Ada Apa di Balik Valentine’s Day? (2-habis)

1
243
valentine

BOLEHKAH MERAYAKAN VALENTINE’S DAY ?
Oleh : Asadullah Al Faruq

Seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari Valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat. Bertukar bingkisan, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, meramaikan suasan Valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun. Ironisnya, perayaan pada masa kini mulai mengalami pergeseran. Jika di zaman Romawi terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan, mulai dari pesta, kencan, hingga free sex. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Syaikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine Day mengatakan, “Merayakan hari Valentine dilarang karena beberapa sebab: Pertama; ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasarnya di dalam syari’at Islam. Kedua; ia dapat mengantarkan pada kecintaan dan nafsu birahi. Ketiga, Hal tersebut menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara yang rendah dan menyelisihi bimbingan ulama Shalafush shalih. Maka tidak diperbolehkan pada hari tersebut melakukan syiar-syiar Valentine Day, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah, dan yang lainnya.” (Majmu Fatawa Awa Rasail ibni ‘Utsaimin 26/124)

Lajnah Ad-Da’imah dalam fatwanya nomor 21.203 juga menyatakan bahwa Valentine Day termasuk hari raya watsaniyyah (paganisme/para penyembah berhala) dan nashraniyyah, maka tidak diperbolehkan bagi seorang muslim yang telah menyatakan diri beriman kepada Allah SWT dan hari akhir untuk ikut merayakan hari raya tersebut, atau menyetujuinya, atau turut mengucapkan selamat. Sebaliknya, wajib atasnya untuk meninggalkan dan menjauhinya dalam rangka memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan dan adzab Allah Ta’ala.

Valentine Day dilarang bagi kaum muslimin setidaknya ada beberapa dasar. Pertama, karena Islam telah memiliki hari raya sendiri, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, sehingga tidak memerlukan hari raya lainnya, termasuk hari Valentine. Kedua, merayakan Valentine Day berarti menyerupai kaum kafir, padahal Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4031 dan Ahmad 2/50). Sikap menyerupai ini, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, akan melahirkan sikap kasih sayang, cinta, dan loyalitas di dalam batin (terhadap orang-orang kafir), sebagaimana kecintaan yang ada di batin akan melahirkan sikap menyerupai.” (Al-Iqtidha’: I/490)

Ketiga, merayakan Valentine Day bertujuan mengungkapkan cinta dan kasih sayang secara syahwat. Padahal Allah berfirman, “Dan janganlah mendekati zina!” (QS. Al Isra : 32). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Allah SWT berfirman dalam rangka melarang hamba-hamba-Nya dari perbuatan zina dan larangan mendekatinya, yaitu larangan mendekati sebab-sebab dan pendorong-pendorongnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/55)

Asy-Syaikh As-Sa’di menuturkan, “Larangan mendekati zina lebih mengena ketimbang larangan melakukan perbuatan zina, karena larangan mendekati zina mencakup larangan terhadap semua perkara yang dapat mengantarkan kepada perbuatan tersebut. Barangsiapa yang mendekati daerah larangan, ia dikhawatirkan akan terjerumus kepadanya, terlebih lagi dalam masalah zina yang kebanyakan hawa nafsu sangat kuat dorongannya untuk melakukan zina.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal.457)

Bukankah Valentine Day lebih mendekatkan kita pada zina? Ingatlah sebuah hadits, dari Abdurrahman Ibn Shakhar (Abu Hurairah) ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah zinanya adalah berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (hasrat), dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah kemaluan. (HR. Muslim dalam kitab Qadr, bab Ketentuan Batas-Batas Zina dan Lainnya Bagi Anak-Anak Adam).

KASIH SAYANG DALAM ISLAM

Kasih sayang dalam Islam bersifat Universal. Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia juga tidak dibatasi oleh objek dan motif, sehingga tidak membutuhkan hari Valentine. Kasih sayang diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahim, menjenguk yang sakit, tolong-menolong, berbuat kebajikan, meringankan beban tetangga yang sedang ditimpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari perbuatan munkar. Sejalan dengan itu Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan, “Belum sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari).

Kasih sayang di dalam Islam itu ada pada kehidupan kita sepanjang masa, tidak tertentu pada waktu-waktu yang terbatas. Karenanya, semangat inilah yang harus kita hidup-hidupkan dalam keluarga kita. Kita berikan pengertian yang benar kepada anak-anak kita, sehingga mereka dapat terhindar dari perilaku buruk. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan membimbing kita semua. Aamiin.

#

Ditulis di Rumah Ilmu, Purbalingga, 2 Februari 2016

Ada Apa di Balik Valentine’s Day >> Bagian 1<<