Ikhlas Yang Berbuah Indah

0
179
berbuat ikhlas

Oleh : Indri Novia Miranti

Ikhlas dari sudut bahasa adalah bersih dan tidak bercampur.
Hakikat ikhlas ialah keinginan seseorang melaksanakan segala amalannya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah s.w.t.

Sebagaimana tertuang dalam firman Allah, yang artinya :
“Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.Al-Bayyinah: 5)

#Ibuku mengajar dengan ikhlas#

Kisah ini saya ambil dari pengalaman ibu. Beliau adalah seorang guru SD.

Di awal-awal masa mengajarnya ibu terkadang tidak menerima gaji. Statusnya sebagai guru honorerlah yang membuatnya hanya mendapat upah jika ada dana BOS yang cair.

Namun, semangat beliau untuk mendidik anak muridnya tidak pernah luntur. Buktinya, ia tetap pergi mengajar meski dengan perbekalan seadanya dan gaji yang tak seberapa. Bahkan terkadang tidak ada sama sekali honor yang didapat alias NIHIL.

Tapi apakah ibu putus asa? Tidak. Ia coba menjalankan profesinya dengan IKHLAS.

Ia hanya berharap anak didiknya bisa mendapatkan pengajaran yang optimal.

Meski terkadang ia harus menjadi guru plus-plus. YA! Guru badal (pengganti) jika ada Guru PNS lain yang berhalangan hadir. Itupun akan siap ia lakoni.

Tak ada peluh di wajahnya. Tak ada keluh di bibirnya. Semua diniatkan semata hanya karena Allah. Selain itu, tak jarang ia pun mengadakan les tambahan baca untuk siswa-siswi yang belum begitu mahir membaca. Semua FREE, dengan tidak memungut iuran sepeser pun.

Hal itu telah ia jalani selama hampir 10 tahun. Hingga mu’jizat Allah pun datang, ketika ia diangkat menjadi guru PNS. Padahal, kala itu usia ibu sudah tak muda lagi. Ia lulus dengan murni, semurni keikhlasannya mengajar. Namun, Allah menunjukkan Kuasa-Nya. DIA pastinya tidak akan salah pilih. Terkabul sudah setiap doa dan pintanya. Serta terwujud sudah segala cita dan harapannya. Seiring tangisan yang pecah saat kabar kelulusan tiba.

Sekarang pun ibu tetap menjalankan prinsip ikhlasnya. Ia tidak mau ada gaji yang tidak beliau tenagai (bahasa sundanya: teu katanagaan). Ia tak ingin seperti “oknum guru” lainnya, yang hanya mengajar untuk formalitas saja. Sehingga mengabaikan idealisme mengajar yang sesungguhnya.

Karena pada kenyataannya, saat ini tidak sedikit Guru PNS yang datang ke sekolah hanya mengabsen dan memberi tugas. Sedangkan anak murid dibiarkan begitu saja. Mereka hanya disuruh untuk mengerjakan LKS. Tetapi gurunya hanya duduk terdiam, enggan menjelaskan ataupun membimbing langsung siswa dan siswi yang masih membutuhkan arahan.

Ibu hanya ingin gaji yang didapatkannya berkah. Karena, realitanya banyak guru PNS yang bergaji minus. Bisa jadi, dari gaya hidup yang mulai berubah. Maupun harta yang didapat belum berkah. Karena, bukan terletak dari besar-kecilnya penghasilan yang di dapat. Namun, dari bagaimana cara kita mengelola, sehingga uang yang diperoleh pun CUKUP untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini telah disiratkan Allah dalam firman-Nya, yang artinya: “dan bahwasanya Dia yang Memberikan Kekayaan dan memberikan Kecukupan.” (QS. An-Najm: 48)

Terima kasih Ibu, engkau telah memberikan teladan indah bagi kami putra-putrimu. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat dan karunia-Nya untukmu. Dan Terimalah semuanya sebagai buah terindah dari keikhlasanmu, IBU.

Di dalam Madarij As-Salikin, jilid 2, halaman 90 disebutkan juga, bahwa:” Ikhlas itu membersihkan amal dari hal-hal yang dapat menjadikannya buruk.”

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa ikhlas adalah beramal semata-mata hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan di dalamnya tidak ada unsur riya`, tidak ingin dikenal dan tidak mengharapkan balasan keduniaan yang hanya bersifat sementara dan tidak dibuat-buat. Akan tetapi, hanya mengharapkan pahala dari Allah s.w.t. dan takut akan azab-Nya serta bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya.

Allah menyuruh manusia supaya ikhlas dalam segala hal. DIA pun berfirman,yang artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepadamu (wahai Muhammad) dengan membawa kebenaran; oleh karena itu hendaklah engkau menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat dan bawaanmu kepada-Nya.”

“Ingatlah! (Hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala bentuk syirik)…” (QS. Az-Zumar: 2-3)

“Katakanlah, Sesungguhnya shalatku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.”

“ Tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan yang demikian saja aku diperintahkan, dan aku (di antara seluruh umatku) adalah orang Islam yang awal pertama (yang berserah diri kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya)…” (QS. Al-An’am: 162-163)

#Beramallah dengan ikhlas dan benar

Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Ada yang paling ikhlas dan paling benar.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abi Ya’la, apa maksud dari paling ikhlas dan yang paling benar?” Ia menjawab,”Jika suatu amalan tersebut tidak diterima. Apabila amalan itu benar akan tetapi tidak ikhlas, maka amalan ini juga tidak diterima. Sehingga ia berbuat sesuatu amal yang benar dan ikhlas. Orang yang ikhlas adalah beramal karena Allah dan amalan yang benar adalah amalan yang sesuai dengan sunnah Nabi s.a.w.” (lihat Majmu’ Fatawa Ibn Baz. Jilid: 1, hlm: 349, dan jilid: 4, hlm: 229)

Maka inti dari Islam adalah ikhlas dan beramal karena Allah. Adapun ihsan adalah mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasul bersabda: “Ada tiga hal yang tidak bisa merusak hati muslim, yaitu ikhlas dalam beramal hanya karena Allah, memberikan nasehat kepada penguasa dan persatuan umat muslim. (Jika demikian) dakwah mereka akan diikuti dari belakangnya.” (Lihat niat dan pengaruhnya di dalam hukum syara’, karya Dr. Shaleh bin Ghanim as-Sadlani. Jilid: 1, hlm: 151)

Keikhlasan sejatinya, adalah amalan batin yang tersembunyi di balik hati setiap manusia. Tidak ada yang pernah tahu berapa besar nilai ikhlas dari amal seseorang. Cukuplah hanya Allah dan ia yang mengetahuinya. Dengan ikhlas, segala sesuatu pun akan indah pada waktunya, In Syaa Allah.

“Dan tidak ada yang lebih baik agamanya dari orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah (dengan ikhlas)…” (QS. An-Nisa`: 125)