Antara Waliyullah dan Paranormal

0
440
wali

WahidNews, Secara bahasa wali adalah kebalikan dari ‘aduw, musuh. Jadi bisa berarti sahabat, kawan atau kekasih. Waliyullah secara umum diartikan sebagai kekasih Allah. Menurut istilah wali mempunyai dua pengertian. Pertama, orang yang dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT. Seperti yang diterangkan di QS. Al A’raf: 196
“sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang shaleh

Kedua, orang yang beriman kepada Allah dan tidak ada ketakutan dalam dirinya selain takutnya pada Allah. Sikap takut diikuti dengan ketaqwaan pada-Nya, menjalankan segala perintah dan menjauhi larang-larangan-Nya. Seperti diterangkan dalam QS. Yunus: 62-63.
“ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”.

Seandainya ada orang melanggar syara’ tapi mengaku sebagai wali atau dianggap sebagai wali, jelas dia adalah orang yang menipu atau tertipu. Mengutip dari pendapat Gus Mus (Kyai Musthofa Bisri), tanda-tanda wali Allah SWT itu ada tiga:
a.Himmah, yaitu seluruh perhatiannya hanya kepada Allah SWT
b.Tujuannya hanya kepada Allah SWT
c.Kesibukannya hanya kepada Allah SWT

Tanda-tanda lain dari wali Allah adalah, ia tidak pernah menganggap dirinya lebih besar daripada orang lain, ia tidak memperdulikan walaupun dianggap kecil oleh manusia namun ia khawatir jika kedudukannya kecil dihadapan Allah SWT.
Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Buchori Rasulullah SAW bersabda:
انّ اللّه تعالى قال: من عادى لي وليّا فقد أذنته باالحرب وما تقرّب إلي عبدي بشيئ أحبّ إليّ ممّا افترضته عليه ولايزال عبدي يتقرّب إليّ باالنّوافل حتّى أحبّه فإذا أحببته كنت سمعه الّذي يسمع به وبصره الّذي يبصر به ويده الّتي يبطش بها ورجله الّتى يمشي بهاروإن سألني لأعطيينّه وإن استعاذني لأعيذنّه
“Allah SWT telah berfirman: barang siapa yang memusuhi wali-wali-Ku maka Aku benar-benar mengumumkannya perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak berdekat-dekat , taqarub kepada-Ku dengan sesutau yang lebih Aku sukai melebihi apa yang telah Aku fardlukan kepadanya. Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekat-dekat kepada-Ku dengan melaksanakan kesunahan-kesunahan sampai Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka akulah pendengarnya dengan apa yang ia dengar. Akulah penglihatannya dengan apa yang ia lihat. Akulah tangannya dengan apa ia memukul. Akulah kakinya dengan apa ia berjalan. Dan jika ia meminta pada-Ku aku akan memberinya, jika ia meminta perlindungan pada-Ku Aku akan melindunginya (HR. Imam Bukhari)”

Seseorang bisa saja mempunyai ilmu linuwih, ilmu kanuragan, namun tidak lantas ia bisa disebut wali. Sebab paranormal, dukun, tukang sulap juga dapat melakukan hal-hal yang sifatnya di luar kebiasaan namun ia bukanlah wali. Wali dalam kesehariannya tidak menampakkan dirinya sebagai wali, namun ia tetap bersikap layaknya masyarakat umum. Sebenarnya yang mampu mengetahui kewalian seseorang hanya wali, bukan masyarakat awam. Namun setidaknya kita sebagai masyarakat awam mengetahui tanda-tanda kewalian dari apa yang bisa kita pelajari. Kewalian tidak diukur oleh seberapa nyentriknya pakaian atau keanehan yang bermacam-macam, melainkan dari kedekatan dan ketaqwaan-Nya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam

Ditulis Oleh : Sarah Ufaira