Inilah Taqdir

0
145
taqdir

Oleh : Newisha Alifa

Hooo … takdir memang kejam.
Tak mengenal perasaan.
Bersimpuh kugenggam.
Harapan yang jadi arang

Ada yang ingat lirik lagu di atas? Iya, yang nyanyiin Bibi Eci… Kalau nggak salah, karena diprotes … liriknya diubah jadi apa gituh. Pokoknya reff awalnya bukan ‘takdir’ lagi.

Berhubung saya belum memahami makna qadha dan qadar sebagai bagian dari takdir dalam Islam. Maka kali ini, saya coba mengupas salah satu quote favorit saya tentang takdir.

“Takdir adalah akhir usaha manusia.” ~Kang Abik, Novel Ayat-ayat cinta~

Bagi saya, kutipan di atas begitu menggugah diri untuk tidak mudah berputus asa dalam menggapai sesuatu. Benarlah bahwa : tak semua keinginan itu baik untuk diri kita. Namun, sebagian keinginan yang baik bagi kita, sering kali HARUS DIPERJUANGKAN, bukan sekadar diharapkan dan disebut dalam doa.

Segala sesuatu yang terjadi, bahkan daun yang jatuh pun … sudah tertulis di Lauh Mahfudz. Namun, tentang formula takdir itu sendiri, masih susah untuk diterjemahkan, baik ke dalam nalar dan logika, terlebih lagi ke dalam kata-kata.

Yang saya yakini tentang takdir adalah : Bahwasanya ketetapan Allah itu terbagi menjadi dua.

Pertama, takdir yang pasti terjadi, dengan atau tanpa campur tangan manusia. Kita lahir ke dunia ini. Apa pernah kita rencanakan? Apakah sebelum lahir, kita diberi kesempatan untuk memilih, mau lahir dari Bapak dan Ibu yang seperti apa? Melalui kejadian seperti apa?

Apakah kita bisa ‘request’, ingin lahir dalam kondisi serba normal, atau Allah berikan kekurangan? Jika kita tak sempurna, apa lantas kita adalah ‘produk gagal’ nya Allah? Subhanallah! Tentu tidak mungkin Allah yang Maha Sempurna, melakukan sesuatu yang ‘gagal’ begitu.

Apakah kita bisa memilih, agama apa yang diwariskan oleh kedua orangtua kita? Jika setiap anak bisa memilih, mau dilahirkan dengan kondisi yang bagaimana. Saya yakin, takkan ada satu anak pun yang ingin lahir sebagai hasil hubungan haram kedua orangtuanya. Catat!

Kedua, takdir yang ditetapkan, karena adanya campur tangan atau usaha manusia. Allah dengan kemurahan-Nya, menakdirkan seorang hamba untuk bekerja di suatu perusahaan bonafit, sebut saja PT. X. Namun jika selama proses ‘menjemput takdir’ itu, si hamba tadi tidak pernah mengirim lamaran, datang untuk interview, apa mungkin rencana Allah tadi terwujud?

Jawabannya mungkin! Because nothing is impossible for Allah! Itu kalau sudah jadi ‘rencana Allah’. Tapi kalau baru jadi rencana ‘kita’? Secara logika sih, yaa … HAMPIR MUSTAHIL lah.

Ya kali, ada pengangguran tiap hari bangun siang. Kerjaannya makan, tidur, nonton TV sepanjang hari. Terus tiba-tiba ada telpon panggilan interview di PT. X tersebut. Itu sih ngarep! Atau cuma mimpi! Bisa jadi sih, kalau kakek moyangnya yang punya PT.X tadi.

Atau ingin jadi penulis sukses, tetapi kerjaannya tiap hari nggak pernah mau coba untuk nulis. Sibuk nyari alibi yang akhirnya bikin gak jadi-jadi nulis. Mempelajari karya orang lain, juga males. Jangan kaget lah, kalau jadi penulis sukses selamanya cuma akan jadi mimpi buatmu. Nah loh, nggak mau kan?

#

Inspirasi lainnya tentang takdir saya dapat dari salah satu kata-kata motivasinya Pak Matip Teguh. Tadi sudah coba browsing tapi nggak ketemu lagi tulisan lengkapnya. Cuma saya simpulkan jadi begini : “Tuhan selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. Jika sesuatu yang buruk terjadi, pastinya itu bukan rencana Tuhan.”

Kalau untuk menjaga prasangka terhadap sesama, mungkin saya masih nawar-nawar. Sebab, nggak jarang kejadiannya, sudah percaya, positive thinking, ehhh ternyata malah dikecewain. Jadi ada unsur ‘kehati-hatian’ lah kalau ke sesama manusia. Tapi bagi saya, senantiasa berbaik sangka terhadap SEGALA KETETAPAN ALLAH itu harga mati! Kan Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Apa jadinya kita kalau nekat su’udzon sama Pemilik Semesta?! Rugi banget! Sudah hati jadi hitam penuh noda, Allah juga tidak ridha. Hidup berkah makin jauh aja untuk direngkuh! Naudzubillahimindzalik!

Yakinlah, bahwa ketetapan awal Allah bagi kita semua pasti sesuatu yang baik. Pasti! Namun, ada kalanya kesabaran kita diuji. Ada masanya pula, kita khilaf. Seharusnya jalan lurus terus ke depan, kita justru serong sana-sini, belok kanan belok kiri. Bahkan justru balik kanan atau mundur. Ya jangan heran deh, kalau rencana awal Allah yang baik tadi, harusnya bisa didapat lebih cepat, jadinya malah tertunda atau bahkan dibatalkan sekalian..

Well … Sekian tulisan saya tentang takdir malam ini. Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua yaa ^^.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin 🙂