Memahami Tauhid Asma wa Sifat

0
493
asma wa sifat
Oleh : Zakaria

A. Pendahuluan
Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah bagian dari rukun Iman kepada Allah, dimana beriman kepada Allah harus meliputi iman kepada Wujud Allah, RububiyahNya, UluhiyahNya, serta Nama dan sifat-sifat-Nya. Beriman kepada nama dan sifat Allah memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat penting dalam agama Islam. Seorang muslim tidak mungkin dapat beribadah dengan sempurna tanpa mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’alaa.
Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman,
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al A’raf : 180)

B. Pengertian Tauhid Asma Wa Sifat
Secara bahasa kata “asma” adalah bentuk jama dari kata “ismun”, yang artinya ‘nama’. “Asma Allah” berarti ‘nama-nama Allah’. Asma’ul husna berarti nama-nama yang baik dan terpuji, sedangkan istilah “asma’ul husna” bagi Allah maksudnya adalah nama-nama yang indah, baik dan terpuji yang menjadi milik Allah. Misalnya Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Ghafur, dan lain-lain.

Makna dari kata “sifat” dalam bahasa Arab berbeda dengan “sifat” dalam bahasa indonesia. Kata “sifat” dalam bahasa Arab mencakup segala informasi yang melekat pada suatu yang wujud. Sehingga “sifat bagi benda” dalam bahasa arab mencakup sifat benda itu sendiri, seperti besar  kecilnya, tinggi rendahnya, warnanya, keelokannya, dan lain-lain. Juga mencakup apa yang dilakukannya, apa saja yang dimilikinya, keadaan, gerakan, dan informasi lainnya yang ada pada benda tersebut.

Sifat Allah mencakup perbuatan-Nya, kekuasaan-Nya, apa saja yang ada pada Dzat Allah, dan segala informasi tentang Allah. Kita sering mendengar ungkapan ulama, bahwa diantara sifat Allah adalah Allah memiliki tangan yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah memiliki kaki yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah turun ke langit dunia, Allah bersemayam di Arsy, Allah tertawa, Allah murka, Allah berbicara, dan lain-lain.

Secara syariat, tauhid asma dan sifat adalah pengakuan seorang hamba tentang nama dan sifat Allah, yang telah Dia tetapkan bagiNya dalam kitab-Nya ataupun dalam sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengimani maknanya dan hukum-hukumnya tanpa tahrif (mengubah makna atau lafadz), ta’thil (meniadakan atau mengingkari), takyif (mempertanyakan), atau tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

C. Pembagian Asma wa Shifat Allah Jalla wa ‘Alaa
Sifat-sifat Allah terbagi dua bagian :

1.Tsubutiyah
Sifat Tsubutiya adalah sifat yang Allah tetapkan sendiri untuk-Nya, baik yang disebutkan dalam Al-Qur’an atau yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam,  yang semuanya adalah sifat yang sempurna dari seluruh aspeknya. Seperti sifat Al-Hayat (Maha Hidup), Al-Ilmu (Maha Mengetahui), Al-Qudrah (Maha Berkuasa), istiwa di atas Arsy, turun ke langit dunia, wajah, dua tangan, sifat-sifat ini wajib ditetapkan untuk Allah dengan dalil Naqly maupun Aqly.  Adapun dalil naqly adalah firman Allah Q.S. An-Nisa : 136.
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Perintah beriman kepada Allah dalam ayat ini meliputi semua rukun iman kepada Allah yaitu iman kepada Wujud-Nya, Rubbubiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, serta beriman kepada Asma dan Sifat-sifat-Nya. Dan perintah beriman kepada kitab Allah pada ayat ini mengandung perintah untuk beriman kepada segala berita yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang shahih termasuk penetapan beliau terhadap asma dan sifat-sifat Allah.

Adapun dalil Aqlynya adalah bahwa Allah Ta’alaa telah mengabarkan kepada kita tentang Dzat-Nya, nama-Nya dan sifat-sifatNya, dan jelas Allah lebih tahu tentang diri-Nya dari pada selain-Nya. Dialah Allah Ta’alaa yang ucapan-Nya paling benar dan paling baik, maka nama-nama dan sifat-sifatNya yang telah ditetapkanNya harus kita terima tanpa keraguan sedikitpun.

Demikian juga kita wajib menerima tanpa ragu dengan berita yang dibawa oleh Nabi Shallallahu alahi wasallam tentang nama dan sifat Allah Ta’alaa jika berita itu shahih dari beliau Shallallahu  alahi wasallam. Beliau adalah manusia yang paling mengtahui dan paling mengenal kepada Allah.
Sifat tsubutiyah merupakan sifat terpuji dan sempurna bagi Allah. Semakin banyak sifat itu, maka menunjukan akan Maha Sempurnanya yang disifati, yaitu Allah ta’alaa. Karenanya sifat tusbutiyah ini lebih banyak Allah dan Rasul-Nya sebutkan dibanding dengan sifat salbiyah.

