Agar Amal Tak Sia-Sia

0
294
beribadah

Oleh: Rina Perangin-Angin

Saat ini, banyak sekali saudara-saudara kita yang beribadah tanpa ilmu. Melakukan amalan inilah, ibadah itulah, yang dia sendiri tak tau apa dalilnya. Padahal Allah telah menegaskan dalam surah Al-Isra ayat 36, “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak kamu ketahui kebenarannya, karena penglihatan, pendengaran akan dimintai pertanggung jawabannya.”

Ayat tersebut seharusnya sudah cukup membuat kita sadar bahwa apapun yang kita lakukan harus ada dasarnya. Itulah yang membedakan kita dengan orang kafir. Kita bertindak dengan dasar dalil, sedangkan mereka dengan hawa nafsu. Dan yakinlah, apapun yang tidak didasari dalil akan mudah sekali setan ikut andil di dalamnya.

Lalu, bagaimana cara agar amalan kita tak tertolak? Ada dua syarat agar diterima suatu amalan, yaitu niatnya ikhlas dan caranya benar.

Niat merupakan pangkal dari ibadah. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa amal bergantung pada niat dan kita hanya menerima apa yang kita niatkan. Misalnya, kita beribadah karena ingin mendapat pujian orang lain, maka kita akan mendapat pujian tersebut. Jika kita beribadah karena ingin mendekati wanita, maka kita akan mendapatkannya. Namun ingat, kita hanya mendapatkan itu saja. Sedangkan pahala?? Sungguh tak akan kita dapatkan. Atau contoh lain, seorang ustadz yang mengisi ceramah dengan tujuan utama untuk mendapatkan uang, maka dia hanya akan mendapatkan sesuai yang diniatkannya. Tetapi pahalanya? Dia tidak dapat! Itu mengapa niat yang ikhlas menjadi penting diterima atau ditolak suatu amalan. Sudah seharusnya, seluruh ibadah kita hanya diniatkan untuk meraih ridha Allah semata. Tidak ada iming-iming lain.

Selanjutnya, bila niat kita sudah ikhlas karena Allah, maka langkah berikutnya adalah melakukan ibadah tersebut dengan cara yang benar. Di sinilah letak butuhnya kita terhadap ilmu. Untuk mengetahui bagaimana melakukan ibadah yang sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Jika tak berilmu, bagaimana kita mengetahui apa itu shalat, cara pelaksanaannya, atau yang lain-lain???

Misalnya, si Abdul sudah ikhlas ingin beribadah kepada Allah. Lalu dia shalat Maghrib empat rakaat. Apakah ibadahnya diterima?? Jelas tidak! Sebab caranya salah. Caranya shalat tidak mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Atau contoh lain, si B niatnya ikhlas menolong fakir miskin. Dia melakukan untuk memenuhi perintah Allah dalam hal tolong menolong. Ia merampok bank dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Apa dia mendapat pahala? Justru dia mendapat dosa karena merampok, mengambil harta yang bukan haknya. Harta yang diberikannya kepada fakir miskin berstatus haram. Lalu pahalanya? Tidak dapat!

Ilustrasi sederhana di atas menggambarkan bahwa yang harusnya ibadah justru bisa menjadi dosa bila niatnya tidak ikhlas atau caranya yang tidak benar.

Apa sebenarnya standar ikhlas itu sendiri? Sebagian masyarakat berpikir bahwa ketika beribadah karena mengharapkan surga, atau takut neraka, maka tidak bisa disebut ikhlas. Ibadah haruslah bebas dari keinginan surga dan neraka semata. Benarkah?

Menutut Ibnu Taimiyah, orang yang beribadah karena takut pada neraka saja disebut Haruri, itu salah. Orang yang beribadah karena ingin masuk surga saja disebut Murji, itu juga salah. Orang yang beribadah karena cinta itulah zindiq, dan itu juga salah. Beribadah harus karena mencintai dan mengharap ridha Allah, baru kemudian belindung kepada-Nya karena takut azab neraka dan berharap kepada-Nya agar dimasukkan ke dalam surga. Inilah yang di sebuat ikhlas yang sempurna.

Beribadah hanya mengharap surga tanpa mengharap ridha Allah adalah hal yang tidak diperbolehkan. Demikian pula jika kita hanya meminta dibebaskan dari siksa neraka, namun tak pernah mengharap ridha Allah, itu pun tidak diperkenankan. Mengharap ridha Allah adalah tujuan utama kita, selanjutnya memohon agar dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari siksa neraka. Ini jelas membuktikan bahwa allah juga memotivasi kita dengan surga dan mengancam kita dengan neraka.

Jadi intinya, lalukanlah setiap ibadah dengan niat ikhlas dan cara yang benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Dan dikatakan ikhlas ketika kita melakukannya karena mencintai dan mengharap ridha Allah. Insya Allah, kita semua bisa dan Allah yang akan memudahkan. Aamiin

Incoming search terms: