Pendapat Anda, Anak Adalah Aset, Yang Perlu Diluruskan!

0
234
sholeh

WahidNews, Anak adalah aset yang tak terhingga bagi orangtua. Merekalah generasi penerus yang akan mewarisi dan meneruskan perjuangan orangtuanya. Mengapa anak bisa dikatakan asset bagi kedua orangtuanya? Dalam hadits shahih Nabi SAW bersabda
عن ابى هريرة (ر) أنّ رسول اللّه (ص) قال: إذا مات الإنسان انقطع عمله الاّ من ثلاثة صدقة جارية وعلم ينتنفع به وولد صالح يدعوله
“Jika seorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu: shodaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakannya (HR. Muslim)”
Selama ini banyak dari kalangan orangtua yang salah dalam hal memahami posisi anak, anak yang sejatinya memiliki hak untuk belajar, diberikan pendidikan layak demi kehidupan yang baik, terkadang dituntut untuk harus menjadi orang besar, berjabatan tinggi, berpenghasilan yang banyak.

Yang lebih memilukan adalah ada sebagian orangtua yang menuntut balas budi si anak dari apa yang telah dikorbankan selama membesarkannya dengan cara meminta balasan berupa materi, hal ini tak ubahnya anak dianggap hanya sebagai robot yang ia gunakan sebagai alat pemasukan, pekerja yang dapat dimanfaatkan.

Permasalahan di atas biasa muncul karena niat awal di faktor pendidikan, banyak orangtua yang lebih senang memasukkan anak di dunia pendidikan umum daripada dunia pesantren. Sehingga setelah lulus dari jenjang sekolah tinggi seakan anak harus menjadi seseorang yang berprofesi sesuai dengan pendidikan yang ditempuhnya. Inilah niat pendidikan karena faktor komersil, bukan karena niat tulus mencari Ridha Allah Swt. Bayangkan yang terjadi disekitar kita, orangtua yang anaknya lulus dari pendidikan tinggi umum (misal wisuda sarjana) akan lebih bangga dibanding anaknya lulus dari dunia pesanteren.

Anak adalah aset bagi orangtuanya mempunyai dua sisi positif dan negatif, jika orangtua mampu membentuk anaknya menjadi walaadun shoolihun maka akan menjadi aset positif bagi kedua orangtuanya, namun jika anak tersebut menjadi anak durhaka, suka melanggar larangan-larangan agama maka bisa dipastikan akan menjadikan aset negatif bagi kedua orangtuanya, yang akan membawa kerugian baik di dunia maupun akherat. Anak akan menjadi sholeh apabila ia didekatkan oleh ajaran agamanya, dan itu bisa terwujud apabila dimasukkan ke pesantren-pesantren atau madrasah diniyyah. Dengan demikian, harusnya orangtua yang anaknya belajar di Pesantren harus lebih bangga dengan yang belajar di sekolah umum karena akan menjadi aset positif baginya.
Dalam sebuah hadits dikatakan
الجنّة تحت أقدام الأمّهت …. (روه احمد و النّساء و ابن ماجه و الحاكم)
“Surga itu di bawah telapak kaki ibu” (HR. Ahmad, An nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim)

Dalam pandangan penulis, jika hadits itu ditujukan kepada anak, maka ia wajib taat dan patuh terhadap perintah orangtua selama itu tidak melanggar syariat agama. Namun, jika hadits ini ditunjukkan untuk orangtua, maka hendaknya orangtua harus melakukan hal-hal yang dapat menciptakan dan menghantarkan surga pada anaknya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan agama secera baik kepada anak, sehingga pendidikan agama terhadap anak menjadi prioritas bukan hanya selingan atau diberikan padawaktu lengang. Kebanggaan pun harusnya muncul dari orantua yang anaknya lulus dari dunia pesantren bukan hanya pendidikan umum, karena peluang orangtua yang mempunyai anak lulusan pesantren akan lebih mempunyai aset positif dikehidupannya yang akan datang. Anak tidak hanya dieksploitasi secara materi namun juga akan menyelamatkan kehidupannya baik dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam

Ditulis Oleh : Sarah Ufaira