itu si B butuh uang. Lalu dengan rasa tanpa dosa si A bilang kalau uangnya telah habis dinfaqkan. Apakah A sudah benar dalam mengambil keputusan? Infaq itu sunnah, sedangkan membayara hutang wajib. Maka lebih bijaklah bila melunasi hutang terlebih dahulu baru setelah itu berinfaq.

Selanjutnya, bila ada dua  ibadah yang hukumnya sama-sama wajib, maka yang mana yang harus didahulukan? Jika kita bisa melaksanakan keduanya sekaligus, maka kita harus melakukannya. Namun jika tidak, pilihlah yang paling penting. Misalnya, seorang dokter harusnya melakukan operasi pada pasien yang benar-benar sekarat pada pasien tepat pukul delapan malam. Sedangkan di sisi lain, beliau harus shalat Isya. Bila operasi ditunda, pasien bisa kehilangan nyawanya. Dalam hal ini, keduanya menjadi sama-sama wajib. Tetapi berhubung pasien sangat membutuhkan pertolongan sang dokter dan nyawanya terancam, maka alangkah bijaknya bila sang dokter mendahulukan mengoperasi pasien.

Adapun dua ibadah antara sunnah dan makruh, pasti sudah jelas bila sunnah dilakukan dan makruh ditinggalkan. Begitu pula untuk sunnah dan mubah, maka lakukanlah dahulu yang sunnah lalu jika memang ingin melakukan yang mubah, ya silahkan. Tidak masalah.

Intinya, kita harus cerdas dalam memilah dan memilih suatu perkara ibadah. Jangan sampai sibuk mengejar yang sunnah hingga melupakan yang wajib. Atau ada juga yang sibuk melakukan hal mubah dan justru meninggalkan yang sunnah.

Bijaksanlaah. Penuhilah yang wajib, kejar yang sunnah, tinggalkan yang makruh, dan jalankan yang mubah jika memang diperlukan.

Incoming search terms: