Mengawali Bahagia Dengan Taubat

0
438
bertaubat

Oleh : Pipit Era Martina

Allah SWT berfirman :
“Dan tidaklah Allah akan mengadzab mereka, sedang engkau (wahai Muhammad SAW) berada di antara mereka, sedang mereka senantiasa istighfar minta ampun.” (QS. Al-Anfal:33)

Istighfar dan taubat merupakan benteng utama untuk meraih bahagia baik itu di dunia maupun di akhirat kelak. Gerbang utama yang akan menyelamatkan manusia dari segala musibah dan bencana. Bukan hanya sedekah saja yang bisa menyelamatkan kita dari musibah, namun istighfar dan taubatpun dapat menjauhkan kita dari marabahaya yang menganga di depan mata.

Kenapa harus dengan istighfar dan taubat?

Karena pada umumnya musibah ataupun bencana yang kita terima itu merupakan salah satu teguran Allah SWT terhadap dosa-dosa yang telah kita lakukan dengan atau tanpa di sadari yang mungkin sedikit fatal sehingga sulit untuk di ampunkan. Oleh karena itu, Allah memberi kita coba dan ujian untuk sedikit melunturkan dosa yang kian hari kian berlumut.

Pernah saya mendengar dari salah seorang Ummi yang kala itu sedang melakukan bekam kepada seorang pasien, beliau berkata: “Apapun yang kita alami, sesulit apapun itu, hadapilah! Karena sesungguhnya itulah salah satu cara Allah melunturkan dosa yang sulit di ampuni”
“Apakah sakit itu juga termasuk dalam proses pelunturan dosa Ummi?”
“Ya, sakit merupakan salah satu cara Allah dalam melunturkan dosa umatnya dan sakit itu sendiri di sebabkan oleh dua hal, hal yang pertama: Allah SWT menurunkan rasa sakit itu karena ada dosa yang sulit di ampuni dan hanya dengan sakit itulah Allah sudi mengampuni atau meringankan dosa tersebut, sedangkan yang kedua: sakit yang diturunkan oleh Allah SWT ialah karena Allah hendak menaikkan derajat umatnya. Allah SWT menguji keduanya dengan melihat seberapa besar kesabaran yang umat-Nya miliki”

Allah SWT berfirman:
“Dan apa saja musibah yang menimpa dirimu, maka adalah disebabkan karena dosa-dosamu, dan Allah memaafkan sebagian dari dosa-dosamu.”(QS.Al-Syura:30)

Masih kurang adilkah Allah terhadap makhluk-Nya?
Atau kita yang tidak pernah peka akan kemuliaan-Nya?

Manusia dengan mudahnya melakukan dosa tanpa di sadari, dan lupa memikirkan cara untuk meringankan bahkan menghapus dosa yang kian hari kian menjulang tinggi.

Meski sudah teramat jelas Al-Qur’an menyampaikan kepada kita bahwa Rasul-Rasul Allah yang diutus kepada umatnya diperintahkan untuk beristighfar baik secara sendiri atau bersamaan. Istighfar, bukankah hal yang teramat sangat mudah untuk dilakukan, dengan seringnya bibir bergumam istighfar serta mengingat akan dosa-dosa yang pernah di perbuat, niscaya Allah akan meringankan bahkan menghapuskan dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang, bukankah itu suatu hal yang sungguh luar biasa?

Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an tentang Nabi Nuh AS dan dakwah bersama kaumnya:
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS. Nuh:10-12)

Sungguh, Allah tak pernah menyulitkan umat-Nya dalam proses pertaubatan, membersihkan diri dari dosa, namun mengapa? Manusia tak jua menyadari akan kemudahan demi kemudahan yang Allah berikan?

Ingatlah! Mati tak menunggumu siap ataupun menunggumu usai bertaubat, bukankan nyawa akan pergi tnapa permisi? mengapa taubat harus ditunda?

Segerakanlah! Selagi usia masih terus berjalan, selagi denyut nadi masih terus menari, di saat raga masih kuasa melangkah, berjalan dan terus berjalan meraih jalan terang.

Allah SWT juga menyebutkan tentang kisah Nabi Hud dan dakwahnya kepada kaum Ad, ia berkata:
“Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu.”(QS. Hud:52)

Belum cukupkah tawaran Allah? 

Allah SWT hanya meminta kita, umat manusia untuk senantiasa menjalankan perintah-Nya, maka apapun bentuk keindahan dan kebahagiaan yang pernah kau temui dan kau ketahui di dunia ini akan Allah berikan kepadamu pada saat terbaik yang kamu miliki.
Akhiratlah tujuan utama kita, kehidupan di dunia hanyalah sementara dan sebentar saja. Gunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk meraih dan menggapai bahagia di kehidupan kekalmu nanti.

Teringat kembali kisah-kisah para Nabi sebelum Nabi Muhammad yang dengan jerih payahnya mengajak umatnya untuk segera bertaubat kepada Allah SWT.
Sepenggal ayat yang sedikit mengingatkan kita akan kisah Nabi Shaleh bersama kaumnya yang durhaka, kaum Tsamud, ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu

Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud:61)

Percayalah wahai umat, sekali saja kau masuki pintu taubat itu maka bahagia senantiasa menunggumu di ujung senja. Karena hanya dengan kesungguhan dan keikhlasanmu memohon ampun kepada-Nya, maka Allahpun tiada sungkan menurunkan bahagia yang tiada tara kepadamu. Ingat! Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, seperti kisah Nabi Syu’aib yang berkata kepada kaum Ahli Madyan: “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud:90)

Dan Allah SWT berfirman kepada Rasulullah Muhammad SAW.: “Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat:6)

Seungguhnya kebahagiaan manusia itu terletak pada pengampunan dan pembersihan dosa, bukan pada harta dunia yang fana. Kebutuhan pengampunan itu sendiri merupakan kebutuhan pokok umat manusia. Maka jika ada manusia yang mengaku telah menjalankan sepenuhnya perintah Allah SWT, maka perkataanya sendiri itu adalah dosa. Karena jelas-jelas mereka menampakkan kesombongan dan bangga pada diri sendiri, yang sebenarnya ia tahu jika tiada satupun manusia yang mampu memenuhi segala Hak-Nya. Oleh karena itu, seluruh manusia membutuhkan maghfiroh (ampunan Allah).

Dalam hal ini Allah SWTberfirman: “Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 133)
Wallahu a’lam bishawab.