Sifat Tsubutiyah terbagi kepada dua bagian:
a.Sifat Dzatiyah
Sifat dzatiyah adalah sifat yang melekat pada dzat Allah yang senantiasa seperti itu dan tidak akan berubah. Seperti sifat Al-Ilmu, Al-Qudrah, As-Sam’u, Al-Bashar, Al-Izzah, Al-Hikmah, Al-‘Uluw, Al-Azhomah, dan termasuk sifat dzatiyah adalah sifat Khobariyah seperti dua tangan, wajah dua mata, dan lainnya.

b.Sifat Fi’liyah
Sifat Fi’liyah adalah sifat yang berhubungan dengan kehendak Allah. Jika Ia berkehendak, maka Ia kerjakan. Jika tidak, maka tidak Ia kerjakan. Kehendak Allah seperti turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, istiwa di atas Arsy, berkata-kata, dan lainnya.
Terkadang sifat dzatiyah juga sifat fi’liyah seperti sifat Al-Kalam, disatu sisi Allah bersifat kalam, tetapi disi lain Allah berkata jika Ia berkehendak saja, seperti firman Allah dalam Q.S. Yasin : 82
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.

2.Salbiyah
Sifat Salbiyah adalah sifat yang dinafikan Allah untuk-Nya sendiri, baik yang disebutkan di dalam Al-Qur’an atau yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Semua sifat salbiyah adalah sifat kekurangan yang mustahil dan tidak mungkin ada pada Allah Ta’alaa, seperti sifat Al-Maut (mati), An-Naum (tidur), Al-Jahl (bodoh), An-Nisyan (lupa), Al-Ajzu (lemah), At-Ta’b (lelah), dan sejenisnya.

Sifat-sifat kelemahan ini wajib ditiadakan pada Allah Ta’alaa, bersamaan dengan itu wajib ditetapkan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat salbiyah ini, sehingga lawan dari sifat salbiyah adalah sifat tsubutiyah dan lawan dari sifat tsubutiyah adalah sifat salbiyah. Contohnya adalah firman Allah Q.S. Al-Furqon : 58.
Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati,

Menafikan sifat Al-Maut bagi Allah dalam ayat ini, sekaligus penetapan sifat Allah Al-Hayat yang artinya Allah Maha Hidup.

Sifat Salbiyah pada umumnya disebutkan untuk menjelaskan beberapa hal, yaitu :
a.Menjelaskan keumuman sifat kesempurnaan Allah Ta’alaa. Contoh firman Allah ta’alaa dalam Q.S. Asy-Syuro : 11 dan Q.S. Al-Ikhlas : 4. Dua sifat salbiyah dalam ayat ini yaitu “al-Mitslu” dan “Al-Kufu” menunjukan akan kesempurnaan Allah bahwa Allah tidak  serupa dengan apapun dan tidak ada apapun yang serupa dan sebanding denganNya. Dari dua sifat salbiyah ini juga harus ditetapkan bahwa Allah Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha Mampu melakukan apapun tanpa bantuan makhlukNya.

b.Bantahan terhadap anggapan bahwa Allah Ta’alaa Allah memiliki anak
Seperti firman Allah Ta’alaa, Q.S. Maryam : 91 – 92, yang artinya, “Karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.”
Dalam ayat ini, kaum kuffar menuduh Allah memiliki sifat seperti makhluk yaitu melahirkan anak, dan Allah membantah tuduhan mereka baik dalam ayat ini maupun ayat-ayat lainnya. Bantahan yang tegas dan lengkap tentang tuduhan ini Allah sampaikan dalam satu surat tersendiri yaitu surat Al-Ikhlas. Sifat “Yalid” (melahirkan) dan “Yulad” dilahirkan adalah dua sifat Salbiyah atau sifat mustahil bagi Allah.

c.Menolak tuduhan dusta terhadap Allah bahwa Allah memiliki kekurangan dalam kesempurnaan-Nya pada hal-hal tertentu. Contohnya dalam firman Allah : dan Q.S. Qof : 38
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.

Dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.(Q.S. Ad-Dukhan : 38)

Dalam dua ayat ini, Allah membantah tuduhan kaum kuffar tentang penciptaan langit dan bumi. Tuduhan pertama, Allah tidak serius dalam menciptakan langit dan bumi dan menciptakannya dengan main-main. Tuduhan kedua, mereka menuduh bahwa Allah letih dan lelah ketika menciptakan langit, bumi dan segala isinya, namun Allah membantah tuduhan mereka dengan menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi tidak main-main dan Allah tidak merasa letih dan lelah dalam mencitpakan keduanya dan segala isinya. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari segala sifat kekurangan.

D. Cara Menetapkan Asma dan Sifat

Seorang mu’min mengimani semua nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah Jalla wa ‘Alaa untukNya dan apa saja yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menolak), takyif dan tamsil/tasybih (menyerupai).

Berikut beberapa kaidah penting yang ditetapkan oleh para ulama, terkait nama dan sifat Allah:
1.Mengimani segala nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan sunnah (hadits-hadits sahih). Artinya, kita tidak membedakan dalam mengimani segala ayat yang ada dalam Al Quran, baik itu mengenai hukum, sifat-sifat Allah, berita, ancaman dan lain sebagainya. Tidaklah tepat jika seseorang hanya mengimani ayat-ayat hukum karena dapat dicerna oleh akal, sedangkan mengenai nama dan sifat Allah, harus diselewengkan maknanya karena tidak sesuai dengan jangkauan akal mereka.

Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman  dalam Q.S. Al-Baqarah : 85.
“… Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al-Baqarah: 85)
Begitu pula dalam mengimani hadits-hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya kita tidak membedakan apakah itu hadits mutawatir ataupun hadits ahad, karena jika itu sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia wajib diimani walaupun akal kita tidak dapat memahaminya.

“Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ، أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ، فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ
“Segera saja ada seorang yang duduk di atas sofanya lalu disampaikan kepadanya sebuah hadits dariku baik sesuatu yang aku perintahkan atau sesuatu yang aku larang maka ia berkata, ‘Kami tidak tahu, kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah.” (HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Al Albani)

2.Menyucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya.
Ketika kita mengakui segala nama dan sifat yang Allah tetapkan, seperti Allah maha melihat, Allah tertawa, tangan Allah, maka kita tidak diperbolehkan menyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat makhluk.

Sayangnya, hal inilah yang sering terjadi pada sekelompok orang, dan hal ini pulalah yang memicu penyimpangan yang terjadi pada tauhid asma wa shifat. Kesalahan yang berbuah kesalahan.

3.Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Allah tersebut. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa salah satu bentuk penyimpangan dalam tauhid asma wa shifat adalah menanyakan bagaimana bentuk dan hakikat sifat-sifat Allah. Dan hal ini tidak mungkin dapat kita ketahui karena Allah dan Rasul-Nya tidak menjelaskan hal tersebut. Sebagai contoh, seseorang tidak dapat menanyakan kaifiat (bagaimananya) sifat tertawa Allah, atau bentuk tangan Allah, atau bagaimanakah wajah Allah. Hal yang perlu kita imani adalah Allah memiliki sifat yang bermacam-macam dan Allah maha sempurna dengan segala sifat yang dimiliki-Nya.Dan untuk mengimani sesuatu tidaklah mengharuskan kita harus mengetahui hakikat zat tersebut.

Termasuk larangan dalam hal ini adalah membayangkan bagaimana bentuk dan hakikat sifat Allah, karena akan membuka pada penyimpangan lainnya, yaitu penyerupaan dengan makhluk. Hal yang perlu diluruskan adalah, larangan untuk mengetahui bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah bukan berarti meniadakan adanya bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah. hakikat sifat Allah tetaplah ada dan hanya Allah-lah yang mengetahuinya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sa’ad bin Abdurrahman Niddan, Mafhum Al-Asma wa Shifat, Majalah Jami’ah Al-Islamiyah, Madinah Munawwaroh, t.t.
  2. Muhammad bin Khalifah bin Ali At-Tamimi,  Mu’taqidu Ahlissunnah wal jama’ah fi al-asma al-husna, Adhwa; as-Salaf, Riyadh Saudi Arabia, cet. I, th. 1419 H.
  3. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Mutsla fii sifatillah wa asmaihi al husna, Jami’ah Al-Islamiyah, Madinah Al-Munjawwaroh, Cet. III, th. 1421 H.
  4. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarh Tsalatsah Al-Ushul, Daar as-Syria li An-Nasyr, cet. IV, th. 1424 H.
  5. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Tahqiq : Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Ihya al-Kutub Al-Arabiyah, Aleppo, Suriah, t.t.
  6. Utsman Jum’ah Dhamiriyah, Madkhal Lidirosat Al-Aqidah Al-Islamiyah, Maktabah as-sawadie li at-tauzi’, Jeddah, Saudi Arabia, cet. II, th. 1417 H.

Incoming search terms: